NGOPI SERU BERSAMA PRESIDEN JOKO WIDODO DI PERINGATAN HARI KOPI INTERNASIONAL

Orang nomor satu di Indonesia ini mengundang sejumlah pelaku, pegiat, pekerja dan petani kopi di hari istimewa: Hari Kesaktian Pancasila yang sekaligus menjadi Hari Kopi Internasional.

PRESIDEN Joko Widodo mengundang orang-orang dari berbagai kalangan sebetulnya bukan berita baru lagi. Beliau telah pernah mengundang sejumlah komedian, artis, blogger dan bahkan para pedagang kaki lima sebelumnya. Namun kali ini terasa istimewa—setidaknya bagi kami—karena Presiden mengundang berbagai kalangan yang terlibat di industri kopi, mulai hulu sampai hilir, mulai dari petani hingga pengusaha kopi untuk duduk bersama, ngopi bareng dan mengobrol tentang kopi. Topik yang benar-benar menarik dan kian seksi belakangan ini.

Otten Coffee beruntung sekali menjadi salah satu pelaku yang mendapat undangan khusus dari Istana untuk ngopi bareng sang Presiden. Bersama kami, turut hadir pula sejumlah selebritas seperti Chico Jericho dan Julie Estelle yang pernah membintangi film Filosofi Kopi, Dewi Lestari (sebagai ibu suri film dan cerita itu), para petani kopi dari berbagai daerah dan provinsi di Indonesia (salah satunya adalah Willie Sembiring yang sering kami sebut sebagai coffee local hero dari Tanah Karo), para barista, dan para pengusaha kopi.

Kota Bogor sempat mendung sebentar sebelum acara dimulai.

Istana Kepresidenan Bogor yang yang dibangun pada Agustus 1744 dipilih menjadi tempat perjamuan. Suasana sekitar Istana yang sejuk dan segar tampaknya menjadi favorit Presiden untuk mengadakan acara-acara yang lebih santai dan bersahabat. (Mantan Presiden Amerika, Barrack Obama, yang beberapa bulan lalu berkunjung ke Indonesia juga pernah dijamu di sini).

Di halaman belakang Istana, sekitar jam 4 sore, Presiden Jokowi yang saat itu tampak santai namun tak kehilangan keseriusannya menyapa kami, para pelaku kopi, yang sudah berkumpul dengan begitu antusias. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung seperti ciri khasnya selama ini, seolah-olah menunjukkan ia tak pernah berhenti bekerja meskipun saat itu adalah hari Minggu dan sedang libur. Dengan ramah, ia mulai menyalami kami satu per satu.

Pak Jokowi tiba di beranda belakang istana.

Di awal sambutannya, Pak Jokowi “mengingatkan kembali” agar kita tidak boleh lupa bahwa Indonesia benar-benar sebuah negara yang besar dan salah satu penghasil kopi terbanyak di dunia. “Kita tahu semuanya, Indonesia adalah produsen kopi ke-4 (terbesar di dunia). Di atasnya masih ada Brazil, Vietnam, Kolombia, baru Indonesia. Seharusnya kalau kita melihat di lapangan, misalnya di Aceh Tengah, di Gayo, di Bener Meriah, (lahan) itu ada. Terakhir kemarin, saya lihat di Jember juga ada. Banyak daerah-daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan termasuk di Papua memiliki kesempatan untuk membesarkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar di dunia. Karena lahan kita ada,” seru Pak Jokowi.

Maka sebagai salah satu langkah lanjutannya, Pak Jokowi turut memotivasi para pengusaha dan pelaku yang berada di hilir untuk mengembangkan industri kopi di Indonesia sampai ke beberapa tahap di atasnya. Jika selama ini sebagian besar pengusaha kopi lebih banyak bergerak di bidang penjualan green beans dan roasted beans (biji kopi yang sudah disangrai), maka sekarang saatnya untuk bergerak lebih dari itu. “Kita harus sudah mulai menjual brand, bukan hanya sekadar barang mentah,” kata Pak Jokowi. (Saya menangkapnya seperti ini: Jika merek Starbucks asal Amerika bisa sedemikian populernya di dunia—padahal mereka tidak menanam kopi—mengapa kita Indonesia sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia tidak bisa melakukannya juga?).

Memberi sambutan.

Karenanya, lanjut Presiden, peran anak-anak muda Indonesia adalah faktor penting yang paling dibutuhkan untuk semakin membesarkan dan menggeliatkan industri kopi di tanah air. (Tampaknya ini merupakan jawaban bagi keprihatinan Anomali Coffee yang saat itu menyebutkan bahwa generasi muda saat ini seolah-olah tak bangga lagi menjadi petani. Padahal kualitas kopi Indonesia sebetulnya tak kalah luar biasa dibandingkan Panama Geisha yang sekarang fenomenal).

Juga, bukan rahasia pula bila kreatifitas dan semangat anak-anak muda bisa menjadi kekuatan industri kopi di Indonesia. (Saya sudah melihatnya melalui Koperasi Solok Radjo di Sumatera Barat dimana hampir semua anggotanya berisikan anak-anak muda yang penuh semangat dan dedikasi). Presiden Jokowi berharap agar anak-anak muda di Indonesia bisa membantu para petani untuk fokus, bukan hanya pada tanaman kopi namun juga pada proses lanjutannya seperti pengemasan, pelatihan, hingga penjualan produk.

