ROBUSTA PUN TAK HANYA SOAL PAHIT SAJA

Robusta di era kini dianggap kopi kelas dua. Mungkin karena rasanya tak sekompleks arabika atau mungkin karena kafeinnya yang dua kali lipat lebih tinggi juga.

NAMUN banyak yang kurang tahu bahwa robusta yang dianggap kopi pahit dengan kafein yang tinggi ini ternyata juga bisa nikmat. Kenikmatan pada robusta bisa hadir dari kompleksitas rasa yang dibawanya meski mungkin tak ‘semeriah arabika’.

Di artikel sebelumnya saya pernah membahas soal kekeliruan tentang robusta dan ternyata banyak respon positif. Di artikel ini saya hanya ingin memaparkan beberapa opini berdasarkan pengalaman sendiri menikmati robusta. Robusta tak melulu pahit saja. Kalimat ini bisa dipertanggung jawabkan karena saya pernah mencicip satu fine robusta yang rasanya manis karamel, body medium dan jauh dari rasa ‘karet’ dan gosong.

Bahkan Indonesia sendiri menurut Mia Laksmi Handayani, seorang R-Grader sangat berpotensi menghasilkan robusta-robusta terbaik. Tanah Indonesia sangat luar biasa subur untuk tumbuhnya robusta yang tak kalah dari negara penghasil robusta lain seperti Viet Nam.

Satu-satunya yang harus dipahami oleh kita semua adalah robusta bukan hanya sekadar campurna sekian persen house blend demi rasa yang lebih tebal atau minuman kopi tubruk tradisional yang hanya mampu dinikmati ‘kaum tua’. Robusta jika diproses sedari hulu dengan benar ternyata mampu memberi kenikmatan yang membuat siapapun berdecak kagum.

Lalu apa yang membuat robusta kerap dianggap kopi pahit yang menyiksa? Mungkin karena para pelaku industri kopi tidak melihat robusta sebagai sesuatu yang potensial. Jadi pengolahannya belum maksimal. Cukup dimengerti karena untuk menciptakan robusta yang benar-benar baik diperlukan uang dan waktu. Jika sudah begini dan tidak ada pasar yang mau menghargai robusta dengan harga tinggi tentu akan merugikan para pelakunya.

Saya percaya kok jika pasar sudah siap dengan fine robusta, pasti akan ada orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk memproses robusta enak. Lalu jika sudah enak tentu asumsi tentang ‘kepahitan robusta’ ini bisa diruntuhkan. Tapi, untuk menuju ke situ prosesnya panjang dan harus melibatkan banyak pihak.

Beberapa tahun lalu saya masih seperti kamu yang menganggap kopi robusta tidak seksi. Sampai secangkir kopi hitam nikmat bernama robusta saya teguk dan rasanya tak ada pahit-pahitnya.

Sejauh ini, kopi robusta dari mana yang jadi favoritmu? Coba kasih tahu karena saya berniat mencoba juga!

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

2 Comments
  1. Artikel ini kayak teaser trailer film, infonya mentok segitu aja. Kalau emang udah ketemu fine robusta ya monggo langsung dipaparkan dimana mencicipi nya, berapa harganya , jadi yg baca juga kalau mau merasakan pengalaman fine robusta alias robusta yang ga pahit2 doang, juga bisa. Kentang

  2. Robusta dampit Dan robusta Tulungagung dari Jawa Timur, menurut saya memberikan sensasi pahit tersendiri bagi yang kangen pahitnya kopi

Leave a Reply

Your email address will not be published.