MENYEDUH KOPI DI TANAH LELUHUR SUMBA

“Ternyata kopi itu bisa senikmat ini, ya!” ujar Ayah Penji. Ayah Penji merupakan seorang pemuda asli Kampung Raja Prailiu yang sangat gemar mengopi. Tidak ada satu hari pun yang ia lewati tanpa menikmati secangkir kopi.

SETELAH hampir genap satu pekan saya tinggal di kebun Kopi Mengani dan mengikuti segala proses belajar bersama Pak Hendarto, seorang Quallity Grader, dan juga beberapa petani kopi lainnya. Saya melanjutkan perjalanan menuju Sumba. Dari kisah yang sahabat saya ceritakan, masyarakat asli Sumba sangat gemar minum kopi. Mungkin ini bisa jadi kesempatan yang menarik kalau bisa ngopi bersama masyarakat asli sana.

Sebelum pesawat saya mendarat, saya dibuat kagum dengan lanskap yang tersaji dari jendela pesawat. Lapang, hijau, dan juga.. kosong. Ya, Sumba tidak terlalu touristy sehingga masih didominasi oleh penduduk asli yang juga jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun satu hal yang pasti, Sumba memiliki suhu yang begitu panas. Ketika pesawat saya mendarat, saya menuruni tangga pesawat (tanpa gerbarata tentunya) dan sinar matahari terasa begitu kuat langsung menerpa tubuh saya. Saya iseng mengecek aplikasi cuaca pada ponsel saya, dan saya terkejut melihat layar ponsel saya menunjukan suhu 46’c. Tidak tahu pasti berapa angka yang tepat, tetapi rasa panasnya sungguh luar biasa. Namun tidak ada yang mengalahkan rasa keingintahuan saya yang begitu besar pada siang itu, dan tanpa jeda beristirahat saya langsung berkeliling pulau menggunakan sepeda motor yang saya sewa.

Setelah membeli cukup bahan bakar untuk motor yang saya kendarai, saya lanjutkan untuk mencari spiritus. Dalam perjalanan ini saya membawa sebuah kompor kecil untuk memasak air panas untuk menyeduh kopi. Karena minyak tanah terlampau langka, spiritus menjadi pilihan karena masih mudah ditemui di beberapa toko bahan bangunan di sepanjang jalan raya di Sumba.

Destinasi yang saya coba tuju pertama adalah Kampung Raja Prailiu, tidak begitu jauh untuk pemanasan fisik untuk berkendara jauh. Sekitar 30 menit berkendara, saya pun tiba di kampung tersebut.

Kampung Raja Prailiu cukup ramai siang itu, mereka sedang menerima kunjungan dari ibu-ibu pejabat yang berasal dari Pulau Jawa yang tengah berlibur di Sumba. Sebagai tanda mata yang memiliki kekhasan Kampung Raja Prailiu, masyarakat disini memproduksi kain tenun yang sangat elok. Konon, satu kain yang memiliki ukuran sekitar 3m2 dibuat selama satu tahun penuh! Yang lebih menarik, mereka mewarnai kain tersebut dengan pewarna alami. Untuk warna merah, mereka memproduksi warna dari akar pohon mengkudu, dan untuk warna biru mereka mengolah daun nila dengan sangat terampil sehingga tercipta warna biru yang sangat bagus.

Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa warna biru dari daun nila hanya bisa dibuat oleh para perempuan. Dari kisah yang saya baca ternyata perempuan disini memiliki mantra khusus untuk membuat warna biru. Saya sangat takjub, dengan segala kisah tersebut dan juga oleh kain tenun yang terpampang indah pada setiap pagar rumah mereka menunggu para pembeli luluh dan mau mengeluarkan uang untuk lembaran kain tersebut.

“Silahkan, dek, isi dulu ya buku tamunya” ujar seorang Mama begitu ramah kepada saya. Kemudian ia mempersilahkan saya untuk masuk ke dalam rumah adat dan bertemu banyak mama-mama sedang berjualan kain tenun buatannya.

“Sehari-hari memang ramai dikunjungi, tetapi akhir pekan jauh lebih ramai karena banyak yang berlibur dan cari oleh-oleh kain tenun disini” ujar Ina Yuli. Ina merupakan panggilan yang berarti Ibu atau wanita yang lebih tua umurnya dan sudah menikah dalam Bahasa Sumba. Sama seperti panggilan Mama, namun penggunaan kata Ina biasanya diberikan kepada wanita yang umurnya jauh diatas lawan bicaranya.

Beliau menjelaskan kepada saya asal muasal Kampung Raja Prailiu, tentang makam-makam batu yang berada di setiap teras rumah mereka, juga ukiran pada setiap rumah adat. Saya tertegun akan segala penjelasannya yang begitu detail. Saya jadi tahu, bahwa beliau sangat menjunjung tinggi nilai adat dan tradisi dari para leluhurnya.

