NGOPI DI KEBUN KOPI UNTUK PERTAMA KALI

Saya tidak pernah menyangka bahwa pengalaman ngopi di kebun kopi sebegitunya berkesan dan menghangatkan jiwa.

SETIAP mendapat kesempatan untuk berkunjung ke kebun kopi, hati saya terasa hangat. Meskipun saya sadar benar bahwa setiap kebun kopi, memiliki medan yang tak tertebak. Ada yang medannya datar-datar saja. Ada yang menanjak dan sampai membuat sepatu saya rusak. Namun kebun kopi selalu mampu memberi energi baik yang membuat saya bahagia.

Dan beberapa waktu lalu kami mendapat kesempatan untuk berkunjung ke kebun kopi di Sangir, Solok Selatan, Sumatera Barat. Bertemu para petani dan prosesornya. Diajak langsung berkunjung ke kebun kopi yang berada di ketinggian kira-kira 1300 mdpl. Meski tak terlalu tinggi, medan kebun kopinya menanjak dengan ragam lapis cobaan. Bukit berbatu, lumpur dan semak-semak. Bidang datarnya sedikit. Bidang menanjak dan menurunnya cukup melelahkan. Ha-ha-ha.

Saya memang sudah lumayan sering ke kebun. Namun tak sekalipun pernah merasakan sensasi ngopi di tengah-tengah kebun. Benar-benar di tengah kebun yang tak beratap. Di sinilah keseruan itu terjadi. Saat istirahat rupanya para petani sudah menyiapkan jamuan. Menurut mereka sederhana, menurut kita begitu mewah.

Dengan ceret tradisional yang seluruh bagiannya sudah menghitam mereka menyeduh kopi. Bubuk kopi Solok Selatan dibagikan di cangkir-cangkir belimbing. Air mendidih mengepul mengeluarkan aroma dahsyat. Kami duduk bersila mengelilingi susunan cangkir tadi.

Sambil mengambil jatah kopi masing-masing, saya memerhatikan para petani ini. Ada yang ngopi dengan gula, ada yang hitam saja. Di sela sendok yang beradu pada cangkir percakapan lahir dan membuat hati miris dan hangat sekaligus. “Kami cuma mau kopi-kopi kami ada yang membeli terus. Jadi kami semakin semangat menanam kopinya. Selama ini kami panen tapi yang beli tidak ada,” kata salah satu petani.

Kopi tubruk saya terasa lebih pahit dari teguk pertama tadi. Keluhan mereka memberi luka meski sepasang matanya tetap optimis untuk kemajuan kopi di daerah sini. Saya tak mampu membalas selain ikut menikmati getir dan hangat yang pelan masuk ke tenggorokan.

Meski banyak kisah sedih yang saya dengar siang itu, petani-petani ini tak kehilangan humornya. Banyaka tawa yang getir dan di antara kopi kami tiba-tiba hadir sebungkus gorengan yang entah kenapa rasanya nikmat betul. “Ayo di makan gorengannya. Kapan lagi kan ngopi di kebun kopi duduk di tanah begini!” ajak salah satu dari mereka.

Saya tidak pernah menyangka bahwa ngopi di kebun kopi yang jauh dari kenyamanan ini rasanya lebih membahagiakan dari duduk di kedai kopi dengan fasilitas yang memanjakan. Ada satu hal yang tak bisa dibagi di kedai kopi modern: sebuah kisah yang lahir di antara kopi. Menjembatani pertemuan kami dalam kesederhanaan.

Perjalanan kami harus berlanjut ke kebun lain. Kami pun berkemas-kemas dan menyudahi ritual ngopi ini. Dan kebahagiaan saya perihal pengalaman ngopi di kebun kopi ini dihadiahi oleh dua gigitan lintah yang semena-mena menghisap darah saya. Luar biasa!

Terima kasih kepada para petani di Sangir, Solok Selatan. Kalian mengajarkan saya untuk lebih membumi.

 

Sangir, Solok Selatan, Sumatera Barat, Indonesia 

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.