MENIKMATI SEPOTONG YANGON DI BAR BOON (CAFÉ)

Kedai kopi ini seolah mesin pendingin di tengah kota Yangon yang gerah dan padat.

“WELCOME!” sapa baristanya sambil tersenyum ketika saya dan Takashi, teman seperjalanan, masuk ke kedai ini. Kami yang masing-masing menyandang backpack besar di punggung barangkali menjadi petunjuk yang memberi tahu bahwa kami adalah turis yang sedang piknik.

Baru saja tiba di Yangon setelah sebelumnya melewati perjalanan cukup panjang memang menjadi alasan yang tepat untuk mencari kafein, apalagi suhu kota Yangon saat itu juga lumayan bikin energi makin kesedot. Teriknya menusuk kayak sampai ke sum-sum tulang.

Takashi dan saya memilih duduk sekenanya saja, yang penting bisa ngadem sambil nyantai. Kami memilih ruang bagian dalam, dekat dengan bar, yang setelah saya sadari ternyata cukup cozy. Meski agak sempit karena mejanya disusun berdekatan satu sama lain, tapi suasananya menyenangkan karena mereka menggantung lampu-lampu bercahaya lembut di atasnya. Plus, desain grafis minimalis di beberapa sisi dinding membuat interiornya semakin terkesan kekinian, agak kontras dengan pemandangan bangunan kota Yangon di depan yang seperti masih terjebak di era 70-an.

bar-boon-cafe
Bar dan interior dalam kedai

“Ya, mau order apa?” tanya baristanya ramah ketika saya mendatangi meja bar. “Cappuccino, tapi kopi apa yang spesial dari kedai ini?” tanya saya balik. Ia lalu dengan sigap menjelaskan bahwa Bar Boon sebenarnya punya dua “jenis” kopi. Yang satu adalah kopi dari roasting company asal Italia yang-kalian-pasti-tahu-apa, satu lagi adalah single origin dari Myanmar utara yang benar-benar produksi sendiri. “Oh, saya pesan yang itu saja,” jawab saya yang diikuti anggukan cepat barista tadi. “Good choice!” kali ini senyumnya makin lebar. “Biji kopi dari Myanmar utara ini sebenarnya tidak kalah kualitasnya dibandingkan kopi yang itu, cuma kebanyakan orang sudah kemakan merek saja,” terangnya lagi sambil mulai meracik pesanan saya. Saya hanya tertawa kecil, ya sebenarnya karena pengin mencoba apa yang khas dari daerah itu juga sih. Kalau ujung-ujungnya cuma minum kopi dari franchise luar negeri, di Indonesia juga bisa.

“Saya foto tempatnya, ya?” saya minta ijin. “Oh, yes. Please,” jawabnya. Satu-dua staff café seolah mengerti dengan beranjak keluar dari frame ketika saya mengarahkan kamera ke beberapa sudut kedai. Sambil memotret, saya mulai melihat-lihat isi kedainya yang mulai ramai dimasuki bule-bule.

interior-bar-boon
Satu sisi di bagian dalam
interior-luar-bar-boon
Bagian luar sekaligus area untuk smoking

Bar Boon yang baru-baru ini mendapat predikat kedai kopi terbaik kedua se-Yangon mendandani kedainya dengan tema industrial, ya mirip-mirip kedai kopi kebanyakanlah. Namun uniknya, masing-masing sisi kedai memiliki tampilan berbeda. Jika di sisi bagian dalam terkesan urban dan rustic, di luar mereka membuat tampilannya senyaman mungkin. Ada satu bench bersofa panjang yang kelihatannya cukup empuk untuk diduduki lama-lama, sambil ngopi sekalian cuci mata atau people watching.

Capek ah. Saya kembali ke tempat duduk, Takashi sudah duluan menyeruput jus pesanannya. Tak lama, cappuccino saya datang. Yep, cappuccino yang espresso-nya memakai single origin dari Myanmar utara itu. Pas dicoba, rasanya lebih mendekati latte ketimbang cappuccino. Apa mungkin karena single origin-nya?

kopi-bar-boon
single origin dari Myanmar yang bisa dipesan juga
kopi-single-origin-bar-boon
Kalau mau dibawa pulang, mereka juga udah menyiapkan “kemasan oleh-oleh”-nya.
bar-boon-kyat
Jadi, jangan bayar pake USD apalagi IDR ya di sini. Gak bakal diterima. Haha…

Selain kopi dan camilan, Bar Boon ternyata menyediakan juga makanan untuk makan siang mulai dari menu-menu panini, toastie, sampai wraps dengan campuran daging. Harga menu kopinya cukup standar, kalau dikonversi ke Rupiah sekitar 30 ribuan. Menu-menu makan siangnya yang agak lumayan, setidaknya minimal 80 ribuan sekali makan. Semua harga menu di Bar Boon ini dicantumkan dalam US Dollars, tapi pas bayarnya mereka cuma menerima Myanmar Kyat. Nah, bingung kan? Haha…

Mengingat tempatnya yang dekat dengan beberapa landmark dan pusat kota, nggak berlebihan juga kalau Bar Boon dijadikan tempat persinggahan buat ngadem. Plus, kalau nggak terbiasa makan dengan rasa-rasa aneh di luar kuliner Indonesia, Bar Boon bisa jadi tempat oke untuk nyari aman.

 

BAR BOON | Dutch Deli – Espresso Bar

380, FMI Parkson, Bogyoke Aung San Road,

Pabedan Township, Yangon

 

Opening hours:

Setiap hari,  08:00 – 21:00

 

single-origin kopi

272 total views, 11 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.