NGOPILAH TANPA RASA TAKUT

Setiap orang berhak menikmati kopi menurut kepercayaan dan keinginannya masing-masing. Tapi pada praktiknya, menikmati kopi tanpa penghakiman agaknya susah-susah gampang.

MERIAHNYA geliat kopi di nusantara membuat banyak orang tiba-tiba menjadi pembela kopi, sejatinya kopi. Padahal kita sama-sama tahu bahwa kopi bukanlah tawanan tak perlu ada pembela, tak perlu ada pembelaan. Namun industri yang tumbuh membuat golongan-golongan baru muncul. Sang purist, si peminum kopi anticampur sana-sini. Sang pendekar, yang kerap menangkis kesalahan-kesalahan penyeduhan yang tak sesuai dengan isi kepalanya.

credit: autostraddle.com

Pendekar kopi adalah gejala, bisa baik bisa juga buruk. Mereka ada karena antusiasme dan gairahnya yang tinggi terhadap kopi. Itu kenapa kerap mereka khawatir perihal kekeliruan barista saat menyeduh yang kemudian mengakibatkan barista merasa sebal dan tertekan.

Pendekar kopi adalah satu dari gejala perkopian kita. Tak apa, keberadaan pelanggan jenis ini memberi warna. Di sisi lain ada para barista berilmu tinggi yang kerap menganggap pelanggan yang memesan kopi ‘manis’ sebagai golongan paling ‘sudra’ di kasta perkopian. Padahal pelanggan itu raja, apapun yang dia pesan. Tapi namanya juga manusia, penilaiannya tak ada yang bisa menjangkau.

Gejala-gejala ini adalah sedikit dari contoh ‘ketidakasyikan’ berkembangnya industri ini. Semakin besar dan luas kopi menjangkau, semakin banyak pula ragam manusia yang kurang bisa santai dalam urusan kopi ini. Akibatnya, banyak orang yang ngopi dengan rasa takut. Bukan dalam arti sebenarnya tentunya. Namun lebih ke arah ‘malas’ berdebat dan tak suka dianggap sebelah mata.

Saya sendiri menganggap ini sebagai fenomena, jika tak mau menyebutnya sebagai risiko dari perkembangan industri. Kejadian ini tak hanya terjadi di kopi saja. Di produk minuman lain seperti teh dan wine juga pasti ada kalangan yang begini.

Namun saya agak menyayangkan jika perbedaan terhadap cara menikmati kopi ini justru menjadi jurang yang tak lagi mempersatukan penikmat kopi. Dan kita seketika lupa bahwa kopi bertujuan menyatukan banyak kepala, bukan membentur. Kopi pun bertujuan membuat kita lebih santai bukan mendadak takut.

Akhir kata artikel ini hanya sebagai unek-unek saja. Semoga tidak dimasukkan ke hati. Karena kita semua berhak ngopi tanpa rasa takut. 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.