Pak Jokowi yang melek teknologi ini bahkan menyarankan lebih jauh agar penjualan produk kopi kini dipasarkan melalui ranah online. “Saya kira akan lebih gampang untuk kita masuk, dan bertarung di pasar dunia,” ujarnya. Tak lupa pula Presiden menekankan agar para pelaku industri kopi di hilir ikut memerhatikan kesejahteraan mereka yang berada di hulu, utamanya para petani dan kelompok kecil di bagian yang paling dasar. “Petani akan terangkat nilainya jika proses bisnis itu betul-betul kita kuasai,” lanjut Pak Jokowi.

Pemerintah tentu saja tidak tinggal diam untuk ini. Pak Jokowi berkomitmen untuk membantu mengembangkan industri kopi tanah air di segala lini. Salah satunya, seperti yang tadi disebutkan sebelumnya, dengan mendorong para pengusaha (dan anak-anak muda) untuk membuka lebih banyak kedai kopi dengan brand lokal. “Kalau punya brand, ya segera gitu (dieksekusi). Ndak punya modal? Beri tahu. Saya carikan!” canda Pak Jokowi yang segera disambut gelak tawa kami yang hadir di ruangan.

Sesi dialog.

Salah satu yang bagian cukup mengharukan adalah pada saat seorang petani dari Kabupaten Tolikara, Papua, menuturkan jika mereka cukup kesulitan baik pada saat memanen maupun memasarkan kopi. Dengan terbata-bata, petani ini mengakui bahwa kondisi jalan yang naik turun dan tidak terlalu bagus membuat para petani di wilayah Papua umumnya susah untuk memanen kopi. Setelah dipanen, mereka pun tidak tahu harus memasarkan kopinya kemana. Akibatnya, harga kopi Papua dijual dengan nominal yang cukup kecil dan barangkali tidak seimbang dengan kerja keras mereka. Padahal, menurut pengalaman saya, kopi-kopi single origin asal Papua termasuk biji kopi Indonesia dengan karakter dan citarasa terbaik.

“Sekali-sekali ke sana (ke Papua), biar tau,ujar Pak Jokowi kepada para pengusaha yang juga hadir saat itu sebagai respon kepada petani ini. Menurut beliau, para pengusaha yang masih ragu akan kualitas kopi asal wilayah paling timur Indonesia ini perlu mengunjungi perkebunan kopi di sana untuk membuktikannya sendiri.

Willie Sembiring mewakili petani Karo menyampaikan unek-uneknya.

Highlight berikutnya adalah harapan dari salah satu pelaku industri ini agar perkebunan kopi semakin diperbanyak lagi di Indonesia mengingat tren kedai kopi dan budaya minum kopi semakin meyakinkan pertumbuhannya. Alasannya, sekitar 20% kenaikan memerlukan biji kopi untuk dijual di pasar lokal, sementara pasar ekspor pun tidak kalah banyak permintaannya. Dikhawatirkan, karena ini kebutuhan untuk pasar lokal tidak tercukupi sehingga perkebunan kopi harus semakin diperluas dan diperbanyak lagi.

Sesi dialog dengan Pak Jokowi nyatanya tidak melulu serius. Ketika Surya Putra Sahetapy, putra dari aktor kawakan Ray Sahetapy yang sekaligus penyandang disabilitas tuli, mengajak Pak Jokowi belajar Bahasa Isyarat, suasana pun semakin mencair dan hangat. Meskipun khususnya ia menujukan itu untuk Pak Jokowi, tapi semua yang hadir termasuk Pak Triawan Munaf pun jadi ikut-ikutan menggerakkan bahasa isyarat yang menyatakan “Saya Bapak Jokowi. Saya cinta kopi Indonesia!”

Evani Jesslyn ikut membuat kopi di event ini.
Ada pameran kopi juga.
Ada yang membawa kopi Lintong juga.

Selain bincang-bincang, dalam kegiatan itu juga turut dihadirkan pameran kopi-kopi single origin dari berbagai wilayah di Indonesia. Kami menemukan antara lain pameran kopi dari Sumatera seperti Lintong dan Minang Solok, Sulawesi, dan sebagainya. (Evani Jesslyn juga sempat menyeduh kopi di acara ini). Acara ngopi bareng ini ditutup dengan sesi foto bersama di halaman belakang Istana.

Pada akhirnya, semoga pertemuan dan acara ngopi santai bareng Presiden ini bisa semakin melecutkan semangat para pelaku, pegiat, dan segala pihak yang terlibat dalam industri kopi Indonesia untuk semakin memajukan kopi di tanah air. Karena kopi kini adalah sebuah seni. Sekarang saatnya orang Indonesia juga boleh menikmati kopi berkualitas terbaik persembahan bumi Nusantara, dan menjadikannya salah satu kopi terbaik di dunia. Terima kasih kepada Kepala Staf Kepresidenan, Mas Teten Masduki, dan Kepala Bekraf, Pak Triawan Munaf, yang telah mengundang Otten Coffee turut serta.

Salam mengopikan Indonesia.

9,376 total views, 8 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

1 Comment
  1. Dear Otten,

    It is a good article, photos, moment…
    Hope the coffee lovers could realize that Indonesia is amazing especially for coffee

    With a cup of coffee – could create a lot of stories in every moment…

    Regards.

Leave a Reply

Your email address will not be published.