MENJELAJAHI TANAH GAYO (BAGIAN 2): ‘BERTUALANG’ KE BENER MERIAH YANG PENUH KEBUN KOPI

Di Kabupaten ini, kebun kopi berada dan tersebar dimana-mana.

PERJALANAN saya dan teman-teman ke Gayo dilanjutkan dengan sedikit “petualangan” ke Kabupaten Bener Meriah. Seperti karakteristik Tanah Gayo, di sini segala hal yang berhubungan dengan kopi berada sepanjang mata memandang. Aroma kopi menguar dari jalan-jalan, harum gongsengan kopi mengepul dari lorong-lorong. Adalah kebiasaan penduduk Bener Meriah untuk menyangrai sendiri kopi-kopi yang mereka panen di depan rumah, atau di pekarangan, sehingga wanginya semerbak di sepanjang jalan. Bahkan aromanya meruak masuk hingga ke dalam mobil kami yang sedang melaju.

Kebun kopi yang luasnya berhektar-hektar dan tertata begitu rapi acap kali bersebelahan dengan rumah penduduk. Salah satu yang menarik perhatian saya diantaranya adalah keberadaan mobil kopi keliling yang terlihat mangkal di jalur lintas Bener Meriah, di tepi bukit dimana rumah-rumah penduduk mulai berjarak satu-satu. Dan mobil-mobil kopi ini bukan hanya terlihat sekali, tapi beberapa kali. Menurut Rama, teman asli Gayo yang menemani seluruh rangkaian perjalanan kami, mobil-mobil kopi ini memang sengaja terparkir di sana karena menjual kopi untuk para pengendara yang lewat. Kebanyakan konsumennya adalah para petani yang sedang berangkat ke kebun kopi. Sisanya, para pejalan yang barangkali mendadak membutuhkan asupan kafein di perjalanan—seperti kami. Menariknya, mobil-mobil kopi keliling ini memiliki komunitas sendiri di Gayo. Komunitas mobil kopi. Sejujurnya, ini adalah hal baru untuk saya. Karena setahu saya yang kerap berkoloni secara nyentrik adalah para pencinta mobil tua atau Volkswagen.

Kebun kopi di Wih Pongas, gunung Burni Telong di kejauhan.
Ceri-ceri siap dipanen.

Selama di Bener Meriah, perjalanan kami ditemani oleh Pak Jamal, petani dari UKM Bintang Gayo. Ia tergolong muda untuk ukuran petani pada umumnya. Usianya belum sampai pertengahan 40an. Menurutnya, bertani adalah panggilan jiwa. “Anak-anak muda sekarang banyak yang malu jadi petani. Padahal bertani itu pekerjaan mulia. Kalau bukan kita yang nerusin kebun, siapa lagi?” cerita Pak Jamal saat kami menuju kebun pertama. Letaknya berada di gampong Bathin Wih Pongas, dekat dengan Gunung Burni Telong, dan berada di ketinggian 1300an mdpl.

Di sini jalurnya sedikit lebih “menantang” dibandingkan Alur Badak. Jalan setapak yang rusak beserta lubang-lubang di beberapa ruas membuat mobil yang kami kendarai harus sedikit bermanuver. Tapi rasanya terbayarkan begitu tiba. Hamparan kebun kopi yang ditanam sangat rapi lengkap dengan pohon-pohon pelindungnya terbentang luas. Gunung Burni Telong terlihat di kejauhan. Lagi-lagi, ini adalah kali pertama saya melihat perkebunan kopi yang tersusun begitu elok.

Pak Jamal.
Pak Jamal menaburkan kulit ceri sebagai pupuk.

