MENYEDUH KOPI DENGAN REMPAH

Menyeduh kopi secara manual biasanya hanya memerlukan air semata. Namun, seiring dengan meningkatkan kreativitas manusia dan keinginannya merasakan sensasi baru, maka rempah dipilih sebagai tambahan seduh.

KOPI dicampur dengan rempah bukanlah sebuat barang baru. Di berbagai belahan dunia, di beragam latar kebudayaan, rempah memang selalu dipilih sebagai campuran kopi. Di Timur Tengah kopi dicampur dengan cengkeh, kapulaga, bahkan merica. Di beberapa wilayah di Indonesia, kopi dicampur dengan jahe, kayu manis bahkan pala. Namun biasanya campuran rempah ini dimasak bersama kopi atau diracik dengan cara tradisional.

Dan sekarang ini rempah-rempah tersebut diseduh dengan cara yang berbeda. Dengan metode seduh kopi manual, kopi tersebut diletakkan bersama bubuk kopi. Lalu dikucuri air dan diseduh seperti layaknya metode pour over. Air yang menetes pada rempah lalu ke kopi menghasilkan perpaduan kopi dan rempah yang clean namun memberi karakter rempah yang kadang samar kadang kentara (tergantung jenis rempah dan banyaknya rempah tersebut).

Credit : ravenbait.com

Kopi tak lagi hadir dalam cita rasanya sendiri, tetapi berpadu dengan bahan-bahan lain. Beberapa orang yang menyebut dirinya the purist mungkin akan menghujat metode seduh dengan rempah ini. Sedangkan mereka yang senang bermain-main dengan sesuatu yang baru dan di luar pakem perkopian menyeduh dengan rempah-rempah ini akan sangat menyenangkan.

Saya sendiri pernah meletakkan kayu manis di dalam dripper yang berisi bubuk kopi. Single origin yang saya gunakan kalau tidak salah memiliki notes karamel, medium body dan cokelat. Saat diseduh bersama kayu manis kopi saya ini terasa seperti samar-samar cinnamon rolls, hanya saja dalam bentuk cair. Ha-ha-ha. Unik juga!

Credit : baristocrat.com

Seorang teman yang lain pernah menyeduh kopinya dengan cengkeh, kapulaga dan lada hitam. Ada rasa ‘pedas’ yang janggal namun katanya dia mendadak sembuh dari masuk angin. Mungkin rempah yang berkhasiat itu baik dikonsumsi mereka yang sedang masuk angin? Kurang tahu juga. Tapi begitulah katanya.

Selain menyeduh dengan rempah, rupa-rupanya sudah banyak penyeduh yang menggunakan bahan lain. Seperti aneka buah-buahan. Ah untuk yang ini kita bahas di artikel berbeda ya! Selamat mencoba.

 

Foto utama dari highergroundstrading.com

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

1 Comment
  1. Mengembalikan Kejayaan Kopi Cianjur

    Dalam sejarah, kopi pertama kali ditemukan di Kaffa, Ethiopia. Dan bersebar sampai semenajung Arab pada abad ke-15. Melalui pedagang Arab kopi perlahan sampai dikenal hingga Eropa, India dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

    Pada saat itu Indonesia belum dapat menanam tanaman kopi sendiri. Karena kopi pada saat itu masih merupakan barang langka dan harganya sangat tinggi hanya kalangan bangsawan dan Belanda yang dapat menikmati kopi.

    Pada saat itu muncul ide yang memiliki peluang tinggi. Dan akhirnya orang Belanda mulai menanam kopi di daerah jajahannya. Melihat faktor cuaca dan tingkat kesuburan tanah di Indonesia, sangat cocok untuk menanam kopi.

    Mulai saat itu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menanam kopi di belahan Indonesia. Salah satunya daerah Cianjur, Jawa Barat.

