MIKAEL JASIN: A MAN OF HARD WORK AND CONSCIENTIOUSNESS

Juara Indonesia Barista Championship 2019 dan sekaligus peraih peringkat 4 World Barista Championship di tahun yang sama. Ini adalah kisah bagaimana Mikael Jasin mendapat semua prestasi itu dengan kerja keras dan disiplin—tanpa melupakan waktu untuk bersenang-senang.

ADA sejumlah angka-angka dan pencapaian yang mengikuti nama Mikael Jasin sebelum ia memutuskan untuk ikut bertarung dalam kompetisi nasional Indonesia yang penuh lika-liku. Ia telah mengantongi pengalaman lebih dari 7 tahun di industri kopi (diantaranya menjadi Head Barista di beberapa café di Australia), dua kali berada di posisi Dua Besar pada kompetisi Australian Coffee in Good Spirits sepanjang 2015-2016, dan termasuk menjadi salah satu kandidat yang “cukup membahayakan” pada Indonesia Barista Championship 2018 lalu.

Umumnya modal pendukung demikian akan membuat kebanyakan barista tampil sedikit “santai”—kalau kata “menganggap remeh” terdengar berlebihan—saat akan mengikuti kejuaraan. Tapi tidak halnya dengan Mikael Jasin. Tampaknya ia bahkan tak mengenal kata santai dalam hidupnya. Hanya dalam kurun waktu dua tahun sejak ia memulai debut di kompetisi Indonesia, di tahun 2019 ini, Miki—panggilan akrabnya—justru langsung mengebut dan melesat begitu jauh hingga ke posisi 4 Dunia. Posisi terjauh yang dicapai oleh wakil Indonesia dalam cabang kompetisi kopi apapun hingga saat ini.

Selain menjadi barista, saat ini ia fokus di bidang strategi marketing untuk kedai-kedai kopi, dan melakukan pengawasan terhadap kualitas dan pengembangan kopi. Pekerjaan yang masih tak tak jauh-jauh dari kopi, tentu saja. Tapi pernahkah ia bosan? Barangkali tidak. “Kopi adalah salah satu hobi saya,” ujarnya. “Tapi selain itu, saya juga suka masak. Atau mengolah makanan dan minuman sendiri. Ada banyak bahan, termasuk cara membuat signature beverage, yang ide-idenya saya dapatkan saat sedang memasak atau mengolah makanan ini,” katanya lagi.

 

Koreksi jika salah, ini adalah pertama kalinya Anda melaju ke World Barista Championship sebagai perwakilan negara, dan langsung mendapat peringkat empat dunia. Itu benar-benar luar biasa. Apa usaha dan perjalanan panjang yang telah Anda lakukan hingga demikian? Saya percaya pasti ada banyak sekali kerja keras dan proses dibaliknya.

Ini memang benar pertama kalinya saya pergi ke ajang WBC, dan pertama kalinya juga mewakili Indonesia. Menurut saya, ini adalah sebuah refleksi dari kemajuan industri kopi Indonesia sendiri. Saya tidak akan mungkin bisa sejauh ini tanpa adanya kondisi kompetisi yang sengit di Indonesia, atau tanpa juri-juri berkualitas yang memaksa para kompetitor untuk terus memperbaiki rutinitas mereka, termasuk para juara-juara Indonesia sebelum saya yang sudah berbaik hati membagikan pengalaman mereka. Dan tentu saja para petani kopi Indonesia yang berani membuka pikiran mereka untuk menanam dan memproses kopinya menjadi lebih baik lagi. Saya hanya menyambung usaha-usaha yang telah dilakukan para pelaku kopi Indonesia lainnya. Prosesnya adalah latihan sebaik mungkin. Dan latihan ini dibagi menjadi 3 persiapan yang tak kalah penting: teknik, kopi, dan presentasi.

 

Di beberapa artikel, saya membaca Anda bangun setiap jam 4 pagi setiap hari untuk latihan hingga berbelas-belas jam berikutnya. Apakah latihan ini khusus untuk mempersiapkan diri ke WBC, atau memang sudah dilakukan sebelum IBC? Apa yang membuat Anda tetap konsisten latihan begitu keras dan tidak menyerah?

