SEKILAS TENTANG ESKSISTENSI KOPI SUSU KITA

Industri kopi kita berada pada dua hal yang berbeda hari ini: teknologi dan kopi susu kekinian.

KEHADIRAN kopi susu disambut meriah oleh para penikmatnya. Sampai-sampai semua orang merasa mampu memiliki gerai atau kios kopi hanya bermodalkan budget kecil dan pegetahuan kopi yang tak dalam-dalam banget. Kopi susu menjadi ‘jamur di musim hujan’. Meriah tersebar di jalan-jalan. Beberapa meter sudah mudah ditemukan kios kopi yang menjajakan kopi susu kekinian.

Credit by wallpaper.com

Nama besar kopi susu diawali oleh lahirnya Tuku. Lalu kemudian berkembang pesat dan muncullah pelaku lain seperti Kenangan, Janji Jiwa, Fore dan banyak lagi. Masing-masing menjual kopi susu dengan teknik pemasaran yang luar biasa jagonya. Bahkan Kenangan dan Fore tampak unggul karena memadupadankan teknologi dalam teknik jualannya.

Hal ini tidak terbayangkan lima sampai sepuluh tahun lalu. Siapa yang bisa mengira bahwa kopi susu akan dirayakan semasif ini. Dengan teknologi malah! Kopi susu menjadi alternatif yang gampang diterima untuk mereka yang mau menikmati kopi dengan rasa yang ‘familiar’ dan harga yang tak mencekik kantong. Ya, meski tak semua kopi susu berharga murah.

Kabar baiknya adalah banyak penikmat kopi susu yang lebih nasionalis. Alih-alih memilih Starbucks sebagai merek ternama yang harum namanya, banyak orang yang lebih memililh meminum mereka kopi lokal. Tak hanya merek besar yang saya sebutkan tadi, namun nama-nama kopi kecil lainnya yang memang dibangun oleh orang lokal yang tak punya dana besar. Mantap!

credit : nytimes.com

Lalu apakah kopi susu kekinian akan mengalahkan genre kopi hitam setara seduh manual? Tampaknya tidak juga. Karena kopi susu dan kopi manual sepaket dengan espresso-nya adalah dua hal berbeda. Bahkan kedai-kedai kopi era sekarang tak mau kalah dan malah mereka juga menyediakan menu kopi kekinian disamping espresso base dan menu filter coffee.

Kopi susu kekinian menurut saya adalah pelengkap dan pemberi warna di industri kopi kita yang dinamis. Kopi kekinian bukanlah pilihan kopi ‘kelas dua’, namun sebagai alternatif selera dan isi kantong juga.

Menurutmu bagaimana?

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.