Menurut keterangan Pak Jamal, hanya ada satu varietas saja yang ditanam di perkebunan seluas ini, yaitu varietas Ateng. Saya memastikan sekali lagi, jaga-jaga kalau saya salah dengar. Pak Jamal memberikan jawaban yang sama. Kekaguman saya akan tempat ini belum habis saat Pak Jamal memberikan keterangan yang lain. Bahwa mereka sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia atau fertilizer apapun untuk tanaman-tanaman kopinya. “Siapa yang mengajari, Pak? Ada yang memberi penyuluhankah?” tanya saya mengingat Koperasi Sara Ate di Alur Badak tempo hari memerlakukan regulasi seperti ini. Alasan Pak Jamal menambah ketakjuban berikutnya. “Enggak ada. Ya, kita sadar sendiri. Kopi ini kan nanti kita petik, lalu kita minum, dan minumannya masuk ke tubuh kita. Kalo pake bahan kimia, nanti zat-zat kimia itu juga akan masuk ke tubuh kita. Kan itu nggak bagus. Jadi lebih baik organik saja, tubuh kita pun sehat,” terang Pak Jamal. (Saya meletupkan kata wow berkali-kali dalam hati).

Sebagai pupuk, para petani menggunakan kulit-kulit ceri yang terkelupas setelah proses pengolahan. Menggenapi konsep “dari alam kembali ke alam” dan sekaligus semakin menguatkan gagasan bahwa “apapun yang ada pada pohon kopi tidak ada yang terbuang percuma, semua hasilnya bisa digunakan”.

Ibu petani memetik ceri dengan cekatan.
Ibu-ibu petani di Wih Pongas.
Hasil panen.

Saat kami datang para petani sedang memanen ceri-ceri merah yang sedang bermekaran. Hasilnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan kondisi di Alur Badak. Ibu-ibu petani memetik ceri merah dengan cekatan. “Memetiknya harus cepat, karena di sana masih banyak lagi yang mesti dipetik,” ujar Ibu Kasmiah salah satu petani, merujuk kebun kopi berhektar-hektar yang juga menanti dipanen.

Mengingat kebun-kebun di Bener Meriah luasnya berhektar-hektar dan jaraknya cukup jauh antara perkebunan yang berbeda sehingga kerap menghabiskan seharian penuh agar bisa puas mengelilingi satu kebun, maka tujuan berikutnya yang sudah direncakan untuk dikunjungi harus dilakukan keesokan hari.

Kebun kopi di Pondok Gajah cukup melimpah dengan ceri-ceri merah.
Ngopi bersama para petani di tengah kebun.

Kebun kedua yang kami datangi berada di gampong Pondok Gajah. Masuk lebih jauh ke area perbukitan dan untuk menuju tempat ini diperlukan sedikit petualangan yang, hmm, lebih “menarik” dari Wih Pongas. Mobil yang kami kendarai harus diparkir di jalan pinggir kebun, dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati setapak yang berbatu. Menuruni semacan perbukitan yang terjal dan sedikit berlumpur karena mungkin baru diterpa hujan. Melintasi pohon-pohon kopi yang ranting-ranting dan dedaunannya beberapa kali menempias kami saking lebatnya.

Di tengah kebun, para petani tampak sedang beristirahat karena saat kami datang bertepatan dengan jam makan siang. Di atas tikar yang digelar di tengah-tengah pohon kopi, ada cangkir-cangkir berisi kopi panas yang ternyata baru saja diseduh. Ada satu cerek khusus yang dibawa untuk menyeduh kopi di kebun, dimasak di atas perapian dari kayu-kayu bakar. Tradisional, sederhana, tapi minum kopi yang ditanam dan merupakan usaha sendiri secara langsung, di tengah-tengah kebun kopi yang sedang panen, rasanya nikmat sekali.

Para pekerja harus membolak-balik kopi yang sdang dijemur secara rutin.

Pada akhirnya, nikmat dan menyenangkan adalah kesimpulan yang kami dapatkan selama origin trip di Gayo. Sangat menyenangkan mengunjungi kebun-kebun kopi yang telah terintegrasi, dan bertemu petani-petani yang sudah maju sejak dalam pikiran. Perjalanan ke Tanah Gayo sungguh memberikan saya dan teman-teman bukan hanya pengalaman, tapi juga banyak pelajaran baru yang mungkin tak akan kami lupakan.

Terima kasih Gayo! Dan sampai bertemu lagi di origin trip berikutnya!

 

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menggemari komik, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.