SHWE OU, CAFFEINE SAVIOR DI BAGAN

Tanpa bermaksud berlebihan, kedai kopi ini seperti cherry on top-nya eksotisme Bagan.

HAMPIR sama seperti mendatangi Yangon beberapa waktu lalu, tiba di kota… hmm, ini salah satu kota peradaban tertua di Myanmar tepatnya, saya tidak membawa ekspektasi apa-apa. Pertama, setelah cukup banyak riset sana-riset sini di internet, saya tetap nggak dapat juga informasi apapun tentang kedai kopi yang bisa dijadikan rekomendasi di Bagan. Kedua, waktu nanya ke resepsionis hotel, petunjuk yang saya dapat pun cuma “Coffee shop? This way, that way!” sambil si resepsionis menunjuk ke arah kiri dan kanan hotel tanpa memperjelas dimana persisnya this way dan that way itu. Jadi, ya sudahlah. Saya sudah hampir ikhlas saja menerima bahwa saya nggak akan bisa ngopi di Bagan.

Karena masih jam 10 pagi, saya memutuskan ngider-ngider area sekitar hotel, sekalian cari brunch. Sebuah sandwich board dengan tulisan cukup eye catchy tentang kopi menggelitik perhatian saya, yang kemudian diikuti cepat pandangan mata saya ke arah board itu mengacu. Beberapa bule yang duduk dengan cangkir-cangkir di meja mereka adalah pemicu yang segera menerbitkan idea lamp dalam kepala. Tring! Ini ada kedai kopi nih! teriak saya girang. Dalam hati aja tentunya.

shwe-ou-board

Saya duduk di kursi bambu yang tersisa di teras depan, sambil menunggu dua teman yang kemudian saya hubungi untuk datang ke sini. Tak lama, seorang lelaki yang tampaknya berada di akhir usia 30an –belakangan saya tahu bahwa ia adalah pemilik kedai ini– datang memberikan menu.

“Where are you from?” tanyanya ketika saya memelajari menunya. Yang ternyata cukup lengkap, baik menu kopi maupun makanannya. Harganya pun lumayan murah untuk ukuran Myanmar yang serba mehong—itu yang penting. Hehehe… “Oh, I’m from Indonesia,” jawab saya setelah menyadari dia masih menunggu jawaban saya. Ia manggut-manggut. “Do you know Indonesia?” tanya saya balik sambil memberinya pesanan latte sebagai menu pembuka. Dari si pemilik kedai itu baru saya tahu bahwa tak banyak turis Indonesia yang datang ke sana, atau mungkin ke kedainya. Satu kesimpulan yang saya amini setelah menyadari bahwa selama di Bagan ternyata saya memang tak pernah bertemu turis Asia lain selain yang berasal dari Jepang atau Korea Selatan. Atau, turis-turis kelebihan duit dari China.

kafe-shwe-ou
tampak depan kafenya

Sambil menunggu, melihat-lihat suasana kedai terbuka berikut orang-orang yang nongkrong di dalamnya adalah pilihan yang sepertinya menyenangkan. Shwe Ou yang sebenarnya lebih cocok disebut kafe ketimbang kedai kopi ini memiliki dekorasi natural, semua kursi dan mejanya dibuat dari bambu dan kayu. Halaman depan kedainya ditanami rumput-rumput hijau dan rapi, membuatnya benar-benar mencolok sebagai penyejuk di tengah kondisi Bagan yang panas dan cenderung berpasir.

Latte pesanan saya datang. Dan seperti biasa, belum sah kalau belum nanya-nanya tentang kopi mereka dong. Hehehe… Pemiliknya ternyata sangat antusias menerangkan, sambil sesekali menyelipkan promosi, tentang kopi yang mereka gunakan. Kafe ini menggunakan single origin Shwe Pu Zun Arabica yang ditanam di ketinggian minimal 1.000 mdpl di wilayah utara Myanmar. Pohon kopi single origin ini ditanam di bawah (bayang-bayang) pohon rindang yang tinggi sehingga tidak terkena paparan sinar matahari langsung. Prosesnya semi-washed dan di-roast sampai level maksimal medium-dark. Sayang sekali mereka belum punya alat manual brew, kalau nggak seru juga tuh dicobain.

IMG_4899
Latte dan es krim yang mereka bikin sendiri.
makanan-shwe-ou
Salah satu menu makanannya.

Untuk menu kopi, mereka cukup lengkap dan spesifik. Dari menu basic seperti espresso sampai yang agak ribet seperti macchiato, cappuccino, mocha dan bahkan ada Americano juga. Menu makanannya juga banyak varian, mulai dari yang western style seperti sandwich, spaghetti, burger dan teman-temannya sampai masakan Asia dan, ini nih yang cukup surprise, ada menu a whole fish with vegetable with sweet and sour sauce mixed with pineapple and chili. Dalam hati pas membaca menu itu, halaahh… mau bilang ikan goreng sambel asam manis aja ribet. Wkwkwk…

Membawa kopi sendiri ke Bagan. :p
Membawa kopi sendiri ke Bagan. :p

Untuk kopinya okelah, ya. Boleh juga. Nah, untuk makanannya, kafe ini benar-benar best! Untuk ukuran lidah orang Medan yang biasanya punya standar agak tinggi soal rasa (huek!) makanan yang disajikan di kafe ini benar-benar paling oke dari semua makanan a la Myanmar yang… ah, sudahlah. Tak heran jika saya pun menyinggahi kafe ini setidaknya entah untuk makan siang atau makan malam selama di Bagan.

My final conclusion? Kota Bagan yang eksotis dengan lansekap dan ribuan pagoda yang menjulang di antara padang pasir sudah jelas menjadi keistimewaan yang grande. Nah, bayangin di tengah peradaban yang magis itu kita masih bisa tetap ngopi dan menikmati makanan yang enak dan murah pula. Tak salah ‘kan kalau saya bilang Shwe Ou ini ibarat cherry on top-nya eksotisme Bagan? :p

 

Shwe Ou

Khayae Street no. 25, New Bagan

Buka setiap hari: 08:00 – 21:30

 

single-origin kopi

390 total views, 2 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.