MO COFFEE: RUMAH PARA JUARA

Mungkin akan terdengar berlebihan menyebut kedai ini sebagai “The Home of Aeropress Champions”, tapi memang begitulah adanya.

MO Coffee, kedai kopi yang berada di kota kecil Siantar di Sumatera Utara, ini adalah apa-apa saja yang masuk ke dalam kategori “underdog”. Mereka tidak terkenal—namanya pun barangkali baru didengar saat di kompetisi, para baristanya bukan golongan orang populer, baristar, atau apapun sebutan untuk barista hipster saat ini yang umumnya necis dan bertato. Singkatnya, pada musim kompetisi Aeropress Indonesia beberapa waktu lalu, mereka tidak dijagokan—dan mungkin juga tidak dianggap. Namun, dua dari dua perwakilan Mo Coffee yang berlaga di kompetisi Aeropress tahun ini semuanya meraih Juara.

Ricky Abraham, yang sekaligus pemilik Mo Coffee, adalah Juara Tiga Regional Barat. Sementara Fikry Azda Din, yang akrab dipanggil Wakblek saja, merupakan pemenang kompetisi Aeropress Indonesia plus menduduki posisi 9 Besar Dunia pada puncak perhelatan World Aeropress Championship di Sydney lalu. Pencapaian tertinggi untuk wakil Aeropress Indonesia sejauh ini.

Maka bertandang ke Mo Coffee tentulah memberikan saya sedikit ekspektasi, yang lebih tepat disebut euforia. Sejumlah fakta-fakta antihero yang ada pada mereka membuat saya… bersemangat. Saya suka jenis yang seperti ini, tidak dijagokan tapi tiba-tiba muncul memberi gebrakan. Dan mencengangkan. Sehingga hasilnya mungkin saja mengecewakan “beberapa orang”. Agak menyerupai filsafat milik The Underdog Coffee Roaster di Athena, Yunani: “A person or a group of people, who is expected to lose the battle. In the case the underdog wins, the outcome of this victory is an upset.” (The Underdog Coffee Roastery sendiri berkebalikan dengan namanya karena ia adalah ‘rumah’ dari 4 Juara Dunia dan selengkapnya mengenai roastery ini bisa kalian cari di internet).

Koleksi ‘Piala’ yang mereka kumpulkan.
Sisi luar Mo Coffee.
Sisi dalam kedai.

Mo Coffee memiliki konsep desain dan interior yang kontemporer, trendi, sekaligus bernuansa hangat dan cozy. Lampu-lampu gantung bercahaya lembut, sofa dan rak buku di bagian pojok, dan bar di tengah ruangan memberi kesan yang menyenangkan. Beberapa sisi dalam kedai bahkan terlihat instagrammable sehingga akan menyenangkan para pemburu foto khas Pinterest, atau mereka yang terobsesi menyusun feed cantik di Instagram. Lagi-lagi ini mengejutkan saya mengingat Mo Coffee “hanya” berada di sebuah kota kecil sekitar 3 jam dari Medan.

Sebagai perangkat tempurnya, mereka memiliki mesin espresso Simonelli Appia II yang menggantikan Simonelli Musica, mesin sebelumnya. Keterbatasan kemampuan jumlah cups yang bisa disajikan per hari tentu saja menjadi alasan utama karena belakangan mereka kian sibuk dan mendapat cukup banyak permintaan. (Kini Simonelli Musica itu hanya digunakan saat event atau untuk keperluan latihan).

Rentang harga yang ditawarkan di sini pun tergolong murah dan ramah di kantong. Menu-menu espresso based berkisar antara 18 ribu hingga 25 ribu. Sementara manual brew dibandrol sekitar 22 ribu hingga 30 ribu, tergantung single origin apa yang Anda pilih dan variasi sajian seduhannya.

Untuk camilan pendamping kopi, mereka bekerja sama dengan UKM lokal di Siantar sebagai “penyuplai”. Pilihan camilannya bervariasi, mulai dari jajanan masa kecil seperti kuping gajah yang per bungkusnya dihargai 7 ribu, atau kue-kue manis nan fancy yang berkisar 15 ribu hingga 30 ribu. (Saya memilih bernostalgia dengan kuping gajah yang satu bungkusnya cukup besar sehingga bisa dinikmati beramai-ramai untuk melengkapi cold brew Gayo Atu Lintang pesanan saya).

Wakblek melakukan ritual di depan Simonelli Appia II
Bukan, ini bukan di luar negeri.
Ricky Abraham menyeduh kopi Costa Rica dengan jurus rahasianya.

Menyinggahi kedai pemenang kompetisi Aeropress tentu saja belum sah jika belum mencicipi kopi seduhan sang Juara. Ricky dan Wakblek bergantian menyeduhkan saya kopi Costa Rica (Tarazzu) dan Kerinci honey yang masing-masing dibuat dengan Aeropress dan menggunakan “jurus rahasia” mereka saat lomba. Keduanya sama-sama menarik. Costa Rica memiliki karakter yang lebih fruity dengan notes raspberry, sweet apple ditambahi sedikit aroma floral. Karena diseduh dengan Aeropress, rasanya menjadi agak lebih bold dan ‘penuh’.

Sementara Kerinci honey seduhan Wakblek terasa lebih eksotis, dengan notes malic acid, brown sugar dan black tea. Ajaibnya, rasanya tetap seimbang dan lembut. Ah, pantaslah ia juara.

Di pintu depan, Mo Coffee melekatkan cap “specialty coffee” yang seolah penegasan terhadap gagasan yang mereka usung. Seperti konsep coffee shop seharusnya, tidak ada makanan berat di Mo Coffee selain hanya kopi dan camilan. (Ricky menyebut bahwa mereka masih tidak akan menyajikan makanan berat dalam waktu dekat dan entah sampai kapan).

Sebuah mesin roasting Aillio Bullet R1 berada di ruang terpisah di bagian depan untuk memenuhi kebutuhan kedai dan single origin yang dijual. Kisaran harga single origin rilisan Mo Coffee bervariasi, mulai dari 65 ribu (untuk kopi lokal) hingga 160 ribu (untuk kopi impor). Masih tergolong normal untuk kategori single origin, terutama karena mengingat mereka pun mengambil green beans pilihan untuk disangrai. Fair enough.

Ruang semedi para juara Mo Coffee yang tertutup untuk umum.
Mo Coffee, yang merupakan pelesetan dari “mau kopi?”
Pilihan single origin dari Mo Coffee.
Kopi dan camilan, paket menarik untuk melengkapi obrolan seru bersama teman.

Kesimpulannya, Mo Coffee adalah kedai yang harus didatangi jika Anda sedang menyinggahi kota Siantar. Atau bisa menjadi pilihan jika Anda adalah penggemar kopi spesialti yang umumnya selalu mencari kedai-kedai kopi setiap liburan.

 

Mo Coffee

Buka setiap hari, 12.00 – 22.00

Jalan Toba 1 no. 15

Siantar – Sumatera Utara

 

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.