    Pada tahun 1711 pengiriman pertama kopi Jawa ke Belanda 405 kilogram. Dari Cianjur sendiri menyetor sebanyak 45 kilogram yang dibeli oleh Belanda seharga 50 gulden per pikul. Kopi dari seluruh Pulau jawa di jual sangat tinggi dikarenakan kualitas kopi yang sangat baik. Dengan melihat keuntungan sangat baik VOC membuka banyak perkebunan kopi di Cianjur barat. Pada sekitar tahun 1720-an, VOC menjadi penyalur kopi ¾ dunia dari jumlah tersebut sebagian besar dari Kabupaten Cianjur.

    Dewasa kini, penanaman kopi di Cianjur tumbuh pesat. Hingga dapat di klaim sebagai kopi dengan varietas baru di Indonesia. Kopi Cianjur dengan khasnya beraroma jeruk yang membuat rasa kopi dipadukan dengan rasa buah yang sangat menyegarkan hati untuk para peminumnya.
    Saat ini juga ada varitas yg cukup baik dari Desa Sarongge Cianjur.

    Kabupaten Cianjur bertekad kopi khas yang beraroma jeruk ini dapat menjadi kopi nasional yang mendunia. Dengan tekad ini kopi Cianjur akan Berjaya kembali seperti pada masa jaman kolonial Belanda.

    Di daratan tinggi Cianjur dengan ketinggian diatas 1000 mpdl sangat baik untuk memproduksi kopi mulai dari penanaman kopi hingga proses kopi. Proses kopi Cianjur memiliki 3 (tiga) tipe proses yaitu natural proses, honey proses, semi dan full wash.

    Para petani di Cianjur melakukan proses penanaman dengan pohon pelindung jeruk dari dalam tanah membuat rasa dan aroma kopi seperti jeruk, proses itu dilakukan dengan cara alami tanpa pencampuran secara sengaja. Para petani menjual kopi yang sudah di proses menjadi greenbean(biji kopi yang siap di sangria) dan adapula yang menjual langsung dari hasil panen yang masih berbentuk buah ceri.

    Di pasar kopi, kopi yang sudah menjadi greenbean dijual dengan harga yang lebih mahal dibandingkan masih dalam bentuk ceri.

    Dengan potensi kopi yang ada di Cianjur dan mulai banyak petani yang menjadikan kopi sebagai penghasilan utama.

    Tapi masyarakat merasa terbebani adanya tengkulak, dianjurkan masyarakat Cianjur mulai membuat kelompok koperasi dalam meringankan para petani dalam melakukan simpan pinjam untuk modal untuk pembelian bibit dan perawatan kopi.

    Untuk membangun kejayaan kembali kopi Cianjur, mengingat saat ini kopi tengah menjadi tren yang digandrungi terutama oleh kalangan muda.

    Untuk meningkatan tren kopi daerah Cianjur maka perlu dimulai dari kalangan atas (pemerintahan maupun legislatif), supaya mereka mengenal, mulai menikmat dan terbiasa mengonsumsi kopi daerah sendiri. Bahkan masukan para ahli, medis; sangat menganjurkan untuk menghindari minum kopi pabrikan, untuk itulah potensi kopi Cianjur sangat perlu dikembangkan lagi sehingga mampu bersaing dengan kopi pabrik.

    Selain untuk mengulang sejarah perkopian, para petani kopi akan terangkat mendapatkan dampak yang lebih besar sehingga produksi kopi ke depannya lebih stabil. Karena banyak petani dapat dengan mudah menjual biji kopi mereka yang masih muda ke tengkulak karena terdesak kebutuhan.

    Dalam pengembangan potensi Kopi Cianjur, dibutuhkan peran Pemerintah daerah untuk membantu para petani bebas dari para tengkulak atau teknis pengembangan bercocok tanam kopi yang lebih baik lagi, sehingga dapat meningkatkan harga yang yang bagus dan wajar, baik di pasar lokal dan internaional. Sehingga pendapatan petani menjadi baik pula. Karena menurut para pelaku perdagangan kopi berani menyimpulkan; “tidak ada kata harga kopi turun”.

    -Setya Dharma Pelawi. PETANI “Kopi Palintang Organik”

Leave a Reply

Your email address will not be published.