PRESS OFFICE CAFÉ: SENTUHAN ARTISTIK DI YANGON

Menemukan kedai kopi yang sebenar-benarnya kedai kopi di sebuah negara yang baru membuka diri adalah sebuah kejutan. Manis dan menyenangkan.

WHAT do you expect? Saya berusaha mengingatkan diri sendiri ketika mencoba mencari kedai kopi di Yangon. Mengingat Myanmar benar-benar masih baru membuka diri terhadap dunia luar setelah perang dan konflik berkepanjangan, saya memilih tidak berharap lebih.

Dan berbekal info yang didapat dari internet, saya seperti menemukan semacam harapan akan kedai kopi yang setidaknya bisa memenuhi kebutuhan kafein hari itu. Karena di Yangon tidak ada transportasi publik, plus saya juga nggak tahu-tahu amat dimana lokasi tepatnya, saya pun memberi alamat café ini kepada supir taksi yang saya pesan. Tinggal duduk tenang di belakang sambil menikmati pemandangan kota Yangon dan biarkan si supir yang mencari tempatnya. 😀

The Press Office café ternyata berada di area urban kota Yangon, yang berarti banyak gerai, café dan restoran (sebagian merupakan franchise luar negeri) juga berada di area ini. Saya memasuki café dan menemukan suasana yang cukup tenang di dalamnya. Selain tiga barista lokal, hanya ada satu cowok bule yang berada di café itu—belakangan saya tahu ternyata mereka memiliki 2 lantai. Nah yang paling banyak ditempati para pelanggan adalah lantai dua, mungkin supaya bisa nyantai sambil cuci mata dari tempat yang lebih tinggi.

Press Office Cafe dari luar
Press Office Cafe tampak luar
press-office-CAFE
Bar Press Office Cafe

Saya memesan cappuccino sambil mencoba ngobrol dengan baristanya. Untungnya mereka bisa berbahasa Inggris meski tidak terlalu lancar-lancar amat. Menemukan orang lokal di Myanmar, selain di daerah wisata, yang setidaknya mengerti Bahasa Inggris hampir sama susahnya seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Lol.

“Boleh saya foto tempatnya?” tanya saya. “Ya, silakan,” jawab baristanya ramah sambil meracik cappuccino saya. Si bule melirik sekilas ketika saya mulai memotret. Barangkali perhatiannya sedikit terdistraksi karena bunyi shutter saya. Atau mungkin dia penasaran saja, kok café yang tadinya tenang tentram tiba-tiba rusuh sejak saya datang. Haha…

menu-kopi-di-press-office
Menu di cafe-nya
interior dalamnya
Tampilan interiornya

Ada kesan sangat menyenangkan yang diberikan kedai kopi ini. Interiornya dipenuhi berbagai karya seni minimalis buatan artists lokal Yangon, seolah menguatkan jargon yang mereka usung: Made in Yangon. Tiga poster bergaya indie digantung di satu sisi dinding, sementara di sudut lain kita bisa menemukan macam-macam postcard atau kartu ucapan yang lagi-lagi didesain sendiri oleh artists lokal. Selagi melihat-lihat isi kedainya, telinga saya tiba-tiba disentil oleh sebuah penggalan musik dari Of Monster and Men. Oh, wow. Ternyata mereka juga memutarkan playlist berisi lagu-lagu indie dan itu adalah nilai yang sangat wow, melebihi apa yang saya ekspektasikan di awal.

Meski baru eksis 8 bulan tapi café ini sudah sangat oke sebagai coffee shop, terutama karena, sekali lagi, mengingat itu adalah Yangon yang sedang mengenal budaya kopi. (FYI, di semua coffee shop yang saya datangi di Myanmar semua pengunjungnya adalah bule-bule atau turis pendatang, bukan orang lokal). Selain menggunakan mesin espresso Conti dan grinder Mazzer, The Press Office Café ternyata juga memiliki Hario french press berikut manual grinder-nya. Sayangnya saya belum bisa memesan menu manual brew. “Not yet ready,” kata baristanya.

press-office-CAFE
Pengunjungnya kebanyakan bule.

Bisa 'menitipkan' kartu pos juga di sini. :p

Bisa ‘menitipkan’ kartu pos juga di sini. :p

baristanya lagi meracik cappuccino pesanan saya.
baristanya lagi meracik cappuccino pesanan saya.

Untuk menu kopi mereka juga cukup lengkap dengan menawarkan bukan hanya menu-menu espresso based, tapi juga sudah varian lain yang melibatkan campuran susu dan komposisi mocha atau coklat. Nah, yang bikin surprised lagi adalah mereka tidak menyediakan menu makanan berat selain camilan ringan pendamping kopi semacam croissant atau kue-kuean. It’s a seriously coffee shop, bukan restoran yang menyamar sebagai kedai kopi. Lol.

Puas memotret ternyata cappuccino saya sudah selesai sejak tadi. Dan lagi-lagi, saya surprised karena mendapati cappuccino saya disajikan dalam bentuk yang sebenar-benarnya cappuccino. Tidak ada “latte art”, hanya bubuk coklat yang ditaburkan di atas foam-nya yang tebal. Saya pun menyeruput cappuccino itu dengan senang, sambil sesekali melirik si bule di sebelah saya yang sepertinya sedang stress karena deadline. Haha…

Here we go.
This is it, cappuccino a la Press Office Cafe. :p

The Press Office Café, YANGON

Bo Yar Nyunt Road, dekat persimpangan Nawaday Street, Yaw Min Gyi area.

Selasa – Jumat: 8 am – 8 pm

Sabtu – Minggu: 10 am – 8 pm

Senin tutup

 

 

barista-tools

172 total views, 6 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.