SEBUAH WAWANCARA DENGAN AGNIESZKA ROJEWSKA, JUARA WORLD BARISTA CHAMPIONSHIP 2018

Barista perempuan pertama yang mencetak sejarah sebagai Juara Dunia ini bercerita tentang kemenangannya, hakikat barista, dan apa pentingnya latte art untuk kopi.

AGNIESZKA ROJEWSKA barangkali akan dicap sebagai “hantu kompetisi” jika ia tinggal di Indonesia. Ia rutin mengikuti kejuaraan kopi baik di negara asalnya Polandia maupun di fase internasional sejak tahun 2014 meskipun ia telah berkarir di industri ini selama lebih dari 10 tahun. Dalam tiga tahun terakhir, Agnieszka setidaknya hadir dalam tiga kompetisi setiap tahunnya. Pada 2016, ia memenangkan Latte Art Championship dan Polish Barista Championship di Polandia, dan dianugerahi Best Performance Award pada World Latte Art Battle di Seoul, Korea Selatan. (Di tahun itu, ia hanya berhasil sampai pada Putaran Pertama World Barista Championship di Dublin, pada posisi ke-34).

Di tahun berikutnya, ia kembali memenangkan Latte Art Championship di Polandia, mendapat posisi runner up di Polish Brewers Cup, dan pemenang ketiga di World Latte Art Championship 2017 di Budapest. Tahun ini, selain menjadi Juara Barista Dunia, sebelumnya ia pun telah memenangkan (lagi-lagi) Latte Art Championship di Polandia, dan Juara London Coffee Masters. Sungguh tahun-tahun yang sangat produktif. “Itu hanya pengalaman untuk belajar. Saya belajar banyak selama tahun-tahun persiapan itu, saya suka berkompetisi,” ujarnya. Simak wawancara saya dengan Juara Barista dunia yang baru berikut ini.

 

Pertama-tama, saya tertarik dengan konsep presentasi yang Anda bawa di final: menghadirkan pengalaman mengunjungi kedai kopi dimana Anda memerlakukan para juri seolah pelanggan baru yang datang ke kedai. Mengapa memilih konsep seperti itu?

Saya memikirkan apa yang penting bagi saya sebagai seorang barista. Saya tidak dapat bekerja dengan produsen kopi dan, saat ini, saya tidak dapat bekerja dengan perusahaan pembuat mesin-mesin espresso… Saya hanya membuat kopi. Dan saya melihat sebuah masalah, bahwa para barista belakangan ini telah (beralih) menjadi geek tapi mereka melupakan faktor penting mengenai pelayanan kepada pelanggan (customer service). Itulah sebabnya saya ingin menunjukkan bagaimana kopi terbaik bisa disajikan kepada pelanggan dengan cara yang mudah sekaligus gampang dipraktekkan di kedai kopi.

 

Di wawancara saya terdahulu dengan Sasa Sestic, ia pernah menekankan berkali-kali bahwa “keramahtamahan dan pelayanan pelanggan” adalah dua faktor penting yang harus dimiliki seorang barista. Mengingat bahwa Sasa adalah mentor Anda pada WBC 2018 dan inti presentasi Anda saat final, apakah hal-hal ini termasuk gagasan yang juga Sasa latih untuk Anda?

Saya tidak dipengaruhi oleh Sasa. Kami bertemu dan ia bertanya apa yang kira-kira penting untuk saya, apa yang ingin saya bagikan. Lalu saya katakan ingin memfokuskan tentang servis, pelayanan. Jadi saya kira pendapat tentang itu tidak penting untuk kami berdua, karena kami sama-sama telah mengerti dengan cara yang sama sehingga kami dapat membuat konsep yang sangat jelas.

 

Sangat menarik melihat bagaimana Anda menyimpan informasi detail tentang kopi yang Anda bawa hingga memasuki bagian tengah presentasi. Dale Harris tahun lalu juga melakukan hal serupa. Namun, apa alasan Anda pribadi?

Bagi saya itu hanya menggambarkan bagaimana seorang pelanggan “berevolusi”. Pada awalnya, pelanggan umumnya tidak peduli dengan informasi kopi – mereka cenderung hanya ingin meminum secangkir kopi yang nikmat dan rasanya luar biasa sehingga saya pun melewatkan (informasi) itu di awal.

