MOSCOT: RUANG DINAMIS ANTARA KOPI DAN KREATIVITAS

Segala hal yang dikerjakan dengan perjuangan dan dedikasi akan menghadirkan keberhasilan yang berproses. Setidaknya itulah yang dilakukan Moscot.

UNTUK saya Moscot adalah sebuah ruang yang berproses. Kedai kopi ini tak hanya sebuah kedai kopi yang menjanjikan kopi-kopi enak dan kenyamanan para pelanggan tetapi sebuah ruang tempat segala hal yang melingkupi kopi berproses berputar. Moscot seperti lambang “titik enam” yang diusungnya merupakan pemaknaan dari kopi, konsep, kolaborasi, komunitas, coworking, dan kontribusi. Tak heran jika saya kerap menyaksikan kolaborasi dan hal-hal lainnya yang hadir di sini.

Moscot sendiri berlokasi di Jalan RA Kartini Medan, Sumatera Utara. Berlindung di satu pagar bersama Medan Club yang tersohor itu. Moscot didesain minimalis namun tetap mewah dengan pilihan warna basic, tanaman di sana-sini dan maskulinitas yang menyeruak di mana-mana.

Di coffee bar-nya ada mesin espresso Nuova Simonelli, automatic grinder Malkonig, aneka alat seduh manual dan banyak alat kopi lain yang tak bisa saya ingat satu-satu. Menariknya mereka hanya menyajikan kopi dari Mandheling, Sumatera Utara saja! Ya, kawan. Moscot berfokus mengangkat kopi Mandheling khususnya Aek Gorsing yang menurut mereka layak diangkat kisah dan hasil kopinya ke permukaan. Kopi Mandheling telah terlalu lama jadi simpang siur dan tidak dikenal dengan sejelas-jelasnya. Kopi Mandheling sering hadir lewat banyak nama. Pun selama ini proses pascapanennya begitu menyedihkan. Padahal kopi ini memiliki kualitas yang tak kalah dengan kopi lain.

Tak hanya itu, petani di Mandheling juga mengalami kesulitan. Mulai dari edukasi hingga medan wilayahnya yang cukup berat dijangkau. Moscot pernah membuat film dokumenter singkat mengenai Kopi Mandheling untuk mengangkat kopi ini sekaligus mengedukasi banyak orang tentang dari mana kopi ini berasal!

Lalu bagaimana dengan rasa kopi di Moscot? Perhari ini kopi di sini sangat luar biasa berkembang. Aneka kopi mereka cukup bisa diterima dan semakin hari semakin nikmat rasanya. Jika kamu pencinta manual brew seperti saya cobalah Aek Gorsing yang hadir rupa-rupa. Mulai dari washed hingga natural process. Di sini juga ada menu espresso based, cold brew, teh dan banyak lagi. Pilihan makanan berat dan camilan juga tersedia. Semua tinggal kamu pilih sesuai selera.

Untuk saya waktu terbaik datang ke Moscot adalah sore hari. Ya, sebenarnya pagi hari cuma karena saya belum bangun jadilah sore yang dipilih menjadi waktu terseksi. Di sini sejuk dan rindang. Mau duduk di dalam atau di luar sama saja serunya. Oh iya, jangan lupa untuk melihat sekeliling rak di sana karena biasanya ada beberapa buku menarik, merchandise khusus yang di keluarkan Moscot bersama timnya (kali ini mereka meluncurkan scarf!). Dan jika kamu berminat dengan kopi mereka, kamu juga bisa membawa pulang karena mereka merangkap roastery juga.

Akhirnya apalah yang bisa saya bilang kepada kalian soal Moscot selain sebuah ruang kreativitas dinamis yang membuka kesempatan apapun untuk hadir dan berkolaborasi. Kedai kopi hanya nama, Moscot lebih dari sekadar itu.

Moscot

Jalan R.A. Kartini No. 36

Jam Operasional: 08.00 – 22.00 WIB

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.