Latihan seperti ini sudah dimulai sebelum regional IBC 2019. Saya melihat banyak atlet-atlet kelas dunia dan beberapa finalis WBC yang melakukan latihan dan disiplin seperti ini. Saya memutuskan bahwa saya bekerja selama 18 jam sehari, jadi saya harus merencanakan setiap detailnya, dari jam ke jam. Dari 18 jam itu, saya bagi menjadi 9 jam untuk ‘day job’, 1 jam berolahraga, 2 jam travel time (karena saya tinggal di Jakarta), dan 6 jam untuk latihan persiapan kompetisi kopi. Dan ini selalu menjadi prioritas saya selama sekitar 5 bulan. Memang sangat sulit dan banyak pengorbanan yang harus dilakukan, tapi menurut saya itu adalah hal yang penting untuk mencapai tujuan saya.

Bagaimana menjaga fokus… saat saya mempersiapkan diri untuk WBC, tujuan saya hanya satu: saya tidak mau menyesal untuk apapun hasil yang akan saya dapatkan di Boston. Saya mau memberi yang terbaik. Maka saya berusaha sebaik mungkin, mengeluarkan kemampuan semaksimal mungkin untuk tetap berlatih.

Dengan usaha kemarin, saya puas berapapun peringkat saya. Apakah di posisi 30 atau Top 6 karena saya sudah memberikan yang terbaik tahun ini. Masih banyak yang perlu diperbaiki tentu saja, tapi itulah gunanya proses belajar ini.

Satu lagi yang membuat saya “tidak berani untuk malas” ketika latihan adalah karena saya sangat serius menanggapi tanggung jawab sebagai Indonesia Barista Champion, dan beban yang turut diwakilinya. Saya tidak mau mempermalukan bangsa sendiri di tingkat dunia.

 

Latihan keras seperti ini umumnya bisa membuat seseorang stress. Apa yang Anda lakukan untuk menghilangkannya?

Workout. Lari. Atau minum. (tertawa)

 

Setelah lolos ke Babak 6 Besar, apakah Anda merasa semakin terbeban membawa nama Indonesia? Terutama karena mengingat ini adalah kali pertama wakil Indonesia lolos ke tahap yang sangat jauh di World Barista Championship

Sebenarnya, tekanan yang paling banyak itu ada di babak pertama dan semifinal. Babak pertama, karena saya belum pernah tampil di WBC dan tidak tahu apa yang harus diekspektasikan. Yang kedua, di tahap Semifinal. Pressure-nya terasa semakin besar karena saya tahu ada banyak orang (termasuk diri saya sendiri) yang mengharapkan agar saya bisa masuk final. Jadi saat diumumkan bahwa akhirnya saya berhasil lolos ke final, rasanya benar-benar melegakan. Saya tidak lagi merasa ada pressure yang besar saat tampil di final. Di pikiran saya hanya satu: memberikan yang terbaik di babak final.

Mikael Jasin: “Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.” (Foto oleh Hendri – @kulikopi)

Ada berapa beans yang Anda bawa ke WBC tepatnya? Saya lihat di presentasi saat WBC, setidaknya ada 2 jenis beans berbeda untuk disajikan. Bisa ceritakan tentang masing-masing biji kopi ini dan mengapa membawa biji berbeda untuk setiap menu?

Saya membawa 3 beans ke WBC, dan itu sangat berkaitan dengan tema (konsep) yang saya angkat di sana. Saya mempresentasikan tema “Purpose Driven Fermentation” yang membahas bagaimana proses fermentasi kopi dapat berkembang dengan memilih tasting profiles sebagai titik awal acuannya. Kebetulan kita punya 3 kopi yang sama-sama diproses dengan sistem Carbonic Maceration (CM) dan itulah yang menjadi benang merah kami di presentasi WBC 2019. Kita memulai dengan Panama Gesha dari Finca Deborah sebagai contoh dasar dari proses CM untuk disajikan sebagai espresso.

Lalu, disusul dengan Ethiopia Guji ‘Jasper’ dari Project Origin sebagai contoh berikutnya bagaimana proses fermentasi CM ini dapat dimanipulasi untuk menemukan profil rasa yang cocok untuk Milk Beverage.

Dan bagian ketiga, biji kopi untuk signature drink, adalah kulminasi dari apa itu ‘Purpose Driven Fermentation’. Pada tahap ini, “teori proses carbonic maceration” sudah terbukti bisa meningkatkan kualitas kopi, mau apapun varietasnya. Jadi saya membawa biji kopi dari Indonesia sebagai demonstrasi bukti keberhasilan teori itu. Juga sekaligus puncak dari inti presentasi saya, Purpose Driven Fermentation.