 

Informasi tambahan apalagi yang para pembaca barangkali perlu tahu tentang kopi yang Anda bawa di WBC 2018? Selain fakta bahwa kopi itu berasal dari desa Messina di Ethiopia, memiliki ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut dan daerah yang terbilang baru untuk penanaman kopi sehingga menjadikan tanahnya mempunyai kandungan mineral yang cukup segar—seperti yang Anda sebutkan di presentasi.

Kopi saya diolah dengan proses eksperimental yang diciptakan oleh Sasa bersama dengan timnya. Saya yakin dia tahu lebih banyak tentang (informasi) kopi itu. Semua info yang relevan untuk kapasitas pelanggan regular (yang datang ke kedai kopi) selebihnya ada di di dalam presentasi saya.

 

Di sebuah artikel, saya membaca bahwa Anda adalah Juara Latte Art setidaknya sebanyak lima kali. Tapi pada final WBC 2018, Anda justru menyajikan pola berbentuk ‘hati’ dengan desain sederhana pada milk beverage Anda. Memangnya seberapa besar pengaruh latte art terhadap citarasa kopi milk-based?

Saya empat kali Juara Latte Art di Polandia—untuk sekadar catatan.

“Saya percaya bahwa kopi yang enak tidak membutuhkan latte art. Dan itu tidak seharusnya menjadi fokus utama. Saat Anda terlalu fokus kepada bentuk dan pola latte art, kadang-kadang Anda jadi lupa bagaimana citarasa kopi itu seharusnya. Jadi saya berkeyakinan bahwa bentuk pola sederhana (untuk latte art), itulah yang seharusnya dibuat di kedai kopi.”

 

Boleh membagi resep signature drink Anda saat final?

20 gram sirup homemade markisa

10 gram teh rooibos yang diinfus/direndam selama 20 jam

20 gram washed milk – susu yang telah dihilangkan proteinnya

6 shot espresso (dingin)

Agnieszka Rojewska, Juara WBC 2018.

Ngomong-ngomong, Anda adalah barista perempuan pertama yang memenangkan panggung dunia dalam sejarah. Bagaimana rasanya? Apa saran untuk para barista perempuan di luar sana yang juga ingin mendapatkan pencapaian seperti Anda?

Saya pikir setiap Juara lainnya juga merasakan hal yang sama. 🙂

Tidak ada rahasia kemenangan – siapapun bisa berkesempatan untuk menang. Hanya saja, kali ini bintangnya bersinar untuk saya. 🙂

Saran saya, jangan pernah menyerah. Ikuti dan kejar terus tujuan Anda!

 

Dalam beberapa tahun terakhir, ada beberapa Juara Dunia yang juga berasal dari Polandia. Katakanlah, Filip Kurcharczyk Juara World Aeropress Championship 2016, dan Paulina Miczka, Juara kompetisi yang sama di tahun berikutnya. Tampaknya industri kopi benar-benar tumbuh begitu agresif di Polandia…

Kami benar-benar berkembang dengan sangat cepat dan besar. Saya bahkan tidak bisa menahannya. (tertawa)

 

Pernah mencoba kopi dari Indonesia?

Ya, saya pernah mencobanya beberapa kali. Saya pernah mencoba kopi dari Sumatera (yang merupakan bagian dari Indonesia, ‘kan?) dan saya juga mengenal Evani dari Indonesia. Saya sangat menikmati karakter body yang tinggi dari kopi-kopi Sumatera, dan memberikan sensasi pengalaman acidity yang sama sekali berbeda dibandingkan kopi-kopi Afrika.

“Saya yakin kopi-kopi itu bisa mendapat skor yang tinggi di World Barista Championship.”

 

Terakhir, hal tentang kopi apalagi yang barangkali ingin Anda pelajari atau kerjakan di masa depan?

Saya tidak punya rencana. Lihat nanti saja, apa yang masa depan bisa tawarkan untuk saya.

 

Foto utama adalah credit milik Jeff Hann untuk World Coffee Events, foto lainnya adalah dokumentasi pribadi Agnieszka untuk Otten Coffee.

 

 

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.