SINGGAH KE WAROENG KOPI BOROBUDUR

Perjalanan ke Borobudur bagaimana pun adalah sebuah pengalaman asyik yang memberi takjub tentang betapa luar biasanya Indonesia dan segala sejarah yang di kandungnya.

SUBUH sekali saya dan sahabat harus bertolak dari Yogyakarta menuju Bukit Rhema untuk menjemput matahari terbit di Phuntuk Setumbu. Pukul 4 pagi di saat semua orang masih bermesraan dengan kasur masing-masing mobil yang kami tumpangi melaju cepat. Sampai tepat waktu di Punthuk Setumbu disajikan matahari yang indahnya luar biasa.

Setelah dari Bukit Rhema dan mampir ke Gereja ayam lalu kami menuju Candi Borobudur. Ya, mampir di Magelang tak mungkin melewatkan candi yang satu ini. Cuaca terik minta ampun dan saya hampir menyerah mengelilingi candi ini. Waktu menjelang siang dan hasrat ngopi tak terbendung lagi. Karena sudah lelah berjalan-jalan dan mengisi perut dengan makanan khas kupat tahu, kami putuskan untuk mencari tempat ngopi.

Maklum di Magelang susah mencari kedai kopi yang tak jauh dari tempat kami berada. Setelah cari sana-sini dan janjian dengan seorang teman maka kami memutuskan untuk mampir ke Waroeng Kopi Borobudur. Agak takjub melihat kedai kopi yang berbentuk joglo ala Jawa Tengah. Kedai kopinya terbuka tanpa dinding dengan meja dan kursi yang zaman dahulu yang sungguh khas.

Di sini tak ada mesin kopi modern di sini, apalagi menu manual brew ala third wave era. Semuanya disajikan dengan cara tradisional yang mencandu. Saya memesan secangkir Borobudur Kopi yang ternyata adalah kopi hitam yang diseduh dengan gula. Tak ada pahit-pahitnya sama sekali. Saya sih tidak protes karena memang beginilah cara penyajian kopi tradisional di sini. Dua teman saya yang tinggal di Magelang memesan tempe mendoan, kopi hitam dan es teh. Sedang teman saya satu lagi memesan es tape yang rasanya asam-asam manis menagih.

Tempe mendoan yang disajikan panas-panas ini rasanya pas sekali dinikmati dengan kopi yang saya pesan. Apalagi ditemani dengan suara gamelan yang dimainkan live di sudut warung. Oh iya, pengunjung juga bisa belajar gamelan karena diajarkan langsung dengan bapak yang ada di sana. Saya mau coba cuma malu-malu jadinya ya tidak jadi.

Untuk yang lapar di sini menyediakan menu makanan prasmanan dan ala angkringan juga. Kamu bisa mengambil sendiri makanan apa yang kamu mau dan bayar sesuai dengan pesanan. Ada aneka sate-satean, jajanan pasar, lauk-pauk dan segala macam camilan yang sudah pasti menuntaskan lapar yang berkepanjangan. Saya saja menyesal datang dengan perut kenyang karena tergiur juga ingin mencicip ini-itu.

Waroeng Kopi Borobudur ini ternyata merupakan bagian dari komplek penginapan yang dibangun di sekitar Candi Borobudur. Jadi banyak sekali turis yang singgah di sini sekedar untuk ngopi atau makan berat. Saya sendiri beruntung bisa mampir ke sini dan merasakan nuansa desa dan budaya khas Jawa Tengah yang kental. Ah, jadi kangen main ke sini lagi.

Waroeng Kopi Borobudur

Jalan Borobudur – Ngadiharjo, Borobudur,

Magelang, Jawa Tengah 56553

Indonesia 

213 total views, 6 views today

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.