SINGLE ORIGIN TRIP KE TANAH KARO

Perjalanan ke kebun kopi yang mengesankan.

MENDEKATI tengah malam, Warung Rumah Seni Kopi yang masih tampak ramai mulai didatangi beberapa barista yang belum saya kenal. Seperti jadwal di online flyer yang dibagikan oleh komunitas Barista Medan, kedai kopi itu memang menjadi titik pertemuan sebelum perjalanan yang sebenarnya berjudul Barista Camp ini dilakukan keesokan harinya—beberapa jam lagi. Thicka sudah menunggu di teras depan ketika saya dan Sarah melangkah masuk ke pekarangan. Saya kira kami adalah tiga-tiganya peserta perempuan yang akan ikut kegiatan ini ketika Kher Khairina, seorang mantan kepala barista di sebuah kafe cukup terkenal di Jakarta, tiba-tiba muncul. Ternyata peserta perempuannya kami berempat.

Menjelang dini hari mobil yang membawa kami menuju Berastagi akhirnya meluncur. Di sebuah penginapan cukup nyaman di kawasan kota Berastagi, Cupenk—barista yang merangkap pemimpin kegiatan hari itu—meminta kami beristirahat sebelum memulai kegiatan sebenarnya pagi nanti. Kenyataannya, itu sudah jam 4 pagi. Jadwal tidur yang sudah terlambat sekian jam ditambah udara pegunungan yang memang tidak membekukan tapi cukup membuat gigil memicu tidur saya hanya bisa sekenanya.

Di jam 8 pagi, pintu kamar kami digedor cukup keras. Ulah Cupenk. Ah, dia itu. Sejenak saya sempat berpikir jangan-jangan dia memang tidak pernah tidur sepanjang hidupnya. Saya melihat para barista yang seluruhnya laki-laki (selain Khairina) telah sama bersiapnya dengan kami di depan pintu kamar masing-masing. Seharusnya ada 20 peserta yang bergabung dengan kegiatan ini, tapi sepertiganya mendadak membatalkan janji di detik terakhir. Kota Medan yang diguyur hujan sangat deras sehingga membuat beberapa rumah kebanjiran pada malam sebelum kegiatan ini berlangsung menjadi rata-rata penyebab utamanya.

Tungku api tradisional di warung kopi Lavenia, Berastagi.
Tungku api tradisional di warung kopi Lavenia, Berastagi.

Ada beberapa persinggahan di pagi itu sebelum kami benar-benar memulai perjalanan ke kebun kopi. Pertama, kami perlu mengisi perut dulu di kedai kopi Lavenia yang berada tepat di jantung kota kecil Berastagi, di Jalan Veteran. Kedai ini lebih seperti warung kopi tradisional, mereka bahkan masih menggunakan tungku api sebagai pembakarnya. Seperti lazimnya warung-warung kopi tua, menurut saya keistimewaan kedai ini adalah kopi tubruk atau kopi susunya bersama camilan kue-kue dari terigu, meski kita juga bisa memesan nasi atau lontong di sana. Karena saya bisa makan lontong kapan saja dan dimana saja di Medan, saya pun memesan kopi susu beserta beberapa kue bohong untuk sarapan—pilihan yang tidak saya sesali.

Udara Berastagi yang masih tetap dingin ditambah segelas kopi panas dan camilan nikmat merupakan perpaduan yang benar-benar pas. Beberapa pria separuh baya tampak mengobrol dengan bersemangat, meski rombongan kami (yang semuanya anak-anak muda) adalah yang paling banyak memenuhi ruangan kedai. Suasananya benar-benar akrab, semakin membenarkan teori selama ini bahwa warung kopi adalah tempat untuk mendamaikan segala kekisruhan. Orang bisa saja berkelahi di luar, tapi begitu masuk ke warung kopi mereka akan segera bersalaman dan kembali bergurau.

Kedai kopi Biji Hitam yang sebenarnya belum buka ketika kami datang.
Kedai kopi Biji Hitam yang sebenarnya belum buka ketika kami datang.

Perhentian berikutnya adalah kedai kopi Biji Hitam yang lebih kontemporer di suatu jalan sudut kota. Kedai ini menyajikan manual brewing sebagai menu utamanya. Kami tidak berencana untuk minum kopi di sana tapi bertemu dengan empat barista Biji Hitam (yang akan bergabung dengan kegiatan ini) dan Willie Sembiring, seorang petani muda (namun tak lagi muda-muda amat) yang sangat nyentrik dan terlihat kenyang dengan segala pengalaman. Ia mengendarai jip Willys MB keluaran tahun 1940-an yang tak kalah nyentrik dengan penampilannya. Ialah yang kemudian menuntun perjalanan kami menuju Desa Bertah, Kecamatan Tigapanah, Karo, yang menjadi tujuan single origin trip ini. Sepanjang perjalanan, orang-orang desa tertegun dan sempat berhenti sebentar melihat jip ini melaju bersama para penumpangnya: Willie yang berambut gimbal dan empat barista yang tampak seperti anggota band rock and roll.

