News Recipe

RESEP SIGNATURE DRINKS 3 BESAR #WBC2016

resep-signature-drinks-wbc-2016


Rahasia membuat minuman khusus yang membawa para finalis World Barista Championship 2016 ini sebagai 3 besar.

SELAIN keahlian meracik kopi yang tidak (boleh) biasa-biasa saja, kemampuan untuk menciptakan menu baru yang menjadi ciri khas dan andalan masing-masing adalah salah satu faktor yang ikut menentukan langkah peserta WBC selanjutnya di kompetisi kopi paling bergengsi di dunia itu. Apakah itu akan membawa mereka melaju ke babak berikutnya atau justru membuat mereka tertahan hanya sampai situ saja. Terdengar seperti ajang pencarian bakat sekali, ya? Haha…

Tapi, serius. Signature drink yang adalah salah satu menu wajib di WBC ini memang sangat menarik. Bukan saja karena kita (sebagai penonton) yang menjadi penasaran akan menu baru yang mereka ciptakan, tapi juga melihat bagaimana para barista terbaik di dunia saling berkompetisi berkreasi dan mengungkapkan ide-ide segar yang selama ini mungkin tak terpikirkan.

Para juri yang... bikin jiper.

Para juri yang… bikin jiper.

Tiga besar finalis World Barista Championship tahun ini yang bisa dibilang terbaik dari yang terbaik pun tak boleh ketinggalan untuk disimak resep signature drink-nya.

 

Ben Put, Kanada

ben-put

Komposisi: espresso, granadilla (varietas lain dari markisa), apricot dan malic acid.

Single origin yang digunakan: Semeon Abay. Varietas heirloom dari wilayah Sidama, Ethiopia.

Persiapan: Titik fokus pada minuman ini adalah immersion-brewed espresso. Bersama espresso itu, Ben menambahkan jus granadilla untuk memberi rasa floral, kolak apricot untuk membawa notes melon, dan karena Ben “merendahkan” kadar acidity melalui teknik immersion tadi maka ia pun menyeimbangkan keseluruhan komposisi signature drink-nya dengan tambahan malic acid untuk membuatnya hasil akhir fruity yang lebih merata.

Taste: Menurut Ben, rasanya seperti kombinasi antara flower garden dan buah tropis. Rasanya sangat menarik karena cukup intens namun tidak terlalu tegas karena ada keseimbangan dari bitterness dan acidity. Minuman ini terasa begitu ‘topis’. Tambahan malic acid membuat hasil akhir minuman ini sangat kompleks, juicy dan clean.

 

Yoshikazu Iwase, Jepang (Runner Up)

Komposisi: Infusi yang dibuat dari apel dan cherry Geisha kering, sirup markisa kental dan sugar syrup.

Single origin yang digunakan: Cukup banyak. Panama Gesha dari Ninety Plus (dengan proses cold fermentation). Dan Ethiopia Magokoro, juga dari Ninety Plus (dengan proses melted fermentation).

Persiapan: Pertama-tama, espresso diekstraksi dengan campuran 60% Panama dan 40% Ethiopia. 21 gram in, 42 gram out, diekstraksi selama 20 detik. Setelahnya, dinginkan 4 shot espresso yang telah diekstraksi. Tambahkan 30 gram infusi apel dan cherry Geisha kering. Masukkan 10 gram sirup markisa kental/sugar syrup. Tuangkan minuman itu ke dalam gelas yang sudah diisi es-es batu, aduk dan sajikan.

Taste: peach, mandarin orange dan cacao.

 

Berg Wu, Taiwan (Juara)

berg_wu-1

Komposisi: 15 gram jus jeruk dan reduksi madu (rasio 10:1, dikonsentrat sampai 50%), 15 gram cold brew teh Earl Grey, aromatic air dari jasmine dan mandarin.

Single origin yang digunakan: Washed Geisha dari Finca Deborah, Panama.

Persiapan: Campurkan semua komposisi dengan Perlini shaker, sisipkan 2 ml nitrogen untuk menaikkan tekanannya untuk mempercepat infusi.

Taste: Aroma jasmine dan mandarin yang kencang, rasa orange dan bergamot pada sesapan pertama, dan rasa akhir seperti floral dan mirip madu.

 

Cukup menarik ketika melihat bahwa kebanyakan dari para finalis ini menggunakan biji kopi dari Ninety Plus. Lagi-lagi, Ethiopia dan Panama masih menjadi senjata pamungkas yang membawa mereka kepada kemenangan. Hm, btw, semoga saja finalis dari Indonesia suatu saat juga bisa mencatatkan diri di daftar ini nanti.

 

ninety plus

Disadur dari Barista Magazine. Kredit foto adalah milik Zachary Carlsen dan Liz Clayton dari Sprudge.

9,134 total views, 3 views today

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply