PULP BY PAPA PALHETA KUALA LUMPUR

Apa yang kamu akan kamu lakukan jika kamu hanya punya waktu tiga jam di suatu kota? Kalau saya tentu melipir ke kedai kopi.

JADI saya baru saja melewati penerbangan panjang dan harus transit di Kuala Lumpur Malaysia sebelum lanjut pulang ke Indonesia. Ada waktu 3 jam yang harus saya habiskan di Sepang (tepatnya) Malaysia. Alih-alih harus menghabiskan waktu berkeliling bandara yang sudah pasti pemandangannnya itu-itu saja. Saya dengan nekad memberanikan diri untuk keluar bandara dan melipir ke kedai kopi Pulp by Papa Palheta.

Jangan kira Papa Palheta Kuala Lumpur ini berjarak dengan dengan bandara. No, dear! Saya harus menempuh perjalanan kira-kira 50 menit pulang pergi dari bandara ke Papa Palheta. Sambil cemas dan ngeri-ngeri sedap karena takut terlambat, tapi perjuangan mendebarkan ini terbayar sudah karena Pulp by Papa Palheta yang dimaksud memberi pengalaman yang sangat menyenangkan.

Kedai kopi ini sungguh luas dan lega dengan dekorasi kayu yang mendominasi di hampir seluruh bagiannya. Meski sedang ramai tapi tempat ini sangat nyaman dan membuat saya betah berlama-lama. Barista cantik yang berada di balik coffee bar tampaknya terlihat sibuk sekali dengan mesin espresso Synesso-nya meski sesekali dia melempar senyum kepada siapa saja yang datang.

Pemandangan menarik lainnya adalah meja-meja di sini beberapa terbuat dari mesin berat jadul yang di kelilingi kursi-kursi. Memberi kesan industrial yang ciamik. Saya memilih duduk di meja itu sambil tak henti-henti mengagumi tempat ini.

Karena punya waktu yang sangat terbatas akhirnya saya memutuskan untuk pesan filter coffee yang dibandrol seharga MYR 16 satu cangkir dari single origin Guji Ethiopia Suke Quto. Notes floral, citrus dan peach pada akhir begitu terasa membuat kepala saya yang pusing karena tergesa-gesa pun sirna sudah.

Sebenarnya pengin mencoba espresso-nya tapi takut tak keburu jadinya saya hanya mencicipi orange juice dari teman saya dan menyempatkan diri untuk makan siang Maggie’s Crab Burger dan Salmon Taco yang masih-masih dibandrol seharga MYR 35 dan MYR 25. Meski buru-buru saya tak akan mungkin lupa nikmatnya dua jenis makanan ini. Sepertinya menghabiskan uang di sini tak terasa sia-sia karena semua rasanya sangat memuaskan.

Sejauh saya di sini banyak sekali orang yang datang dengan laptopnya dan menikmati kopi dalam kesendirian. Memang tempatnya diciptakan begitu nyaman dengan lighting, ambience yang menyatu sempurna dan membuat siapa saja betah berlama-lama. Oh iya, datang ke Papa Palheta memang tak lengkap tanpa membawa pulang biji kopi karena sudah pasti jaminan kenikmatannya. Maka saya pun memborong dua jenis kopi yang kelak saya nikmati di rumah.

Intinya waktu 3 jam saya yang pas-pasan ini terasa begitu bermakna karena memutuskan untuk mampir sebentar ke Pulp by Papa Palheta. Ya, meski sebenarnya saya masih betah di sana tapi apa daya saya sudah ditunggu oleh penerbangan selanjutnya. Jika saya mampir lagi ke Kuala Lumpur, saya akan ngopi di sini lebih lama dan tanpa tergesa-gesa. Karena kawan, Pulp by Papa Palheta ini mungkin merupakan kedai kopi favorit saya di Kuala Lumpur ini. High recommended!

Pulp by Papa Palheta

29, Jalan Riong, Bangsar, 59100 Kuala Lumpur,

Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.