 

Menarik sekali—dan applause untuk Anda—karena telah memperkenalkan kopi Indonesia ke WBC di saat banyak barista Indonesia barangkali ragu untuk membawa kopi negeri sendiri ke kompetisi luar. Dan semakin jauh lebih menarik karena varietas yang dibawa adalah… longberry? Dan dari Sumatera Utara pula. Apa alasannya?

Saya rasa semua Juara Indonesia punya mimpi untuk membawa kopi Indonesia ke tingkat dunia. Namun, yang selalu menjadi pertanyaan adalah… apakah kopi Indonesia tersebut mampu bersaing di tingkat dunia? Untungnya, industri kopi di Indonesia belakangan ini berkembang dengan sangat pesat, dan kualitas-kualitas kopinya pun sudah sangat membaik. Jadi saya berani membawa kopi yang, tentu saja, proses pengolahannya ikut saya bantu dan awasi. Untuk menjadikan kopi Indonesia ini sebagai “bahan percakapan” di tingkat dunia. Masih banyak PR yang harus kita lakukan tentu saja, tapi saya rasa, sudah waktunya kopi Indonesia mendapat spotlight yang lebih besar.

Kenapa memakai Longberry… karena Longberry adalah varietas yang lumayan umum di Sumatera Utara. Dan itu sekaligus pembuktian saya tentang konsep dan teori “Purpose Driven Fermentation”. Bahwa kopi yang tadinya (mungkin) dianggap “kurang spesialti” karena varietasnya yang umum, jumlah ketersediaannya yang sangat banyak, dan karakter rasanya yang sering dianggap hanya oke-oke saja ini ternyata bisa dikembangkan menjadi (kopi) luar biasa dan layak disajikan di kompetisi dunia.

 

Menjadi Juara Barista tak lantas membuatnya “meninggalkan bar” atau tak membuat kopi untuk diri sendiri.

Berapa lama proses pencarian, research and development, untuk biji kompetisi ini? Atau, jangan-jangan, Anda sudah merencanakan dan melakukannya jauh-jauh hari sebelum IBC/WBC?

Konsep ini sudah saya coba dari regional IBC 2019 namun selalu berkembang dari regional, nasional, dan lalu ke tingkat dunia. Saat mempersiapkan diri untuk kompetisi, saya selalu mencari konsep yang independen dari kopi-kopi yang akan saya gunakan.

Jadi, biasanya, saya selalu membangun konsepnya dulu, lalu mencari kopi yang sesuai dengan ceritanya. Makanya kopi-kopi yang saya pakai dalam musim kompetisi kali ini selalu berubah, walaupun topiknya sama. Tapi menurut saya, contoh terbaik dari konsep ‘Purpose Driven Fermentation’ ini adalah pada saat WBC kemarin.

 

Menurut Anda sendiri, apa yang perlu diperbaiki dari kopi-kopi Indonesia—bukan hanya agar bisa bersaing dengan kopi-kopi idola seperti Ethiopia atau Panama, tapi juga agar siapapun yang mau mengikuti kompetisi bisa percaya diri membawa kopi Indonesia?

Saya bukanlah seorang ahli pertanian yang “layak” mengkritisi proses panen/pasca panen dari kopi-kopi Indonesia. Tapi, menurut saya, yang perlu diperhatikan itu adalah agar para petani Indonesia menyadari bahwa jika mereka menghasilkan kopi-kopi yang baik maka kualitasnya pun akan meningkat. Jadi mereka tidak lagi mengharapkan penghasilan hanya dari volume atau kuantitas kopi yang dihasilkan saja, tapi juga dari kualitas kopinya.

Menaikkan kualitas ini, menurut saya, bisa dicapai dengan mengambil keputusan-keputusan yang mendukung perbaikan kopi itu sendiri. Misalnya dengan menggunakan air bersih untuk proses pengolahan, raised beds untuk mengeringkan kopi, dan termasuk mengikuti perkembangan proses pasca panen yang semakin inovatif belakangan ini, dan sebagainya.

