RIBUAN CANGKIR KOPI: MERAYAKAN KEPERGIAN PARA KORBAN SREBRENICA

Jauh sebelum perang terjadi, para perempuan di Srebrenica, Bosnia menyeduh kopi untuk suami mereka. Kopi dinikmati berdua, setiap hari, sampai pembantaian terjadi.

KOPI sering dijadikan media untuk menghangatkan dua hati. Melekatkan temu yang ditebas jarak. Dan ini pula yang terjadi puluhan tahun lalu di sebuah kota bernama Srebrenica, Bosnia. Para perempuan muslim Bosnia menyeduh kopi untuk suami mereka, merayakan hidup yang sederhana.

credit : balkaninsight.com

Kehangatan itu harus sirna ketika tepat 25 tahun lalu terjadi pembersihan etnis oleh orang Serbia Bosnia kepada Muslim Bosnia. Kejadian itu kemudian dikenal sebagai Srebrenica Genocide. Peristiwanya berawal dari invansi yang dilakukan Serbia Bosnia kepada wilayah ‘aman’ PBB tempat para muslim Bosnia berlindung. Para perempuan dan anak-anak perempuan mereka dipaksa pergi meninggalkan kota itu. Sedangkan laki-laki dewasa dan anak-anak dibantai secara sistematis.

Seorang seniman Bosnia-Amerika bernama Aida Sehovic mengadakan peringatan 8.372 korban terdata dengan melakukan seduh kopi di cangkir tradisional khas Bosnia yang dikenal dengan ŠTO TE NEMA (Kenapa Kamu Tidak di Sini). Kopi-kopi  ini menyimbolkan para perempuan yang kehilangan suami dan anak-anak mereka. Menikmati kopi bersama adalah salah satu kegiatan yang paling dirindukan oleh perempuan-perempuan ini.

credit : balkaninsight.com

Peringatan ini dilakukan di Srebrenica Memorial Centre Bosnia dan beberapa tempat lain seperti di markas PBB di New York, Istanbul, Jenewa, Toronto dan Tuzla. Aida Sehovic telah melakukan hal ini sejak 2006. Dan dia tidak mengira bahwa kegiatan ini kerap dilakukan setiap tahun dan jumlah cangkir kopinya semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Semoga para korban Srebrenica Genocide diberi ketenangan di tempat terbaik dan seluruh keluarga yang ditinggal diberi kekuatan. Kejahatan kemanusiaan internasional seperti ini tidak boleh dibiarkan terjadi di masa depan. Cukuplah tragedi Srebrenica pada Juli 1995 menjadi pelajaran pahit yang tak bisa dilupakan di muka bumi ini.

Salam kopi!

Artikel dan foto disunting dari balkaninsight.com nytimes.com thejakartapost.com

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.