MOVE ON FASHION & COFFEE: KETIKA GAYA, KEKINIAN, DAN KOPI DILEBUR JADI SATU

Kedai kopi berkonsep unik ini barangkali akan membuat siapapun jadi berpikir ulang tentang kota Bukittinggi.

“INI seperti ngopi rasa Bandung di Bukitttinggi!” lontar saya begitu duduk di sofa depan bar setelah puas berkeliling area kedai. (Saya tahu saya akan menggunakan kalimat itu di artikel nanti). Mereka yang berada di belakang bar tertawa renyah, mungkin menganggap saya bercanda meski pun menyatakan itu serius berkali-kali.

Move On Fashion & Coffee, menurut saya, terlihat seperti distro-distro keren di kawasan Jalan Trunojoyo Bandung, tapi ditambahi bar kopi. Di bagian depan dan begitu membuka pintu, kita akan disambut jajaran rak berisi kaus-kaus sablonan lokal bergaya urban digantung rapi, bersama aksesoris dan sepatu-sepatu berbahan kulit model vintage nan hipster yang disusun teratur.

Move On tampak depan.
Clothing line bertema indie menyambut begitu kita membuka pintu.
Mereka juga menyediakan pomade dan kebutuhan alat-alat hipster. Haha.

Di dindingnya, dipajang koleksi fotografi arsitektural dan sebagian kecil desain dari kaus tadi yang dibingkai dalam frame-frame minimalis. Semua foto-foto itu merupakan jepretan uda Ulil Azmi sendiri, sang pemilik kedai. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan menjadi fotografer di Bandung—ah, pantas saja mengapa kedai ini kerasa begitu kota kembang. Selanjutnya, sejumlah lagu-lagu berirama indie folk dan pop-folk (yang sebagian penggemar Katy Perry atau Justin Bieber barangkali tidak akan tahu yang menyanyikannya siapa :D) terdengar secara konsisten. Dan jangan lupa, ini ada di Bukittinggi. Bukan di Jakarta, atau di kota-kota besar di Pulau Jawa. Saya mengingatkan itu kepada diri sendiri, berkali-kali pula.

Lukisan dan foto-foto yang semuanya hasil jepretan uda Ulil, pemilik kedai.
Bagian tempat nongkrong.
Ada koleksi aksesoris kekinian juga.

Karena judulnya sedang main ke kedai kopi, maka belum sah kalau belum memesan kopi. Saya memesan espresso kepada uda Ferli, barista yang bertugas di balik mesin kopi. Dengan sigap ia membuatkan saya 30 ml espresso yang ternyata after taste-nya… sweet sekali. “Biji apa ini?” tanya saya penasaran. Ia menunjukkan kemasan kopi Minang Solok Radjo semi washed yang disangrai oleh Pandeka Coffee. Ada beberapa kemasan kopi di atas bar ketika itu, antara lain dari Caswell’s, Common Grounds, namun sebagian besar berasal dari Pandeka Coffee. (Tampaknya kopi-kopi sangraian dari micro roastery Pandeka Coffee ini sangat populer di Sumatera Barat mengingat banyaknya kedai-kedai di sana yang memakai kopi mereka).

Uda Ferli, meracik espresso pesanan saya.
Uda Ulil, yang baru saja move on ke gerbang pernikahan. Haha.
Uda Rikky (berbaju hitam), manager Move On yang mengurusi bagian clothing line.

Perangkat alat tempur kedai kopi Move On diisi oleh mesin espresso Rancilio Epoca S 1 grup, grinder Mazzer Super Jolly untuk kebutuhan manual brew, dan Feima 610N untuk kebutuhan espresso dan espresso-based. Karena uda Ferli katanya salah satu Juara pada kompetisi Brewers Cup dan Latte Art lokal kota Padang, berturut-turut kemudian Tika dan saya memesan cold brew dan latte. Sekadar ingin mencicipi kopi racikan Juara. “Saya nggak mau latte art yang ke-rosetta-rosettaan atau ke-tulip-tulipan, ya. Mau dibikinin yang beda,” canda saya. (Tapi uda Ferli tampaknya menganggap serius candaan itu karena sekilas wajahnya terlihat gugup. Haha..)

Bar berisi peralatan tempurnya.

Mengekstraksi espresso dengan mesin Rancilio.
Mengukir latte art.

Tak sampai 5 menit, pesanan kami mendarat dengan manis. Latte-nya nikmat, komposisi epresso dan steamed milk-nya menyatu sempurna. Cold brew-nya juga tak kalah segar dengan tambahan irisan tipis buah lemon. Menariknya, cold brew di sini juga disajikan bersama stainless steel ice cube. Jadi, ice cube-nya tidak akan mencair sehingga bisa memengaruhi rasa, namun sekaligus menjaga suhu minumannya tetap dingin. Ide brilian. Lagi-lagi, kita tidak diijinkan untuk memandang sebelah mata hanya karena ini Bukittinggi.

Ah ya, di kedai ini juga tidak ada makanan berat selain camilan dan kue-kue manis sebagai teman ideal ngopi. Jadi yang berharap bisa ngopi sambil menikmati nasi Padang di sini, silakan bermimpi. Haha.

Cold brew yang segar dan akan tetap dingin karena stainless steel ice cube.
Tampilan dalam kedai yang stylish.
Menu board.

Nah, yang paling penting dari semuanya itu adalah segala yang dijual di dalam kedai Move On Fashion & Coffee tidak ada yang terlalu mahal-mahal amat hingga menguras kantong. Kaus-kaus berkualitas terbaik dengan desain khas kaum urban yang mereka jual tidak lebih dari IDR 150,000, menu-menunya pun tidak lewat dari IDR 25,000. Sangat terjangkau namun tetap tak kehilangan nikmat terbaiknya. (Semuanya itu semakin terasa lengkap dengan keramahan uda-uda para barista dan pemilik kedai yang memerlakukan kami seperti teman lama).

Jika kalian sedang main-main ke Bukittinggi, menyinggahi kedai kopi (yang merangkap distro) ini, sepertinya, wajib hukumnya.

Move On Fashion & Coffee
Jalan Sutan Syahrir no. 12 A, Tarok – Bukittinggi
Jam buka: 10 pagi – 10 malam

 

10,811 total views, 4 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.