SEBERAPA SENSITIF TUBUH KAMU TERHADAP KAFEIN KOPI

Ingin minum kopi namun masih ada ketakutan untuk mengkonsumsi kopi, cara mengatasi ketakutan itu dengan mengenal tingkat sensitivitas tubuh.

KOPI adalah minuman nikmat yang katanya berasal dari surga, namun tidak semua orang yang setuju akan statement itu. Banyak yang akrab menikmati minuman kopi, tidak sedikit juga yang tidak bisa minum kopi, walaupun mereka ingin tapi masih ada ketakutan yang mengganjal dalam diri mereka. Ketakutan mereka akan kopi timbul karena beberapa alasan, takut minum kopi karena katanya kopi rasanya pahit, katanya kopi penyebab maag, katanya kopi membuat tidak bisa tidur dan takut karena katanya kopi asam.

Alasan memang selalu berhasil meredam niat dalam segala hal. Daripada mencari banyak alasan, lebih baik menjawab alasan itu, membuktikannya dengan hal-hal yang bisa diterima oleh semua orang. Kopi memiliki rasa yang pahit, namun tingkat pahit di sini kadang berbeda untuk indra perasa tiap orang. Katanya kafein kopi menjadi penyebab dari alasan – alasan itu, eits . . yang benar adalah tingkat sensitivitas tubuh akan kafein kopi menghasilkan reaksi berbeda setelah minum kopi.

Perbedaan efisiensi tubuh untuk memproses dan memetabolisme kafein, membuatnya menjadi pembahasan yang cukup menarik. Mengapa kopi untuk sebagian orang menjadi susah tidur, tekanan darah meningkat dan sebagainya. Ada baiknya untuk mengetahui berapa banyak kafein yang terkandung dalam secangkir kopi sehingga dapat dikaitkan dengan tingkat sensitivitas tubuh dan berapa mg kafein normalnya konsumsi per hari.

Kadar kafein yang terkandung pada secangkir kopi tidak selamanya pasti, karena kafein yang terkandung dipengaruhi oleh jenis biji kopi, proses roasting, jenis sajian kopi dan volume kopi dalam secangkir kopi. Untuk seduhan manual, kafein pada kopi sekitar 95 mg untuk secangkir kopi yang disajikan 240 ml, sedangkan pada sajian kopi espresso 30 – 50 ml sekitar 63 mg kafein yang terkandung.

credit: Jennifer Parker
credit: Jennifer Parker

The Harvard School of Public Health melakukan penelitian kafein terhadap genetik pada 120.000 orang dan menemukan 6 varian genetik terkait dengan cara orang memetabolisme dan membentuk kebutuhan akan kafein. Genetik yang ditemukan memberikan penjelasan bagaimana kafein dimetabolisme oleh tubuh, bagaimana tubuh mengambil manfaat dari kafein untuk tubuh, dan bagaimana kafein dapat mengatur kadar lemak dan gula dalam aliran darah. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan ada 3 level sensitivitas tubuh terhadap kafein.

Hypersensitive to Caffeine/ Pada level ini, orang yang mengkonsumsi kafein sedikit bahkan kurang dari 100mg sudah mengalami gejala insomnia, tingkat kewaspadaan tak teratur, dan detak jantung yang meningkat. Dianjurkan pada tipe sensitivitas ini untuk mengurangi konsumsi kafein atau menyelinginya dengan konsumsi lain saat minum kopi.

Normal Sensitivity to Caffeine/ Tingkat sensitivitas normal mengkonsumsi 200-400mg kafein masih dalam keadaan wajar, dan tidak ada masalah bagi mereka untuk tidur walaupun setelah minum kopi.

Hyposensitive to Caffeine/ Bagi mereka untuk mengambil manfaat dari kafein bisa dikatakan tidak mungkin, karena membutuhkan konsumsi yang banyak. Pada mereka mengkonsumsi di atas 500mg masih hal wajar, dan masih bisa tidur dengan nyenyak.

Dalam penelitian yang berbeda, kafein setelah dikonsumsi meningkatkan tekanan darah, peningkatan denyut jantung, dan peningkatan kadar epinefrin plasma setelah 1-4 hari tingkat ini kembali semula. Mengetahui tingkat sensitivitas tubuh sangat membantu untuk menentukan berapa cangkir kopi yang dapat diterima oleh tubuh dalam sehari.

src: authoritynutrition.com caffeineinformer.com img: The Coffee Nomad

1,750 total views, 14 views today

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.