PUBLIC CUPPING OLEH KOMUNITAS BARISTA MEDAN

Sebuah acara uji citarasa kopi yang menyerupai ‘The Fellowship of the Coffee Roastery’.

PERHELATAN uji citarasa kopi—yang belakangan kerap disebut cupping saja—semakin menjadi kegiatan yang trendi menyusul perkembangan mode “era gelombang ketiga” pada kopi yang tampaknya telah menghampiri semua kalangan, termasuk yang tadinya bukan penggemar kopi sekalipun. Jika kebanyakan acara cupping umumnya diselenggarakan oleh hanya satu kedai kopi, kafe atau roastery saja (yang itu pun sesekali ditujukan untuk golongan terbatas), maka pada Sabtu 22 Desember 2018 lalu sebuah komunitas yang sebagian besarnya berisikan para barista—dan sisanya adalah coffee roaster, yaitu Medan Barista Community (MBC), mengadakan acara public cupping yang konon “dipersembahkan untuk seluruh pencinta kopi di kota Medan”. Karenanya, acara ini tentu saja terbuka untuk umum, dan gratis.

Menurut Koqo, salah satu inisiator komunitas MBC, kegiatan ini sederhananya hanya bertujuan untuk misi senaif “mengumpulkan para penggiat dan pelaku industri kopi yang ada di kota Medan” saja. Demi mempererat tali silaturahmi, memfasilitasi para coffee roastery untuk saling berbagi informasi, lalu mengakrabkan mereka semua yang terlibat dalam kopi, untuk kemudian maju bersama-sama.

Persiapan sebelum cupping.
Kopi-kopi yang akan di-cupping.

Karena tidak berada di bawah bendera apapun, maka yang menjadi penyedia kopi-kopi yang akan di-cupping pada acara ini adalah sejumlah coffee roastery asal Medan dan Berastagi yang terlibat di dalam acara tersebut. Antara lain diisi oleh nama-nama yang sebagian barangkali tidak asing lagi seperti Aghara Coffee Roaster, Spellbound Roast, Estate Roastery, Biji Hitam, Myths Coffee Roastery, dan beberapa coffee roastery baru seperti Pops Cold Brew, Ompu Gende Coffee, Lapak Koffie, Kopi Rekah Fajar, Rooster Coffee dan Dear Bendjamin Coffee. Mereka masing-masing menyediakan biji kopi asal kedai atau roastery mereka secara sukarela untuk diuji dan dinikmati bersama-sama.

“Acara ini sekaligus untuk mempertemukan roastery baru dengan –istilahnya–para roastery senior. Karena roastery baru biasanya cenderung sungkan untuk mendekati roastery lama dan yang sudah berpengalaman. Sementara mereka perlu informasi. Kadang suka nanya ‘bang ini gimana, itu sebaiknya gimana’. Jadi di sinilah wadahnya, mereka bisa bertemu dan bertanya langsung,” ujar Ikhlas Hutasuhut yang disebut-sebut sebagai pencetus ide kegiatan ini.

Sebelum acara dimulai, sekelompok anak-anak muda yang hampir semuanya adalah laki-laki—dan sebagian besarnya pastilah barista atau “orang kopi” melihat dari kaos bertuliskan berbagai nama kedai berbeda yang mereka kenakan—telah berkumpul di pinggir halaman luar Ompu Gende Coffee. Mereka tampak akrab dan saling bercengkerama satu sama lain, setidaknya sejauh pandangan saya tidak ada “kelompok-kelompok eksklusif kecil” lain yang terbentuk di sana.

Febrian Gho dari Aghara Coffee Roaster membuka acara ini dengan khidmat, ia menegaskan bahwa “kehadiran mereka (sebagai sesama coffee roastery) di sini adalah untuk saling berbagi dan sharing”. Maka tidak ada penghakiman di sini selain menikmati kopi –sambil sesekali mengoreksi sebagai bagian dari membantu memperbaiki apa yang perlu diperbaiki dari kopi tersebut– dan sisanya bersenang-senang.

Antusiasme yang menyala-nyala.
Barista dan bukan barista tumpah menjadi satu.
Medan Barista Community: Seperti biasa, foto dulu sebelum pulang. (Foto oleh Kang Ayak).

Beberapa menit kemudian dilanjutkan dengan sesi cupping yang diikuti antusiasme menyala para partisipan yang terlibat. Mereka bahkan terlihat sabar mengantri dalam barisan rapi dan teratur sembari menunggu giliran. Menjelang pertengahan sesi, peserta kegiatan ini telah bercampur pelanggan yang kebetulan datang ke Ompu Gende Coffee. Yang tadinya memperhatikan malu-malu di pinggir lapangan belakangan mulai tergoda mencoba.

Kesuksesan acara ini dalam mengumpulkan cukup banyak barista, roaster, dan bukan kalangan keduanya sekaligus dalam satu lokasi lalu mengakrabkannya membuat MBC berencana untuk membuat acara serupa dengan embel-embel “Bagian 2” di masa depan. “Mungkin nanti, di bagian kedua, kopi yang akan kita cupping tidak akan dituliskan nama roastery-nya tapi hanya berupa nomor. Jadi kalau suka dengan kopi itu, silakan sebutkan nomornya pada panitia lalu bid sendiri,” tutup Koqo.

Sampai ketemu di event kopi berikutnya.

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.