PENGETAHUAN TENTANG KOPI UNTUK PEMULA

Ingat! Artikel yang satu ini hanya ditujukan untuk mereka yang baru mulai mencintai kopi. Bukan untuk mereka yang sudah mengerti dan paham dari jauh-jauh hari.

Dunia perkopian berkembang dengan pesatnya akhir-akhir ini. Mereka yang mulanya hanya sekedar menikmati kopi instan dan (paling-paling) kopi tubruk di rumah kini telah beranjak ke kedai kopi dan menikmati aneka kopi dari mesin espresso. Kabar baiknya banyak penikmat kopi pemula yang menikmati kopi dengan level lebih tinggi.

Yang dulunya mungkin hanya mampu menikmati frappe dan kopi-kopi bercampur gula dan krim kini bergeser menikmati cappuccino tanpa gula. Seiring dengan perkembangannya, banyak dari pemula yang belum tahu beberapa hal tentang kopi yang mereka nikmati. Dan untuk itu artikel ini dipersembahkan dengan senang hati untuk mereka agar tak lagi keliru soal fakta tentang kopi.

Arabika VS Robusta

Arabika dan robusta adalah dua jenis kopi yang berbeda. Arabika memiliki kadar kafein lebih rendah dari robusta. Arabika adalah jenis kopi yang paling banyak di konsumsi di dunia. Robusta harganya lebih murah dari arabika, meski rasanya lebih pahit. Kopi yang sering dijual di pasar umumnya adalah robusta, bisa jadi karena harganya lebih ekonomis.

Kopi Tak Melulu Hitam dan Pahit

Di mindset kebanyakan masyarakat Indonesia kopi haruslah hitam dan pahit. Padahal seharusnya tidak begitu. Robusta yang disangrai dengan gelap tentulah memberi pahit yang luar biasa dahsyat. Kehitaman dan kepahitan tingkat kopi berasal dari proses penyangraiannya (roasting). Semakin lama biji kopi disangrai maka akan semakin pahit dan hitamlah kopi tersebut. Ada tiga tingkat proses penyangraian yaitu light, medium dan dark. Sebaiknya kopi tidak disangrai terlalu dark karena akan menghilangkan karakteristik biji kopi tersebut.

Kopi Memiliki Beragam Rasa

Well, ‘beragam rasa’ yang dimaksud di sini adalah after taste. After taste adalah flavour atau rasa yang tertinggal di mulut pada saat meneguk kopi. Mungkin kamu belum tahu kalau kopi mampu memberikan aneka after taste pada saat diminum. Tak semua kopi memiliki karakteristik sama terutama saat dinikmati melalui metode manual brewing. Ada kopi yang after taste-nya nutty, cocoa atau justru karamel. Ada juga yang after taste-nya jeruk atau bisa juga stroberi. Kenapa bisa demikian? Itu tergantung kontur tanah dan di mana kopi itu berasal dan di mana kopi itu ditanam. Kopi adalah tanaman unik yang ternyata juga bisa menyerap ‘rasa’ dari tanaman yang ada di dekatnya. Keunikannya ini menjadikan kopi istimewa. Kini banyak para ahli kopi yang mencari kopi-kopi unik di seluruh dunia untuk menemukan after taste-nya.

Perjalanan Kopi Sebelum Sampai ke Cangkirmu

Kopi memiliki perjalanan panjang sebelum kita nikmati. Awalnya kopi ditanam oleh petani. Saat panen petani memetik cherry kopi (buah kopi) dan memisahkan bijinya dari buahnya. Ada beberapa proses yang dilakukan dalam tahap ini ada wet process, honey process dan lain-lain. Setelah biji kopi dan buahnya terpisah maka biji kopi yang mentah harus dijemur beberapa waktu sampai kadar airnya berada di tingkat yang telah ditentukan. Setelah itu green bean atau biji kopi hijau ini dijual ke roaster (penyangrai kopi) atau perusahaan yang mengolah sendiri biji hijau mereka.

Green bean siap disangrai (roasting) sesuai keinginan atau karakteristik bijinya oleh roaster. Tidak semua biji mampu disangrai medium atau dark karena setiap biji memiliki karakteristik masing-masing. Setelah disangrai maka biji kopi tersebut siap diolah barista menjadi minuman. Tetapi sebelumnya harus digiling dahulu sesuai permintaan. Setelah digiling bubuk kopi siap dinikmati menjadi aneka minuman nikmat.

Pahitnya Kopi

Buah kopi itu manis rasanya. Lalu kenapa kopi bisa pahit? Pahitnya kopi lahir karena proses penyangraian (roasting) meski ada juga yang berasal dari karakteristik bijinya. Selain itu ada alasan lain yang menunjang pahitnya kopi yaitu suhu dan tingkat kehalusan. Semakin tinggi suhu air yang digunakan untuk menyeduh kopi maka makin pahitlah kopinya. Dan semakin halus tingkat kehalusan bubuk kopi, maka kopi juga akan semakin pahit. Sesederhana itu.

