ROBUSTA DI MATA R-GRADER MIA LAKSMI HANDAYANI

Bicara robusta tak lepas dari stigma kopi murah yang hanya dinikmati orang-orang tua. Bersama r-grader Mia Laksmi Handayani sebuah pandangan baru tentang robusta tampak begitu berbeda.
DAN kami beruntung mendapat kesempatan mewawancarai perempuan yang memilih robusta sebagai sesuatu yang diminati di tengah geliat kopi arabika yang membombardir industri kopi kita. Simak wawancara Majalah Otten bersama Mia Laksmi Handayani.
Menurut Mia bagaimana perkembangan robusta baik itu di industri kopi nusantara maupun di industri kopi secara global? Adakah perkembangan signifikan dari dulu hingga sekarang?

Perkembangannya cukup besar, kalau dulu orang melihat robusta sebagai kopi sampah, kopi jelek, komersial, nggak trendy atau cuma diminum kakek-kakek. Sekarang sudah banyak yang dengan bangga bilang kalau dia minum kopi fine robusta. Penikmat kopi fine robusta semakin banyak. Mulai banyak roaster, baik di Indonesia atau di luar negeri, yang menyangrai kopi fine robusta. Baik sebagai blend maupun single origin. Orang semakin aware bahwa kopi yang baik membutuhkan sortasi. Sama seperti halnya arabika spesialti.

Namun yang disayangkan banyak orang yang menjual kopi robusta kualitas kurang baik dengan label fine robusta, hanya untuk mendapatkan harga jual yang lebih tinggi. Tanpa memperdulikan masalah sortir ataupun pembersihan defect.

Lalu ketika banyak orang menjadi q-grader, Mia mengambil jalur lain yaitu r-grader, apa yang mendasari Mia mengambil sertifikasi ini?

Saya merasa potensi negeri ini ada pada robustanya. Terutama mengingat kita adalah negara yang menghasilkan robusta lebih banyak dari arabika. Pemanasan global akan mengakibatkan area tanam arabika lebih naik lagi ke atas gunung, dan terpaksa bersaing dengan hutan lindung. Dan kita akan terpaksa menanam kopi arabika yang klonnya mempunyai sifat robusta, demi ketahanan hamanya, namun mengorbankan karakter rasa arabikanya.

Selain itu akan susah untuk kopi arabika Indonesia untuk bersaing secara rasa dengan kopi arabika dari Afrika, maupun secara produktifitas dengan kopi Amerika Latin. Sementara saat itu negara yang serius dengan fine robusta hanya India. Bila saat itu kita mau serius dengan fine robusta, potensi kita di dunia sangat baik. Sayangnya kita sedikit terlambat. Vietnam, Laos, dan Filipina sudah mulai serius dengan robustanya. Kita punya kompetitor berat.

Apakah robusta memiliki masa depan yang cerah di industri kopi ini?

Iya. Baik untuk single origin espresso ataupun blend. Apalagi orang Asia sangat terbiasa dengan karakter robusta.

Apakah pemanasan global dan iklim memengaruhi kualitas kopi robusta? Ke arah lebih baik atau buruk?

Secara rasa cukup berpengaruh. Kopi kan sangat terpengaruh oleh iklim, kelembaban dan curah hujan. Iklimnya berubah rasa pasti berubah.

Namun yang paling terlihat adalah naiknya konsumsi. Makin banyak processor yang mengolah fine robusta, dan makin banyak roaster yang tertarik pada kopi fine robusta. Terutama akibat naiknya harga arabika beberapa tahun terakhir. Roaster yang terjepit antara mahalnya harga green bean & konsumen yang tidak mau harga naik, harus mencari alternatif. Akhirnya konsumen mulai bisa menikmati kopi fine robusta. Dan mulai bisa memilih.

Fine robusta sebenarnya tak kalah nikmat dari arabika, menurut Mia kenapa orang-orang masih banyak yang memandang kualitas robusta sebelah mata?

