MENGUNJUNGI KEBUN KOPI DI KAYU ARO, KERINCI

Kopi-kopi dari Kerinci tergolong populer selama beberapa tahun terakhir, terutama setelah kopi daerah ini menang beberapa kali di berbagai festival kopi Indonesia.

MENDATANGI langsung perkebunan yang konon kopinya menjadi idola baru di skena kopi nusantara adalah semacam penziarahan ke “tanah surga”. Menggembirakan—dan sekaligus menyulut penasaran kian membara—untuk melihat sendiri bagaimana daerah yang kopi-kopinya katanya memiliki rasa ajaib itu merupa.

Perjalanan single origin kali ini bertepatan dengan penunaian Program 10.000 Pohon Kopi untuk Petani Indonesia dari Otten Coffee yang telah selesai beberapa bulan lalu. Setelah Ciwidey dan Humbang Hasundutan, tujuan berikutnya adalah Kerinci. Mengakses kota kecil di ujung provinsi Jambi ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan penerbangan ke bandara Depati Parbo di kota Sungai Penuh (sekitar 1 jam dari Kayu aro), atau menempuh jalur darat, sekitar 8 jam yang penuh petualangan, dari kota Padang. (Kami memilih opsi kedua).

Tiba di Kayu Aro, kami disambut hujan rintik-rintik dan langit mendung yang menggantung. Udaranya sejuk—dingin dan menyegarkan—terutama bagi orang-orang yang selalu terpapar polusi kota seperti kami. Selama beberapa hari ke depan, saya mendapat kesimpulan bahwa cuaca di Kayu Aro memang cenderung seperti ini: tidak pernah benar-benar panas (matahari tampaknya tak benar-benar serius mengeluarkan teriknya di sini), di siang hari suhunya tak pernah lebih dari 24°C, dan dalam satu hari umumnya selalu diwarnai entah dengan hujan rintik-rintik atau kabut turun. Singkatnya, Kayu Aro memiliki iklim mikro, yang oleh banyak ahli pertanian dianggap salah satu faktor paling ideal untuk menanam pohon kopi. Satu jawaban mengapa kopi-kopi dari Kerinci cenderung memiliki karakter dan rasa luar biasa sepertinya telah terjawab.

Tujuan pertama di kota kecil ini adalah mendatangi lokasi pembibitan yang berada di Desa N1, Kecamatan Gunung Labu, Kayu Aro. Saya mengecek aplikasi pendeteksi ketinggian di ponsel dan mendapati bahwa daerah ini berada di ketinggian 1,640 mdpl. Padahal titik ini masih tergolong “paling bawah”, kami bahkan belum mendatangi kebun kopi yang letaknya di bawah kaki Gunung Kerinci.

Pak Sudi mencangkul dengan memberi jarak tertentu pada bibit kopi yang akan ditanam.
Menanam bibit kopi.

Di lokasi ini, Tim Otten Coffee menyerahkan sekitar 250 bibit kopi varietas Andung Sari. Kami dibantu oleh Pak Iskandar, processor pembina yang membawahi 75 petani di Kerinci dan sekaligus koordinator dari 3 processor kecil lainnya di Kayu Aro. (Namun, ia lebih suka menyebut dirinya “rekanan petani”). Pak Sudi, salah satu pionir petani kopi di Kayu Aro yang juga berada di bawah binaan Pak Iskandar mengajari Bernice dan saya bagaimana proses menanam kopi, mulai dari cara mencangkul tanah yang benar, mengatur jarak tanaman, dan hal-hal sederhana seputar pertanian lainnya yang ternyata tidak semudah yang dikira selama ini. (Mencangkul dengan benar itu tidak gampang, saudara-saudara!)

Di Kayu Aro, varietas yang umum ditanam adalah jenis Andung Sari. Namun, para petani di daerah ini lebih suka menamakan varietas itu dengan sebutan mereka sendiri: Mekar Sari. “Kopi ini kan ditanamnya di Kerinci, bukan di Jawa (yang konon merupakan asal varietas ini—red). Lalu, walaupun bibitnya kita ambil dari Banyuwangi, tapi pohon kopi ini juga bermutasi secara alami dengan kondisi tanah di sini, dengan kandungan mineralnya. Jadi saya percaya ini varietas baru dan kami lebih suka menyebutnya Mekar Sari,” jawab Pak Sudi saat saya menanyakan alasannya. Meski demikian, para petani di daerah Kayu Aro hanya mengenal dua “sub-varietas” untuk menyebut pohon-pohon kopi yang mereka tanam tersebut, yaitu Pucuk Merah dan Pucuk Hijau. Sudah bisa ditebak, kedua nama sederhana ini diambil dari tampilan warna daun yang ada di pucuk pohon kopi masing-masing.

Lokasi pembibitan dan perkebunan kopi yang ada di Desa N1.
Tempat pengolahan di rumah Pak Guru.

Dari lokasi pembibitan, tujuan berikutnya adalah “washing station” milik Pak Sudi dan—processor binaan Pak Iskandar yang lebih akrab dipanggil—Pak Guru. Di kedua tempat pengolahan berbeda ini, semua kopi yang telah dipanen diolah dengan proses yang sama, yaitu semi wash. Kondisi cuaca dan iklim di Kayu Aro yang sangat sejuk tidak memungkinkan untuk melakukan proses natural atau honey. Rata-rata gabah yang diproses di tempat ini masih menyisakan kadar air cukup tinggi, sekitar 40-45%, sehingga seringkali harus dibawa ke kota Sungai Penuh yang memiliki ketinggian sekitar 800 mpdl dan bersuhu lebih hangat untuk dikeringkan lebih lanjut.

Oleh Pak Guru, kami kemudian diajak main ke kebun kopinya yang berada di kaki Gunung Kerinci. Rinai-rinai hujan turun begitu kami tiba. Kabut tipis merayapi kaki Gunung Kerinci di kejauhan. Udaranya benar-benar segar. Saya menghirup oksigen dalam-dalam, menikmatinya. Daerah ini sudah berada di ketinggian 1700-1800 mdpl, di kawasan pegunungan yang konon sangat subur dan sangat kaya kandungan mineral tanahnya. Ha! Jawaban berikutnya mengapa kopi Kerinci memiliki karakter rasa luar biasa.

Kebun kopi yang berada dekat kaki Gunung Kerinci.
Terima kasih kepada para petani yang telah bekerja keras menghasilkan kopi-kopi luar biasa!

Sebagai apresiasi atas kerja keras para petani memberikan hasil kopi-kopi terbaik dan sekaligus untuk menutup Program 10.000 Pohon Kopi untuk Petani Indonesia yang telah selesai, Tim Otten Coffee menyerahkan placard penghargaan “Benih untuk Bumi” kepada para petani Kerinci yang diwakili oleh Pak Iskandar.

Sampai bertemu di perjalanan ke kebun kopi berikutnya!

 


Foto-foto oleh Randi Arsypapa Yunus. Terima kasih kepada Pak Iskandar, Tim Rimbun Coffee, dan segenap para petani di Kayu Aro yang membantu selama perjalanan single origin ini.

 

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.