MENJELAJAHI TANAH GAYO (BAGIAN 1): MENANDANGI KEBUN KOPI DI ACEH TENGAH

Gayo adalah tanah surga bagi pencinta kopi. Jika ada satu daerah yang pantas menjadi perwakilan “provinsi kopi” di Indonesia, menurut saya, itu adalah Dataran Tinggi Gayo.

NAMA kopi Gayo seharum aroma kopinya. Selama bertahun-tahun, kopi-kopi dari Dataran Tinggi ini (yang meliputi tiga Kabupaten, yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues) menjadi favorit banyak Negara karena intensitas rasa dan karakternya. Terutama setelah kopi dari daerah ini menang dengan skor cupping tertinggi pada event Lelang Kopi Spesialti pertama yang diselenggarakan oleh SCAI pada 2010 lalu di Bali. Konon, akibat membludaknya permintaan akan kopi-kopi Gayo yang tidak mengimbangi jumlah pasokan persediaannya, banyak eksportir kemudian mencari kopi-kopi dari daerah lain bahkan hingga ke luar pulau untuk dilabeli dan dijual dengan nama “kopi Gayo”. (Ir. Khalid, peneliti dari Balai Penelitian Kopi sekaligus Kepala Badan Percobaan Kopi Gayo, di suatu kesempatan saat saya bertemu dengannya menyebut bahwa permintaan akan kopi-kopi Gayo ini jumlahnya bahkan bisa ribuan ton per bulan).

Sebegitu fantastisnya reputasi kopi Gayo ini sehingga membuat saya sangat bersemangat mengelilingi dua Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah beberapa waktu lalu. Di Dataran Tinggi Gayo, pohon-pohon kopi ditanam hampir sepanjang jalan, apalagi di sekeliling bukit. Kebun kopi dimana-mana. Di kota Takengon, tumbuhan kopi terkadang ditanam di pekarangan rumah seolah tanaman hias. Kedai-kedai kopi berada dalam jarak berdekatan, bahkan ada yang letaknya berhadap-hadapan. Roastery house—dalam arti sesungguhnya: “tempat yang benar-benar hanya berfungsi untuk menyangrai kopi” dan tidak berafiliasi dengan coffee shop seperti yang lazim selama ini—adalah hal yang kerap ditemui. Penduduknya, sepengamatan saya, meminum kopi sejak bangun pagi hingga menjelang tengah malam. (Dulu, seorang tamu dari Aceh mengatakan bahwa ia bisa menghabiskan minimal 8 gelas kopi kental sehari, seperti air putih saja. Saat itu saya mengira ia bercanda, tapi setelah mendatangi langsung daerah ini dan melihat sendiri, ternyata itu benar-benar serius). Intinya, belum pernah dalam pengalaman saya mengunjungi wilayah penghasil kopi di Indonesia sejauh ini yang daerahnya benar-benar sangat kopi seperti Gayo. Dan itu membuat saya kian antusias.

Kebun kopi di desa Alur Badak, 1500an mdpl.
Mengumpulkan ceri.

Daerah pertama yang saya kunjungi bersama teman-teman dari Otten Coffee adalah Desa Alur Badak, yang berada di Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Seperti daerah-daerah beriklim mikro lainnya, di sini hujan yang turun saat memasuki pertengahan hari pun merupakan hal biasa.

Rintik-rintik hujan mulai menemani perjalanan kami saat menapaki kebun tujuan pertama. Ketinggiannya sudah mencapai 1500an mdpl. Kabut tipis menghinggapi perbukitan di seberang. Menurut Pak Misdi Ateng, petani senior yang ikut menemani hari itu, di daerah ini masih terdapat beberapa pohon lama varietas Ateng yang usianya lebih dari tiga puluhan tahun.

Pak Ateng (bersama dengan Pak Syekh Abdullah, seorang Koordinator Petani di Alur Badak dan sekaligus anggota Koperasi Serba Usaha Sara Ate) termasuk petani pionir yang merintis lahan di desa ini pada sekitar awal 90an. Saat itu, desa ini masih berbentuk hutan belantara dan konon kawanan gajah, juga badak, masih kerap lalu lalang. (Nama Alur Badak diambil dari keadaan tempat ini yang dulunya merupakan jalur lintasan kelompok badak).

Hujan es yang turun belum lama ini membuat hasil panen di Alur Badak kali ini tidak sebanyak musim lalu.
Bercengkerama dengan para petani (Pak Syekh, Pak Ateng, Pak Hanafi) di Alur Badak sambil menunggu hujan reda.

Bibit pertama yang ditanam Pak Ateng dan teman-teman petani saat membuka lahan dulu adalah varietas Ateng, yang pohonnya sudah berada di sini sejak mereka datang. Kemungkinan besar pohon-pohon itu merupakan peninggalan Belanda mengingat wilayah Aceh Tengah adalah daerah kebun kopi pertama yang dibuka kolonialis Eropa tersebut pada 1918 silam. Namun, sejak awal tahun 2000an dan hingga saat ini, varietas yang ditanam di Alur Badak adalah Gayo 1 (G-1) yang merupakan hasil pengembangan khusus dari Balai Penelitian Kopi Gayo.

