4 KOTA, 4 KEDAI KOPI DAN BERAGAM CARA HADAPI PANDEMI

Industri kopi mungkin adalah satu dari banyaknya industri yang terhempas keras pandemi. Namun bukan berarti para penggiatnya tak bisa bertahan. Mereka tak tergulung badai namun mencoba memahami gelombang.

DARI banyak kedai kopi yang memilih tutup sementara, ada beberapa kedai kopi yang dengan tangguh bertahan di tengah badai Covid-19. Mereka berjuang dengan kreativitas tanpa batas dan beradaptasi dengan keadaan. Dari sedikit yang bertahan itu, saya beruntung bisa mengobrol kepada keempat teman yang mewakili 4 kota yang ada di Indonesia. Terima kasih telah mau berbagi di Majalah Otten, Harris, Della, Ary dan Michelle! Semoga pandemi berlalu secepat teguk kopi!

Mari sama-sama simak cara keempat kedai kopi ini bertahan!

HARRIS HARTANO

Coffeenatics, Medan

Harris Hartanto, Coffeenatics, Medan

“Pada 22 Maret 2020 Coffeenatics memodifikasi beberapa cara kerja dan SOP sesuai dengan anjuran pemerintah setempat dan WHO. Kami menganjurkan untuk take away dan bekerja sama dengan aplikasi online. Selain itu juga memodifikasi packaging take away agar lebih aman dan higenis. Tak hanya itu, Coffeenatics juga menganjurkan komunitasnya untuk #SeduhDiRumah dengan berbagi tutorial seduh yang disampaikan di media sosial. Coffeenatics pun mengadakan kegiatan sosial bertema “Send Coffee for Nurse & Doctor” dan #CoffenaticsPeduli karena di tengah pandemi semua orang butuh semangat dan kami mau menjadi bagian penyemangat itu! Selain itu agar bisa bertahan kita semua harus saling mendukung selaku sesama pebisnis yang bergerak di industri kopi. Saling berbagi pengetahuan dan informasi. Mencari solusi bersama-sama agar industri ini berjalan baik meski di tengah pandemi.”

DELLA MIFTI

Libertad Union, Jakarta

Della Mifti, Libertad Union, Jakarta

 “Pandemi ini berefek cukup besar di industri kopi kita. Semua kedai kopi pasti mengalami pendapatan yang turun drastis. Dan kami pun ikut mengencangkan ikat pinggang sambil berstrategi di situasi ini. Aku pikir yang bisa bertahan adalah mereka (kedai kopi) yang bisa beradaptasi dengan cepat. Pandemi adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Kita tidak tahu kapan ini berakhir. Yang bisa kita lakukan adalah mengikuti pola dan sejalan dengan kebijakan pemerintah. Karena tidak bisa berkumpul dan melayani di kedai kopi, maka kami melayani mereka yang sedang di rumah. Buat produk-produk praktis. Produk yang tidak ribet dan bisa dinikamti secara sederhana dengan alat kopi yang ada di rumah. Kami membuat produk siap minum untuk mereka yang tak terbiasa seduh kopi di rumah. Jujur ini di luar kebiasaan karena sebelumnya kita tak pernah berpikir bakalan bikin kedai kopi untuk orang-orang di rumah. Tapi harus beradaptasi agar bisa bertahan.”

ARTHUR ARY OWYONG

Lalito Coffee & Bar, Padang

Arthur Ary Owyong, Lalito Coffee & Bar, Padang

 “Sama seperti kedai kopi lainnya, kami juga mengalami penuruan pendapatan yang cukup signifikan. Tapi kami tetap bertahan secara mental dan terus berjuang sebisa mungkin agar bisa bertahan menghadapi pandemi ini. Secara grafik penjualan memang masih ada pergerakan dari produk-produk andalan kami tapi tentu tidak bisa menutup cost. Yang paling bisa dilakukan untuk bertahan adalah senantiasa menebar kebaikan dan positive vibes. Kami juga lebih genjar memasarkan produk-produk seperti roasted beans, iced white seperti kopi botolan untuk siapa saja yang ingin menikmati kopi di rumah. Kalau untuk mengembalikan omset kembali normal dalam waktu dekat takkan mungkin. Namun ada hal-hal lain yang bisa didapat selain uang salah satunya menebar kebaikan. Kami bergerak untuk berbagi kepada tim medis, polisi, ojol dan siapa saja yang berada di garda depan. Kami berbagi kopi gratis untuk mereka dan reaksi mereka membuat segalanya terbayarkan. Pandemi akan berlalu, tapi sementara masih bergejolak sebaiknya kita memang saling dukung agar sama-sama bertahan.”

 MICHELLE ANINDYA

Seniman Coffee, Ubud

Michelle Anidya, Seniman Coffee, Ubud

“Untuk bertahan di pandemi, kita harus tetap berkreasi. Sekarang ini Ubud terlihat seperti 10 tahun yang lalu ketika masih baru memulai. Meskipun agak membuat haru, di sini lain ini adalah momen untuk kembali ke esensi kita: siapa kita, apa kekuatan kita, apa nilai kita. Di saat seperti ini memang mudah untuk terjebak pada rasa panik dan kehilangan identitas. Jadi oleh karena itu kita tetap melakukan hal yang perlu dilakukan seperti penjualan online, penjualan di market place, delivery online dan lain-lain. Selain itu kami juga melihat kekuatan bisnis kami dan kemudian mengolahnya. Kami memelajari kebutuhan orang-orang yang tinggal di rumah. Juga kita mencoba sesuatu yang baru seperti Cyber Barista yaitu orang-orang bisa mendapatkan workshop 30 menit secara private langsung dengan barista kami. Menurut kami ini adalah momen saatnya kita berkreasi. Karena selama ini kita terlalu sibuk dan tidak bisa mempelajari banyak hal. Di situasi saat ini waktu kita lebih banyak. Kita bisa bereksperimen dan berkreasi dan mengantisipasi banyak hal salah satunya pasar yang mungkin berubah di masa depan.”

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.