OMPUGENDE COFFEE: MEMADUKAN KOPI MODERN DAN BUDAYA LOKAL

Minum kopi dan menikmati makanan khas Mandailing.

KEDAI kopi ini tergolong hits di kalangan “anak gaul” sekota Medan terutama sejak setahun terakhir. Patokannya konon karena beberapa what-so-called selebgram tampak nongkrong di sini beberapa kali ini meskipun bagi saya itu biasa saja. Bagi beberapa penggemar kopi dari luar kota, kesan pertama mereka tentang kedai ini sebagian besar mengingatkan akan satu kedai kopi merangkap roastery yang cukup terkenal di ibukota. Bagian luar ruangannya memiliki konsep piknik di atas rerumputan, sambil lesehan, dan menikmati kopi atau makanan.

Ompugende Coffee sendiri dimiliki oleh Ikhlas Hutasuhut, seorang anak muda penuh semangat penggemar kompetisi yang pernah beberapa kali mencari pengalaman di kedai kopi lain sebagai barista sebelum akhirnya memutuskan membuka kafenya sendiri dan menumpahkan segala unek-unek isi kepalanya di sana. Di awal-awal membuka kedai ini beberapa tahun lalu, Ikhlas pernah bercerita pada saya bahwa ia bercita-cita memadukan kopi berkonsep modern dengan kearifan lokal. Selama ini, sudah terlalu banyak kedai kopi modern di Indonesia yang terlalu modern, atau kalaupun tradional, ia benar-benar tradisional sama sekali tanpa menyentuh peradaban. Jarang sekali ada kedai kopi modern di Indonesia yang juga merangkul budaya lokal—padahal sebagai sebuah bangsa yang sangat kaya budaya, harusnya itu menjadi sebuah kebanggaan. Ikhlas melihat celah itu dan kemudian merealisasikannya dalam bentuk Ompugende Coffee ini.

Tampak depan.
Untuk diperhatikan.
Perangkat tempur Ompugende.

Nama Ompugende sendiri merupakan nama sebuah klan pada suku Mandailing, di Sumatera Utara. Klan dimana keturunan marga Ikhlas berasal. Maka Ompugende Coffee ini terlihat seperti fusion antara kedai kopi modern yang sedikit mengarah ke Melbourne style dan jajaran menu yang sebagian besar diisi oleh makanan-makanan khas tradisional Mandailing dengan rasa eksotis dan ‘penuh rempah’.

Kedai ini memiliki tampilan interior khas kedai kopi di kota besar pada umumnya, dengan beberapa kutipan nyeleneh khas ocehan pemiliknya di beberapa dinding. Bagian dalam adalah area non smoking, sementara bagian luar ditujukan bagi mereka yang ingin sedikit “menghirup udara segar”.

Saat saya datang, Ompugende ternyata sudah mengganti mesin espressonya. Sebuah mesin espresso Faema E61 klasik bertengger dengan anggun di meja bar. (Sebelumnya mereka menggunakan La Marzocco Linea Mini yang kini dioperasikan untuk keperluan event). Di sampingnya berjejer dua mesin grinder Mazzer untuk keperluan espresso dan Mahlkonig EK43 untuk manual brew. Untuk pilihan menu kopi, selain beans asli Sumatera Utara mereka juga kerap menghadirkan biji-biji kopi tamu mengingat Ikhlas cukup rajin berburu kopi dari roastery luar.

Lineup kopi-kopi tamu hari itu.
Suasana bagian dalam.
Barista Ompugende.

Saya memesan Gayo honey yang diproses oleh bang Hendra Maulizar. Sesuai ekspektasi, kopi ini memiliki rasa yang sangat menarik dengan sweetness cukup menonjol, sesuai dengan karakter favorit saya. (Range harga kopinya berkisar antara 20rb hingga 30rb tergantung jenis beans-nya). Karena datang di saat lapar, saya memesan menu chicken rosemary (28k) yang rasanya enak sekali. Menu western yang citarasanya sedikit dimodifikasi untuk memenuhi “kriteria lidah Medan”.

Seperti konsep yang mereka usung, Ompugende Coffee sebenarnya juga mengunggulkan makanan-makanan khas Mandailing sebagai menu utama. Salah satunya adalah Ikan Jurung Gulai (35k), yang berisi ikan jurung asap dibubuhi bumbu gulai, sayur, dan nasi. (Jika kalian mampir ke sini, silakan tanyakan baristanya menu tradisional Mandailing apa yang sedang mereka siapkan di hari itu karena umumnya mereka memiliki tawaran menu berbeda setiap hari).

Chicken rosemary.
Ikan Jurung Gulai.
Gayo honey.

Menjelang malam, Ompugende Coffee terlihat semakin ramai. Apalagi hujan baru saja reda. Tikar-tikar digelar di pekarangan rumput di bagian luar, ditambah penerangan lampu-lampu pijar yang digantung seperti di pasar karnaval. Pengunjung yang datang untuk nongkrong bersama teman-teman kebanyakan akan lebih memilih ngopi di bagian luar ruang ini mengingat suasananya yang santai dan lebih friendly.

Tulisan di dinding: “Valentine bukan budaya kita. Budaya kita membuang sampah sembarangan.”

Untuk varian menu-menu kopi, “tak perlu diragukan lagi” barangkali adalah jargon yang sudah biasa. Tapi untuk menu-menu main course tradisional Mandailing yang ditawarkannya, nah, itu sungguh layak dicoba.

 

Ompugende Coffee

Jl. Chrysant Blok e no 76, Tasbih 1, Medan

Business hours:

Senin – Jumat: 9.30 – 21.30

Sabtu 10.00 – 23.30

Minggu 10.00 s/d 21.30

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menggemari komik, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.