PERBEDAAN PEMINUM KOPI DENGAN SOCIAL DRINKER

Kedai kopi adalah tempat paling benar untuk mengamati tingkah dan polah manusia yang berupa-rupa. Seperti dunia, kedai kopi adalah wadah mengerucut untuk mengamati peminum kopi dan cara mereka dalam mengapresiasi kopi yang dinikmatinya.

Saya gemar duduk di kedai kopi. Alasan pertama karena saya ingin minum kopi, alasan kedua karena saya gemar mengamati manusia sepaket dengan tingkahnya yang warna-warni. Kedai kopi adalah semesta kecil ketika manusia dan kopi lebur menjadi tontonan menarik yang menghibur. Alih-alih menonton televisi, saya lebih suka menonton orang-orang dengan isi kepalanya masing-masing dan kisahnya masing-masing. Di kedai kopi pulalah saya menyimpulkan bahwa hanya ada dua jenis peminum kopi yaitu peminum kopi (real coffee drinker) dan penongkrong kedai kopi (social drinker). Berikut perbedaan keduanya.

Kopi yang Dipesan

Kata seorang bijak, kopi yang dipesan peminumnya adalah cermin kepribadian para peminumnya. Dan tentu peminum kopi sejati dan social drinker memiliki berbedaan paling hakiki dari menu kopi yang mereka pesan saat nongkrong di kedai kopi. Peminum kopi sejati biasanya adalah purist. Mereka mencintai kopi hitam asli yang tak dicemari apapun. Jika kamu melihat seseorang memesan kopi melalui manual brew method bisa jadi dia adalah peminum kopi. Atau sesekali mungkin mereka memesan long black, espresso atau something milky like cappuccino. Mereka takkan menambahkan gula pada kopinya. Mereka juga tak pernah memesan iced blended atau milk shake yang kaya akan sirup yang bukan kopi. Jika ingin kopi dingin, peminum kopi paling-paling memesan iced Americano atau cold brew coffee.

Berbeda dengan social drinker yang seringnya ke kedai kopi bukan untuk minum kopi melainkan nongkrong. Social drinker tidak melulu memesan menu kopi. Mereka bukan peminum kopi, oleh karena itu sah saja bagi mereka untuk memesan menu kopi semacam ice blended atau milk shake. Jangan harap mereka mengerti seluk beluk kopi. Buat mereka kopi takkan nikmat jika rasanya tak manis. Social drinker adalah makhluk fleksibel di kedai kopi. Mereka tak keberatan nongkrong di kedai kopi bersama peminum kopi sungguhan. Karena buat mereka bukan soal minum apa, tetapi nongkrong di mana dan dengan siapa.

Tingkah Laku Selama di Kedai Kopi

Peminum kopi tak keberatan nongkrong di kedai kopi sendirian. Mereka akan fokus pada kopi yang diminumnya dengan senang hati meski tanpa teman. Yah walau tak keberatan juga nongkrong bareng peminum kopi lainnya. Buat mereka minum kopi bukanlah hal yang keren. Tapi lebih menjadi ritual yang akan terasa kurang jika dilewatkan.

Social drinker memiliki tujuan lebih dari sekedar ngopi jika nongkrong di kedai kopi. Oleh karena itu, mereka biasanya datang bersama teman atau at least tak sendirian. Jujur, beberapa dari mereka masih menganggap ngopi adalah gaya hidup kekinian yang memberikan rasa bangga. Dan seringnya keberadaan mereka di kedai kopi harus segera disiarkan ke ranah media sosial. Tak melulu buruk, social drinker tahu benar menikmati suasana kedai kopi dengan maksimal. Meskit tak memesan kopi, mereka menikmati segala hal yang didukung kenyamanan kedai kopi.

Interaksi dengan Barista

Peminum kopi biasanya memiliki kedai kopi favorit yang kerap dia datangi. Karena seringnya ngopi di sebuah kedai kopi, maka biasanya mereka berteman dengan barista-barista yang ada di sana. Keakraban peminum kopi dan barista terlihat jelas saat mereka ngobrol sesekali. Barista juga tahu persis menu kopi apa yang akan dipesan peminum kopi ini. Jika ada sesuatu yang baru di kedai kopi tersebut, maka barista takkan segan-segan memberi tahu si peminum kopi yang menjadi pelanggan setianya.

Social drinker adalah mereka yang kerap melompat dari satu coffee shop ke coffee shop lainnya. Mereka akan singgah di kedai kopi dengan dua alasan: diajak teman atau kedai kopi tersebut sedang happening. Tak ada keterikatan mereka terhadap sebuah kedai kopi. Oleh karena itu, tak ada keterikatan dan interaksi berarti dengan barista kecuali hanya untuk urusan jual beli kopi. Meski begitu tak menutup kemungkinan para social drinker memiliki teman yang berprofesi sebagai barista.

Itulah tiga dari hasil pengamatan saya terhadap dua jenis manusia yang singgah di kedai kopi. Tulisan ini sifatnya sangat personal dan berdasarkan pengalaman pribadi setelah singgah di berpuluh kedai kopi di Indonesia maupun luar negeri. Kalau kalian ada pengalaman mengamati manusia di kedai kopi juga nggak?

 

coffee-roaster

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

4 Comments
  1. Saya pencinta kopi tp bukan peminum kopi sejati karna sekarang saya “latte person”. Kenal kopi sejak kecil, sewaktu di sekolah menengah atas sdh addicted bgt dengan kopi ala “mamang-mamang” alias kopi tubruk. Apalagi di temenin pisang goreng. Tp hrs berakhir dg maag Kronis ?. Sesudah mengenal teknik cold brew. Saya membuat sendiri di rumah. saya suka berjam-jam ngobrol soal kopi, apalagi dg barista, sy jg suka berekperimen dg berbagai manual brew di rumah, Tp saat di cafe saya tak jarang malah lebih memesan teh bukan kopi. Jadi menurut saya, sekarang ini susah untuk menilai orang dari apa yg mereka minum, terkadang ada yg memesan kopi dg manual brew metode hanya karna caranya terlihat keren dan kekinian, atau memesan espresso hanya krn asal pilih biar dibilang gaul ? pdhl langsung nyesel sesudah tau ???. jd belum tentu penikmat “cookies n cream” itu bukan pencinta/penikmat kopi sejati, bahkan ada yg mengenal kopi mulai dari biji smp metode “brew” bahkan ada yg punya kedai kopi tp wkt di cafe pesennya minuman para social drinker, tp ini sih menurut pengamatan dan pengalaman saya..panjang deh nulisnya, dah kayak novel hehehehe.

  2. Artikel yg sangat bagus, sebelum saya terjunbdi dunia barista, saya sudah suka minum kopi sejak kecil tepatnya setelah lulus SD, walaupun kopi yg diminum masih terbilang light, karena ibu saya menyukai jamaica coffee, tentu kopi yg di hidangkan pun sama saja, hhhhh.
    Setelah saya terjun di dunia barista, saya pun baru mengetahui apa sebenarnya kopi itu,,,, at least saya jadi pencinta kopi ketika kuliah, sampai teman” selalu meledek ntar cepat tua,,, karena peminum kopi sejati itu dia bisa merasakan the real taste of coffee mulai dari aromanya, pasti sudah mengetahui bagaimana dengan karakteristik coffee tersebut…

Leave a Reply to krish Cancel reply

Your email address will not be published.