Untuk para barista, kita bisa membantu para petani dengan memberikan feedback yang jujur—walaupun kadang kenyataannya sulit. Dan membantu mendorong mereka agar lebih memilih memproduksi kopi dengan kualitas tinggi. Karena, pada akhirnya, itu juga akan membantu mereka bersaing di tingkat dunia.

Kalau beruntung, kadang-kadang ia masih bisa ditemui di belakang bar di St. Ali atau Common Grounds.

 

Berapa banyak orang yang tergabung dalam tim yang membantu Anda untuk kompetisi? Apa-apa saja peran mereka? Menurut Anda seberapa penting tim ini untuk membantu menciptakan kemenangan?

Banyak sekali. Di banyak wawancara, saya selalu bilang bahwa saya adalah sebuah produk dari tim saya. Tanpa orang-orang ini saya tidak akan bisa mendapatkan prestasi ini. Tim saya antara lain, coaching members Daryanto Witarsa dan Yoshua Tanu yang membantu mempersiapkan presentasi saya dan memberikan feedback setiap hari. Dale Harris juga membantu saya menyusun script untuk WBC dan mencoba kopi saya saat di backstage.

Supporting members, ada Regina Tay yang membantu saya menyusun trolley di WBC dan memberikan feedback untuk presentasi dan kopi. Team roastery yang membantu menyangrai dan memilih kopi untuk WBC. Marketing team, dan Yessylia Violin yang membuatkan table set up saya menjadi lebih presentable untuk WBC. Para petani kopi saya, Jamison Savage dari Finca Deborah, Project Origin team dan Dianto Gho dari Wahana Estate. Pembuat susu saya, Isman yang dengan baiknya menyuplai kebutuhan susu (tanpa mau dibayar) untuk WBC, dan Mira Yudhawati yang membantu membawanya ke Boston.

 

Apa saran Anda secara personal untuk para barista yang ingin bertanding? Apa mindset pertama yang harus mereka punya, bukan hanya untuk bertanding tapi juga sebagai barista (yang baik)?

Saran saya adalah jangan punya mindset untuk menjadi juara. Tapi milikilah mindset untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Dengan begitu, kita akan berpikir bahwa yang terpenting itu bukan hasil akhirnya, tapi memberikan yang terbaik saat itu.

Mindset ini juga akan sangat membantu para barista untuk tetap rendah hati, apapun keberhasilan atau kegagalan yang mereka alami. Dan ini berlaku bukan cuma untuk bertanding saja. Kalau seseorang punya mindset ini, dengan sendirinya ia akan terus memperbaiki dirinya di dalam pekerjaan dan hidupnya.

 

Tampaknya Anda punya ketertarikan khusus dengan proses pengolahan kopi dan terjun langsung ke kebun, ya? Ada rencana untuk menjadi processor atau “peneliti ilmu kopi” seperti Sasa Sestic, atau Dale Harris barangkali?

Saya sangat tertarik dengan proses penanaman dan paska panen kopi. Saya sangat terinspirasi oleh para petani dan orang-orang seperti Sasa yang memproses kopi sesuai dengan keinginannya dan juga terus berusaha untuk memperbaiki kualitas kopi tersebut. Saya sangat beruntung karena telah mendapatkan kesempatan untuk memproses kopi saya sendiri. Dan saya ingin terus mendalami hal itu kedepannya.

 

Terima kasih untuk wawancara ini, Miki. Sukses selalu!

 

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menggemari komik, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

2 Comments
  1. Well written and purposeful interview Yul, great job! Bangga dan senang dirimu bisa mendapatkan kesempatan interview Miki langsung begini. Salut sm dedikasi dan kerja keras mu dalam merangkum dan membuat artikel ini. Sama mantapnya dengan Miki haha. Miki sendiri juga kebanggaan Indonesia. Sayang banget karena kurang terkespos dan ter-blow up di media cetak masal atau medsos. Padahal kerja keras dan pencapaiannya bukan main-main. Dan purposeful fermentation juga bukan topik main2. Semoga kedepannya semakin membuka mata khalayak umum mengenai kemajuan dan prestasi para coffee enthusiasts dan pekerja di industri kopi ini.

  2. Artikel yg mantap. Terima kasih sudah interview Miki, mb Yulin —- ini artikel terlengkap ttg Mikael Jasin yg pernah gw baca sjauh ini. Very appreciate sm karakternya yg tetep humble meski udh juara 4 dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.