Berdasarkan keterangan Ir. Khalid, Gayo-1 merupakan varietas hasil seleksi dari komunitas Arabica Timtim. Beliau memberi analogi sederhana seperti ini: “Gayo-1 berasal dari kelompok arabica Timtim, tapi tidak semua Timtim adalah Gayo-1”. Dengan kata lain, varietas kopi Gayo-1 sudah menjadi hasil penyaringan spesifik dari kelompok tumbuhan itu, lalu dibibitkan secara khusus, dan disebut-sebut sebagai salah satu varietas unggul Arabica Gayo.

Di Alur Badak, hujan yang turun hujan saat memasuki pertengahan hari adalah hal biasa.

Hujan rintik-rintik turun semakin deras sehingga kami harus berteduh di sebuah pondok di tengah kebun milik Pak Hanafi. Tidak banyak ceri-ceri kopi yang berhasil menjadi buah panen pada musim ini. Saya melihat dalam satu petak area pohon hanya terdapat beberapa dompol ceri merah saja. Sisanya buah-buah yang masih hijau, atau seperdu kecil bunga kopi yang mulai mekar. Padahal bulan ini seharusnya memasuki gelombang kedua musim panen besar. Menurut Pak Syekh, penyebab semua kekacauan panen ini (terutama dalam lima tahun belakangan) adalah isu yang sedang menjadi topik hangat selama satu dekade terakhir: perubahan iklim.

Beberapa minggu sebelumnya, turun hujan es yang cukup signifikan di Alur Badak. Bunga-bunga kopi banyak yang berguguran. Padahal kehadiran bunga adalah pertanda bahwa pohon kopi akan segera berbuah dan karenanya dimulai pula masa panen dalam waktu dekat. Masalah lain yang juga kerap terjadi adalah cuaca panas yang juga bisa membuat bunga-bunga kopi kering dan akhirnya berguguran ke tanah. “Jadi sekarang panen tidak bisa lagi diprediksi dari bunga,” ujar Pak Syekh. “Kalau dulu lihat bunga banyak, bisa diprediksi buahnya akan lebat. Sekarang sudah nggak bisa begitu lagi.” Nah, masih menganggap perubahan iklim hanya isapan jempol?

Pak Sudirman memetik ceri merah yang terselip satu-satu di sela batang pohon.
Setiap petani setidaknya memiliki satu mesin pulper di kebunnya.
Kopi yang diolah secara semi wash.

Kebun kedua yang kami datangi di Alur Badak berjarak beberapa km dari kebun pertama. Cukup jauh sehingga harus ditempuh dengan berkendara. Ada beberapa hal menarik yang saya temui sejak awal mendatangi kebun-kebun kopi di Dataran Tinggi Gayo. Pertama, kebanyakan petani kopi di sini umumnya mengusahakan tanamannya secara organik dan tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali (sebagian besar dari mereka menggunakan ‘sampah’ kulit ceri yang telah dikupas sebagai pupuk). Bagi para petani yang bergabung dalam koperasi-koperasi, regulasi mengenai aturan organik ini bahkan jauh lebih ketat. Koperasi Serba Usaha Sara Ate yang telah mendapat dua sertifikasi Control Union dari Belanda dan Fairtrade International, misalnya. Mereka mengharuskan semua petani binaannya untuk benar-benar bebas dari penggunaan bahan kimia, fertilizer, ataupun herbisida. Ini bukan hanya berlaku pada tanaman kopi saja, tapi termasuk pula untuk wadah penampung kopi, karung penyimpanan, dan gudang kilang kopinya yang tidak boleh terdapati minyak atau zat berbau kimia lainnya. Jika ketahuan, maka keanggotaannya akan didiskualifikasi dan mereka dikeluarkan dari Koperasi. (Pada akhir 2018, Koperasi Sara Ate baru saja mendiskualifikasi 7 petani). Sebegitu disiplinnya peraturan ini tampaknya sebanding dengan kualitas dan keharuman nama kopi-kopi Gayo selama ini.

Kedua, termasuk di kebun kopi berikutnya yang saya datangi ini, setiap petani setidaknya memiliki satu mesin pulper untuk mengupas kulit ceri kopi. Menurut Pak Sudirman, petani di kebun ini, cuaca di Alur Badak yang kerap hujan di pertengahan hari membuat mereka hanya bisa mengolah kopi dengan cara semi washed saja. “Tidak memungkinkan untuk dibuat natural, atau honey,” terang Pak Sudirman. Begitu ceri-ceri selesai dipetik, saat itu juga kulitnya dikupas dengan mesin pulper. Lalu dijemur dan dikeringkan. Jadi tidak akan memberikan celah bagi ceri kopi berfermentasi lebih lama. Semakin wajar rasanya mengapa kopi-kopi Gayo memiliki rasa menakjubkan. Selain alasan utama ini, umumnya kopi yang sudah diolah dalam bentuk gabah atau “green beans setengah kering” seperti ini cenderung memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan jika mereka menjual dalam bentuk ceri merah.

Harapan petani di Alur Badak: “Semoga hasil panen di musim depan melimpah dan lebih banyak dari hari ini.” Amin.
Foto oleh Rama, driver kami yang kocak selama di Tanah Gayo.

Sejauh ini, perjalanan mengelilingi Aceh Tengah sangat mengesankan. Menemukan fakta bahwa para petani di sini benar-benar menerapkan kedisplinan tinggi dalam menanam kopi adalah hal yang mengagumkan dan saya tidak sabar untuk menanti kejutan apalagi yang diberikan negeri kopi ini. Simak kelanjutan perjalanan kami menjelajahi Tanah Gayo di bagian kedua.

___

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menggemari komik, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.