 

 

 

beli-kopi

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

31 Comments
    1. Dewo: semua jg berawal dari kopi manis dan susu ko, nanti setelah kita terbiasa dengan kopi pahit, kopi manis sudah terasa ringan dan biasa saja
      Kebetulan dulu saya ga suka kopi, tapi akhir’y saya memulai’y dari espresso meski pahit d awal sekarang malah minuma yg selalu menamani saya d kedainkopi ^_^

  1. Pernah baca sebuah postingan di sbuah blog, kurang lebih begini isinya;
    “Sangat ironis, negri yg memiliki rasa kopi terbaik di dunia sejak jaman penjajahan Belanda (java, gayo, sidikalang coffe dan lainnya) tetapi mayoritas rakyatnya peminum kopi sachet”
    Hahahahahhaa . . . .

    Saya hanya peminum kopi pemula yg mulai mencoba menikmati kopi hasil roasting trdisional daerah, baru tersadar setelah mmbaca potingan tsb.

    Thank’s infonya, sangat informatif

  2. Admin Otten, boleh referensi biji kopi terbaik ada di kota mana ya di Indonesia, atau yang paling banyak dikomsumsi oleh masyarakat luas? Terima Kasih Admin Otten

  3. Salam min. Artikelnya bermanfaat banget. Tapi kurang setuju pada poin “Pahitnya Kopi”. Kopi yang baru dipetik itu manis bukan karna bijinya tapi karna kulit dan lendirnya. Sementara, biji kopi itu sendiri memang pahit meskipun baru dipetik. Saya tau karna udah pernah nyoba dan punya kebun kopi. sekedar sharing. sukses terus miin. terima kasih

  4. Artikelnya bagus. Kalau bisa lebih dilanjutkan lagi sampai proses ke coffee yang sekarang sudah sering diketahui sebagai cappuccino, latte, espresso hingga coffee mix. Thanks.

  5. Saya suka setiap artikel di majalah ottencoffe, membuka pengetahuan kita akan kopi, terlebih negara kita adalah negara terbesar penghasil kopi keempat setelah, Brazil, Vietnam dan Columbia. Thanks Otten, ditunggu artikel lebih lengkap mengenai kopi Arabica dan Robusta, cupping process, dll. hehehe

  6. Artikel di majalah Otten Coffee sangat bermanfa’at … saya dari Lampung kopinya pasti robusta, tapi di Lampung tidak punya tradisi ngopi seperti di Aceh, kedai kopi Aceh banyak di Lampung, sa’at ini mulai bermunculan kedai kedai modern dan berkembang sangat pesat, sekedar info dari Bandar Lampung … Salam Robusta …

  7. Arabika adalah jenis kopi yang paling banyak di konsumsi di dunia. Robusta harganya lebih murah dari arabika,
    meski rasanya lebih pahit. Kopi yang sering dijual di pasar umumnya adalah robusta, bisa jadi karena harganya lebih ekonomis.
    Lalu arabica pasarnya?.
    Karna Arabica lebih banyak pengkonsumsinya. Apakah ia tdk melewati pasar?
    ATau karna robusta lebih ekonomis? Tpi knpa arabica lebih banyak di konsumsi di dunia?
    Mohon klasifikasi bg🙏

  8. “Kebanyakan warkop (warung kopi) di Palu biasanya dipenuhi pejabat-pejabat dan orang-orang partai, atau pekerja swasta lainnya. Kalo untuk anak muda jarang saya temui seperti di Kopitaro gitu.” Ujar Gunawan, pemuda penyeduh kopi yang belajar dari nol tentang kopi di Kopitaro.

    Kopitaro berdiri tahun 2016. Semangat pendiriannya adalah semangat intelektual, sebab selain kopi, Kopitaro juga menyediakan ruang diskusi yang hangat bagi pendatang baru maupun langganannya. Sang pemilik, Sabda Tarotinarta adalah seorang dosen muda Universitas Tadulako yang menyadari betul bahwa anak muda butuh ruang diskursif. Maka ia senantiasa berada di Kopitaro untuk membuka diri terhadap isu-isu yang sedang hangat di kalangan anak muda.

  9. Makasih banget artikelnya. Saya sudah lama sekali menjadi penikmat kopi, tapi baru sekitar 2-3 tahun ini menyukai black coffee tanpa gula. Saya ingin sekali memperdalam ilmu tentang kopi, yang mungkin nanti barangkali bisa jadi modal sy untuk bisnis kedai kopi.

  10. indonesia kaya akan beranekaragam kopi, bersyukur atas semua itu. mari belajar membuat kopi dengan alat2 yang telah ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published.