Perbincangan kami berdua ternyata memancing beberapa Mama lain untuk ikut berbincang. Bersamaan dengan beberapa pembeli yang juga mulai pergi setelah selesai bertransaksi, beberapa Ama (Bapak dalam Bahasa Sumba) yang baru selesai bertani ikut duduk bersama di teras rumah adat. Saya pikir ini adalah waktu yang tepat untuk menyeduhkan mereka kopi. Saat saya mengajukan diri untuk menyeduhkan mereka kopi, wajah mereka berbinar senang.

“Kamu baik sekali, seharusnya kami yang menyambut tamu. Tetapi malah kamu yang jadi direpotkan” ujar Ama Pulu. Beliau begitu bersemangat membantu saya. Kemudian saya sedikit bercerita tentang kopi dan mereka begitu antusias menyimak. Saya membuka kemasan Otten Coffe Bali Kintamani, dan wangi hasil roasting-nya semerbak keluar dari kemasan.

Kemudian Ama Domu dengan senang hati membantu saya menggiling biji kopi menggunakan Rhinowares handy grinder. Ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka menggunakan alat ini, bahkan mereka mengantre untuk saling bergantian mencoba alat tersebut. Sambil memasak air, beberapa Mama mencoba menggoda saya sambil menanyakan ketel dan gelas yang saya gunakan. Saya hanya tertawa cekikikan setiap kali mereka saling bersahutan berebut gelas enamel yang saya dapatkan dari Otten Coffee. Gelas berwarna putih susu itu memang sanggup merebut hati para Mama disini karena bentuknya yang begitu bagus.

“Baik, sekarang saya akan seduhkan kopi menggunakan metode seduh Pour Over” ujar saya sambil merangkai Munieq Tetra Drip diatas gelas dan juga memasangkan kertas penyaring diatasnya.

Mereka sangat serius memperhatikan, sampai-sampai Ama Pulu mendekatkan kepalanya ke arah dripper yang sudah saya letakan bubuk kopi di dalamnya.

“Ya ampun, wangi sekali, ya” imbuhnya sambil menarik nafas panjang.

Saya mengambil Yami Drip Kettle dan bersiap menuangkan air panas ke dalam dripper. Saya melirik kepada Ina Yuli, tatapannya begitu tajam saat matanya menatap kettle stainless saya. Pemandangan ini begitu lucu.

Cuurr… Air panas mengalir dan jatuh ke dalam dripper berisi bubuk kopi. Dalam sekejap, air panas tersebut langsung mengekstraski kopi dengan ditandai dengan meledaknya aroma dari dalam bubuk kopi. Harum biji kopi Otten Coffee Bali Kintamani sesaat membekukan waktu.

Sampai akhirnya saya selesai menyeduh, semua mata masih takjub saat melihat metode ini di praktekkan.

Ternyata keramaian yang saya buat dan wangi kopi Otten Coffee Bali Kintamani memancing kedatangan seorang yang saya tidak duga, yaitu seorang Raja! Raja dari Kampung Raja Prailiu. Sebagai sebuah penghormatan, seluruh penduduk yang sedang duduk bersama di teras rumah adat tersebut memberikan salam penghormatan kepadanya, dan juga kopi yang saya seduhkan menjadi bentuk penghormatan saya kepadanya.

“Enak sekali, ya. Kopinya jadi bersih dari ampas. Kok bisa ya ada rasa-rasa seperti jeruk gitu di kopinya” ujar Sang Raja sembari menggerakkan bibirnya. Dia berusaha memastikan ulang rasa yang timbul pada indera pengecapnya. Ini adalah momen yang begitu mengharukan buat saya pribadi, menyeduh untuk seorang Raja.

Disambut ramai warga lain yang juga berebut untuk bisa mencicipi kopi tersebut.

Ternyata benar, masyarakat Sumba begitu gemar minum kopi. Tapi satu hal yang istimewa, mereka begitu menghargai penyeduh kopi. Setidaknya itu cinta yang saya rasakan saat saya hadir di tengah-tengah mereka.

Dengan semua kehangatan kopi yang mengalir di dalam tubuh mereka, kehangatan itu pula yang merasuki hati saya saat saya dikalungkan sebuah tenun berwarna biru indigo sebagai tanda bahwa saya diterima dengan hangat dan dirindukan kedatangannya kembali oleh masyarakat Kampung Raja Prailiu.

Ditulis oleh kontributor Izzuddin Jundi Robbani
Seorang fotografer yang juga banyak menuliskan cerita tentang kopi lintas negeri. Inspirasi
terbesarnya berasal dari lingkungan dan masyarakat di tempat ia berpijak. Percaya bahwa segelas kopi
bisa menciptakan damai di bumi.
Tulisannya bisa kamu baca di izzuddinjun.wordpress.com

 

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

2 Comments
  1. Pernah mengalami juga di sebuah kampung di ujung timur Jabar, waktu membuatkan kopi pake mokapot.
    Tapi ngga pandai menulis seperti Mbak MTY.
    Salute

Leave a Reply

Your email address will not be published.