MERCHANT’S LANE CAFE KUALA LUMPUR

Terpesona pada pandangan pertama. Begitulah yang saya rasakan saat kaki melangkah masuk ke sebuah kafe ternama Merchant’s Lane di china town Kuala Lumpur.

BEGITU sering ke Kuala Lumpur tetapi tak pernah sekalipun dimudahkan langkah ke Merchant’s Lane Cafe yang berada di Jalan Petaling di kawasan ‘otentik’ Pecinan Kuala Lumpur ini. Foto kafe ini tentu sudah wara-wiri di media sosial dan membuat saya geregetan ingin mampir juga. Dan kali ini saya tak mau lagi melewatkan kesempatan untuk singgah. Apalagi penginapan saya hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari tempat ini.

Tak semudah bacot Google Map untuk menemukan Merchant’s Lane, ternyata setelah bolak-balik mondar-mandir dan tersesat saya menemukan sebuah pintu kecil di sebelah toko fotokopi. Kedai kopi ini berada di lantai dua dan untuk menemukannya kamu harus benar-benar pasang mata agar tak kelewatan. Tangga kayu menjulang ke atas menuntun saya menuju kebahagiaan. Gila ternyata tempat ini ramai dan memiliki konsep rumah tua peranakan yang sengaja dibiarkan usang dan penuh seni di segala sudutnya.

Saat naik tangga kamu akan langsung di sambut oleh coffee bar di sebelah kanan. Barnya sibuk benar dengan jejeran kue dan pastry yang menggugah selera. Di sisi kanan ada ruangan non-smooking yang luas. Bar berwarna merah muda dengan sentuhan hijau toska tampak mencolok. Lantai kayu dan kursi rotan sepadan dengan dekorasi lain yang membuat tempat ini cantik dan antik.

Saya memilih duduk di smoking area yang surprisingly adem dan menyenangkan. Masih berlantai kayu dengan meja dan kursi kayu yang dibiarkan terkelupas. Pun dinding tua dan tanaman yang merambat-rambat menjadikannya cantik bukan bualan. Lantainya berjaring-jaring sehingga kamu bisa melihat apa yang ada di sana. Mungkin juga supaya memudahkan yang merokok membuang abu rokoknya ya.

Di bagian belakang ada ruangan lain yang masih satu tema. Aduhai tak habis-habis jika membahas uniknya interior Merchant’s Lane ini. Karena sudah lapar saya pun memesan makanan. Spaghetti Bolognaise yang dibandrol RM 25 ini sungguh lezat dengan saus yang kaya daging dan rempah. Porsinya besar sekali disajikan di atas piring ayam jadul. Alhasil saya dan teman berbagi makanan ini karena kaget porsinya jumbo. Ha-ha-ha.

Untuk urusan kopi teman saya memesan hot caffe latte yang menurutnya lezat juga. Tak terlalu strong namun juga tak milky. Lebur sempurna dalam tegukan. Sedangkan saya memesan satu menu kopi yang begitu menarik perhatian. Namanya Black Jasmine. Setelah saya tanya pada waiter-nya ternyata ini adalah teh melati yang dicampur dengan espresso. Rasanya cukup ajaib di lidah. Saya tak pernah merasakan minuman yang rasanya begini sebelumnya. Sebuah rasa yang janggal namun menagih. Pulang-pulang saya malah membuat menu ini di rumah sendiri. Ha-ha-ha.

Tak cukup dengan main course dan kopi-kopian, kami pun memesan menu dessert. Ada satu menu dessert yang namanya mengundang tawa yaitu Better Than Sex. Karena penasaran akhirnya terpesanlah menu yang ternyata adalah roti ala India dicampur dengan es krim dan potongan almond. Well, meski tak buruk-buruk amat tapi ini tak lebih baik dari seks, kawan. Percayalah!

Sayangnya, Merchant’s Lane Cafe ini tidak memiliki menu manual brew dan teman-temannya jadi di sini hanya bisa ngopi espresso base dan makan-makan kenyang. Tapi meski begitu saya tetap terpesona dan betah berlama-lama di sini kalau saja jadwal di Kuala Lumpur tak sepadat penduduk Indonesia. Singgahlah, kawan!

Merchant’s Lane Cafe

Jalan Petaling 150 , City Centre, 50000 Kuala Lumpur,

Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.