NONGKRONG RASA MANCANEGARA DI MONOLOG QUALITY COFFEE CO.

Tanpa bermaksud berlebihan, ngopi di café ini serasa lagi nongkrong di Melbourne.

BUKAN tanpa alasan mengingat café yang katanya hits di Plaza Senayan ini memang banyak ditongkrongin oleh wajah-wajah asing. Pun ketika pertama kali datang, yang saya lihat adalah sekolompok bule yang sedang asyik menyesap kopi sambil bercengkerama di teras luar. Ketika masuk ke dalamnya, gaya industrial yang vintage namun tetap stylish segera menggenapkan impresi pertama saya akan café ini. Tak perlu semenit untuk tahu bahwa saya menggumam “wow” dalam hati sembari menyusuri gang di dalam café untuk mencari tempat duduk kosong—yang ternyata tidak kami temui sehingga kami pun harus duduk di teras luar, di samping bule-bule tadi. Well, siapa sangka duduk di teras luar justru memberi saya vibe yang lebih kerasa.

monolog coffee

monolog coffee

By the way, meskipun ramai tapi (ajaibnya) café ini tidak terasa sesak. Atmosfernya menyenangkan dan nggak riuh sehingga kalau pun ingin duduk sendiri, ngopi sambil kerja di depan laptop, tempat ini pun masih termasuk nyaman. (Buktinya ada seorang bule yang duduk di belakang saya, yang sejak datang sampai cabut dia masih aja betah duduk di sana. Lol). Barangkali karena café ini memiliki pencahayaan yang soft plus dekorasi dan interior yang unik, sehingga entah disadari atau tidak, jadi faktor pendukung yang membuat orang betah berlama-lama di sana.

monolog coffee
Bule is almost everywhere. Bahkan baristanya juga. 😀
menu monolog coffee
Menu kopinya lengkap!

Soal menu, sesuai namanya: Monolog Quality Coffee Co., café yang dimiliki oleh salah satu finalis Indonesia Barista Competition 2011 ini tampaknya memang tidak main-main, terutama untuk urusan kopi. Banyak variasi coffee beverages yang cukup lengkap (dan sepertinya memang berkualitas :p) yang saya temui di menunya, mulai dari hot sampai iced. Tinggal pilih saja, kalian lebih cocok dengan kopi yang bagaimana.

Sebagai kopi pertama saya memesan espresso, seperti biasa. Ketika datang, tampilannya benar-benar mengesankan. Satu shot espresso disajikan dalam espresso cup yang didesain sedemikian rupa sehingga menyisakan tulisan Monolog di bagian atas cangkirnya. Well, well, well… bahkan sampai detail sekecil itu saja pun diperhatikan. Saya kembali mengapresiasi dalam hati. Jadi rasanya wajar ‘kan kalau saya bilang Monolog tampak tidak main-main membangun café (dan coffee shop) yang benar-benar menyajikan kopi sebenarnya.

monolog coffee
Espresso pesanan saya. :p

 

monolog coffee
Mendukung komunitas seniman lokal adalah salah satu “misi” yang coba diusung cafe ini.

Setelah agak lama nongkrong, Bernice melongok ke bagian dalam café. Ia kelihatan girang ketika menemukan seperangkat alat-alat manual brew dipajang di sana. Ia mencoba memesan satu menu kopi manual brewed, tapi sayangnya menurut sang barista di sana, menu manual brew itu belum ready. Yaaah… Padahal kami sudah penasaran sekali, pengin mencoba bagaimana rasa kopi manual brew di café yang hyped ini. Apakah rasanya juga se-hyped café-nya? Ya, mungkin lain kali. 

Set manual brew di Monolog
Set manual brew di Monolog

To conclude, Monolog termasuk café yang cozy bukan cuma untuk nongkrong bersama teman, tapi juga untuk menikmati me-time. Ia memiliki semacam coffee shop mood-vibes yang, menurut saya sih, bisa jadi booster kalau lagi kerja. Sendirian. Di depan laptop. :p

 

Monolog Quality Coffee Co.
Plaza Senayan, Palm Gate Entrance Unit CP 101 B
Jl. Asia Afrika No. 8
Jakarta

mesin-espresso

284 total views, 4 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.