Saya ingat sekali beberapa tahun lalu, saat bertemu seorang anak muda pekerja digital agensi terkenal di Jakarta yang dengan bangganya bercerita bahwa dia tidak minum kopi sampah seperti robusta. Dia hanya minum arabika. Namun jatuh cinta dengan robusta, saat saya sajikan kopi fine robusta. Kopi yang aromanya mengingatkan pada memori masa kecilnya, namun tetap punya sweetness dan acidity di dalamnya. Kadang kita menelan bulat-bulat apa yang kita baca, atau orang lain percaya, tanpa mencoba sendiri sebelumnya.

Di Indonesia sendiri pertanian robusta mana (yang setahu kamu) yang memiliki kualitas paling baik?

Ada beberapa. Yang paling stabil sejauh ini buat saya, di Lampung Barat (pemrosesnya tidak mau disebutkan namanya). Tapi favorit saya secara rasa beberapa tahun terakhir ini fine robusta Wonosobo.

Kopi robusta mana yang paling nikmat sejauh ini yang pernah Mia coba?

Ada satu kopi fine robusta dari Bali yang sangat memorable buat saya, saat kalibrasi Q Robusta beberapa tahun lalu nilai rata-ratanya antara 88-90. Sayangnya panen setelahnya kualitas rasanya menurun.

Apakah ada acara atau masukan agar kopi robusta kita berjaya dan mampu bersaing di pasar global?

Ada lelang kopi Indonesia Specialty Microlot yang diadakan setiap tahun. Di lelang ini tidak hanya menampilkan arabika spesialti, namun juga fine robusta. Selain itu perlu mengadakan sosialisasi mengenai kopi fine robusta, baik dari segi sortir maupun uji cupping-nya, yang dari beberapa hal cukup berbeda dengan arabika spesialti. Sehingga fine robusta betul-betul merepresentasikan kualitasnya, tidak hanya label yang ditaruh penjual untuk mengangkat harga jual kopinya.

Kesalahan yang sering terjadi dalam proses pascapanen robusta ini seperti apa?
Pulping dengan pulper yang tidak disesuaikan kerapatannya (jaraknya terlalu rapat seperti yang digunakan untuk ukuran arabika).
Menganggap kopi fullwashed robusta lebih baik ketimbang natural process robusta, sebelum melakukan uji cupping.
Menjadi r-grader berarti sudah paham sekali mengenai rasa-rasa yang di bawa robusta, biasanya yang sering ditemukan di kopi robusta kita itu yang bagaimana? Dan defect yang sering menjangkitnya biasanya seperti apa?

Rasa :

Fine robusta : Coklat, vanilla, passionfruit, mango, honey, tebu, gula aren, nangka, flowery (misalnya rose buds, sempat mencoba yg aromanya mengingatkan pada bunga anggrek hutan)
Komersial robusta : coklat bubuk pahit, tanah, ban, kopling terbakar, amis bau tanah seperti ikan gurame.

Rasa tersebut dari kontaminan/defect. Robusta can be good if you treat them properly. Bayangkan perempuan cantik eksotis yg tidak pernah mandi. Pasti tidak menarik kan? Tapi saat dia membersihkan diri (seperti sortir pada kopi), dia akan lebih menarik. Tanpa sortir rasa robusta akan tidak enak seperti yang sering dirasakan di kopi komersial.

Defect :

Kalau kita melihat kopi robusta komersial pasti warnanya tidak seragam. Banyak defect. Ada biji hitam (black bean), biji masam (sour bean), kopi berjamur (fungus), biji putih (chalky), biji hijau yang belum matang (green/unripe).

Kadang sering sedih saat melihat fisik kopi yang dijual sebagai fine robusta, tapi ditemukan biji putih (chalky) akibat pulper dan hijau belum matang (green) akibat petik rorotan. Dan rasanya setelah di-cupping rasanya mengingatkan pada ikan gurame, amis dan bau tanah. Akibat fungus defect.

Harapan tentang robusta kita di masa depan?

Semakin banyak orang yang mengerti mengenai fine robusta, tidak sebatas label. Dan semoga konsumsi kita semakin tinggi kedepannya untuk kopi robusta. Karena kalau bicara soal menyejahterakan petani, petani robusta biasanya yg paling kurang beruntung hidupnya. Semoga produktivitas per pohonnya juga semakin baik, sehingga tidak kalah dengan Viet Nam

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.