Sekitar 45 menit berikutnya, di sebuah ujung jalan di Desa Bertah, kami berhenti. Inilah yang jadi tujuan sebenarnya. Saya melongok ke sekeliling. Pemandangannya mirip dengan kawasan Huye Mountain Rwanda di A Film About Coffee. Hamparan perbukitan yang sepenuhnya hijau karena pohon-pohon liar yang tumbuh sembarangan dan pohon-pohon kopi yang berbaris rapi terlihat harmonis dengan langit biru. Matahari di Jumat itu seharusnya terik, tapi udara pegunungan membuatnya terasa sejuk. Desa Bertah yang berada di ketinggian 1.192 meter di atas permukaan laut adalah alasan mengapa daerah itu bukan hanya ideal untuk ditanami kopi, tapi juga berhawa teduh dan segar.

dsc00922

Biji-biji kopi yang sedang dikeringkan.
Biji-biji kopi yang sedang dikeringkan.

Willie mengenalkan kami kepada petani pemilik kebun yang kami datangi. Pak Karo namanya. Rumah Pak Karo sekaligus berfungsi menjadi tempat pengumpulan biji kopi. Sebagian besar pekarangannya sudah ditutupi tikar-tikar berisi biji kopi yang sedang dikeringkan. Di bagian depan rumah ada meja panjang yang telah disekat pendek untuk memilah biji-biji kopi yang cacat (defect) secara manual. Meski tidak terlalu besar, tapi tempat itu terlihat sibuk oleh para pekerja yang menyortir dan memasukkan kopi-kopi ke dalam karung yang akan dikirim ke kota.

Para barista yang mencoba menjadi penyortir kopi, di belakang mereka seorang peserta mencoba menjadi pengawas.
Para barista yang mencoba menjadi penyortir kopi, di belakang mereka seorang peserta mencoba menjadi pengawas.
Para barista menuju ke kebun kopi.
Menuju kebun kopi.

Willie dan Pak Karo mengajak kami segera ke kebun kopi tak jauh dari rumahnya. Ada semacam pondok kecil tak jauh dari kebun, dari luar bentuknya mirip dengan washing station Huye di film tadi. Saya tertarik masuk, sambil berharap mungkin ada para pekerja yang sedang mencuci kopi sambil bernyanyi gembira. Ternyata saya menemui luwak-luwak yang semuanya sedang tidur pulas di dalam kandang lumayan besar. Hanya ada satu luwak yang berada di luar kandang, tubuhnya gemuk dan sehat. Ketika Pak Karo masuk, ia segera menggigiti ujung celana tuannya seperti minta perhatian. Luwak itu melihat kami, empat-empatnya peserta perempuan dalam rombongan sekaligus kelompok yang membelot sebentar dari rute ke kebun kopi, lalu mulai mengendusi sepatu kami. Tingkahnya lucu dan menggemaskan. Saya tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa luwak, hewan karnivora yang terkesan buas di berbagai catatan, ternyata selucu ini. “Luwak ini sudah jinak,” terang Pak Karo sambil membiarkan hewan itu bermain dengan jenaka di sekitar kami.

Semua luwak milik Pak Karo di tempat ini dipelihara dengan waras. Mereka tidak setiap hari diberikan cherry kopi untuk dimakan, tapi juga diselingi dengan pisang dan buah-buahan lain. Jika tumbuhan kopi sedang belum memasuki masa panen, maka mereka akan diberikan daging—sesuai kodrat aslinya. “Jangan lupa, luwak itu adalah hewan karnivora yang sejatinya hidup di alam liar. Perlakukanlah dengan wajar,” jelas Pak Karo. Tak heran jika luwak-luwak itu terlihat bahagia—tapi saat itu mereka terlihat kesal karena kami mengganggu tidur mereka. Kopi-kopi luwak Pak Karo telah mendapat sertifikasi dari LP Puslitkoka dengan skor citarasa final 87.00.

Luwak Pak Karo yang jinak.
Luwak Pak Karo yang jinak.

Cupenk yang mendapati kami berempat ternyata masih teronggok di pondok luwak (sementara semua peserta lain sudah berkumpul di kebun kopi) kemudian memanggil dengan sedikit gemas. “Sudah ditungguin bang Willie itu, nanti saja ke sini,” katanya gregetan. Beberapa hari kemudian saya menganggap kejadian itu lucu. Betapa kami yang hanya empat-empatnya peserta perempuan dalam tur itu justru menjadi kelompok yang menyeleweng dari agenda.

Di kebun kopi, Willie yang didampingi Pak Karo mulai memberi kuliah singkat tentang kopi mulai dari cara memetik cherry yang benar, pohon kopi, keadaan tanam sampai kondisi-kondisi yang membuat pohon kopi bisa terkontaminasi dan akhirnya melahirkan cherry yang cacat. “Yang sering dilewatkan oleh petani adalah lupa membersihkan sisa-sisa cherry yang jatuh di sekitar pohon kopi setelah memanen. Padahal, kalau dibiarkan, cherry ini bisa tumbuh menjadi tunas baru dan akhirnya bisa mengganggu pertumbuhan pohon kopi di dekatnya.” Ia menjelaskan dengan sangat detil. Ada banyak sekali informasi berguna yang diberikan pada sesi itu, membuat saya merasa benar-benar beruntung mengikuti perjalanan ini meski bukan barista.

Di kebun ini, kopi yang ditanam ini adalah varietas P88, klon budidaya manusia yang dianggap salah satu jenis terbaik. Konon salah satu perusahaan kopi berskala global terkenal menggunakan varietas ini sebagai bahan bakunya.

Bukan, dia bukan Rohan Marley. Tapi Willie Sembiring.
Bukan, dia bukan Rohan Marley. Tapi Willie Sembiring.
Memberikan kuliah singkat di kebun kopi, hanya di single origin trip ini.
Memberi kuliah singkat di kebun kopi? Hanya di single origin trip kali ini. :p

Setelah dipanen, kopi-kopi ini umumnya diproses dengan cara giling basah dan natural. Saya sempat melihat proses lanjutan setelah biji-biji kopi di pertanian ini dikeringkan. Pak Karo menciptakan sebuah papan jaring sederhana tapi sangat efektif untuk memisahkan green bean yang telah dikeringkan dengan residu lain seperti pasir atau batu sehingga hasil akhir yang didapat adalah yang benar-benar bersih.

Pak Karo dan papan jaring buatannya untuk menyingkirkan residu tidak baik yang sekiranya masih terselip di antara green bean.
Pak Karo dan papan jaring buatannya untuk menyingkirkan residu tidak baik yang sekiranya masih terselip di antara green bean.

Selain mengunjungi kebun kopi, salah satu agenda penting para barista di acara ini adalah menyeduh kopi bagi para petani dengan memakai teknik Aeropress. Bukan rahasia jika para petani kopi justru seringkali tidak menikmati seduhan terbaik kopi-kopi yang telah mereka besarkan sepenuh hati. Maka kegiatan ini sekaligus pula menjadi kesempatan para barista untuk mengenalkan para petani teknik seduh di luar tubruk atau cara yang barangkali belum pernah mereka lihat sebelumnya. (Saya melihatnya sebagai ajang balas jasa oleh barista kepada para petani kopi).

Sangat menakjubkan melihat reaksi para petani itu menikmati kopi-kopi yang diseduh secara manual. Ada wajah-wajah takjub, sebagian besar terkesima, karena kopi itu —menurut pengakuan mereka— terasa lebih ringan dan berbeda.

Cupenk memperkenalkan teknik Aeropress kepada para petani yang antusias.
Cupenk memperkenalkan teknik Aeropress kepada para petani yang antusias.
Menyeduh dengan Aeropress.
Menyeduh dengan Aeropress.
Para petani kopi, setelah menikmati seduhan Aeropress buatan barista.
Para petani kopi, setelah menikmati seduhan Aeropress buatan barista.
Para barista dan petani kopi.
Para barista, panitia dan petani kopi berfoto bersama.

Melihat proses perjalanan kopi yang panjang ini, mulai dari proses tanam (berikut risiko-risiko yang bisa terjadi selama penanaman) sampai pengolahannya yang tidak sembarangan demi menghasilkan kopi terbaik, saya pikir, inilah yang kemudian membuat harga kopi layak diapresiasi tinggi. Karena kita bukan hanya membayar kopi sebagai sebuah komoditas, tapi juga kerja keras yang panjang dan terus menerus dari para petani.

Terima kasih kepada Komunitas Barista Medan yang membuat perjalanan single origin ini menjadi mungkin.

Sampai bertemu di single origin trip berikutnya! 🙂

single-origin kopi

360 total views, 6 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

5 Comments
  1. saya setuju dengan mb Yulin, kopi yg kita bayar & minum bukan cuma skedar kt membayar “minuman” semata, tapi juga membayar “kerja keras” dari si petani. very good article! smoga smkin bnyak artikel tentang single origin tripnya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.