ST ALI, SEPOTONG MELBOURNE DI JAKARTA

Kopi tak hanya mampu menghadiahkan kebahagiaan, tetapi juga melebur dua budaya menjadi kesatuan utuh bernama ST ALi Jakarta.

ST. Ali dan keramaiannya yang seru.
ST. Ali dan keramaiannya yang seru.

SEPOTONG Melbourne di Jakarta, setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan ketika kaki ini melangkah ke coffee shop yang sore itu dipenuhi para pecinta kopi. St. ALi terasa begitu menyenangkan dengan konsep kedai kopi yang terbuka. Kanopi-kanopi berjejer rapi di sisi outdoor sedang bagian indoor-nya berjejer meja dan kursi yang disusun begitu apik. Membuat mereka yang datang betah duduk berlama-lama sambil dimanjakan bercangkir kopi enak.

Meskipun ramai, ST. ALi tak kehilangan kenyamanannya.
Meskipun ramai, ST. ALi tak kehilangan kenyamanannya.

Saya dan tiga orang teman memillih duduk di sisi indoor. Kedai kopi yang berlokasi di Setiabudi One, Building 2, Ground floor ini nyaris tak penuh. Tak ada kursi dan meja bersisa. Tapi entah kenapa keramaian ini sama sekali tidak mengurangi kenyamanannya. Di ST. ALi coffee bar terbagi dua. Yang pertama espresso bar yang menghadap ke luar dengan mesin espresso La Marzocco sebagai ‘alat tempur’ para baristanya. Sedangkan brew bar berada di sisi bagian dalam tepat berada di depan meja tempat duduk saya. Sebagai pecinta manual brew saya tentu memilih filter coffee untuk sore yang mendung ini. Ketiga teman lain memesan café latte dan cappuccino. Oh iya, saya juga memesan ST ALi Chicken Burger yang tersohor itu. Penasaran sama rasanya!

Coffee bar tempat segala kenikmatan dilahirkan
Coffee bar tempat segala kenikmatan dilahirkan

Single origin Ethiopia Yirgacheffee yang saya pesan diseduh dengan menggunakan kalita wave. Rasanya menyenangkan melihat proses menyeduh kopi yang dilakukan dengan begitu hati-hati. Fellow Pour Over Stagg Kettle yang digunakan untuk menyeduh pun bergerak begitu hati-hati dan membuat saya terpaku menonton sambil serius sendiri. Ha-ha-ha. Single origin dari filter coffee yang saya pesan disajikan di sebuah cangkir porselain cantik. Begitu mantan saat digenggam. Lalu bagaimana dengan rasa kopinya? Notes floral, berries dan chocolate melebur sempurna saat diteguk.

Ethiopia Yirgacheffe sedang diseduh. Yum!
Ethiopia Yirgacheffe sedang diseduh. Yum!
Cangkir cantik memeluk mesra kopi nikmat.
Cangkir cantik memeluk mesra kopi nikmat.

Setelah filter coffee, hot cappuccino dan café latte yang kami pesan juga menyusul datang. Menurut teman saya minuman yang mereka pesan nikmatnya pas, tak berlebihan. ST. ALi ini menurut saya keren karena walaupun kedai kopinya sedang ramai-ramainya, pelayanannya cukup cepat dan tak perlu sebal menunggu pesanan lama datang. Plus point for them! Menu-menu kopi sudah habis dicicipi, saatnya burger fenomenal yang ternyata rasanya tak mengecewakan. Burger dengan Southern Kentucky buttermilk fried chicken with coleslaw, seeded mayo and french fries ini tak mampu saya habiskan sendiri saja. Burger ini lumayan besar dan enaknya dimakan rame-rame.

st-ali-jakarta
ST. ALi Chicken Burger
The real happiness!
The real happiness!

Sepertinya sore hari bukanlah waktu yang baik untuk datang ke ST. Ali, karena seharusnya saya datangnya pagi atau menjelang siang. Kenapa? Banyak menu brunch yang tampaknya begitu lezat dinikmati bersama secangkir kopi. Ah, lain kali jika diberi kesempatan saya mau mampir saat brunch time saja. Biar lebih leluasa menikmati aneka menu yang mereka sediakan. Sebagai penutup kunjungan, sebelum pulang saya memesan sebotol iced cold black untuk diminum di perjalanan pulang.

Mahlkonig Two Hoppers!
Mahlkonig Two Hoppers!

Secara keseluruhan saya cukup puas dengan kehadiran ST. Ali di Jakarta. Menurut saya munculnya kedai kopi dengan kultur Melbourne menambah variasi di geliat industri kopi ibukota. Terbersit sedikit rasa iri kepada warga Jakarta yang memiliki banyak sekali coffee shop specialty yang bisa dijadikan pilihan untuk ‘pelarian manis’ disela-sela kesibukan. Ah, semoga Medan segera menyusul karena sekarang perlahan arahnya sudah ada ke sana.

st-ali-jakarta
Ice Cold Black

ST ALi

Setiabudi One, Building 2, Ground floor

Jl. H. R. Rasuna Said

Kuningan, Jakarta Selatan 12920,

DKI Jakarta, Indonesia

PAKET CAFE

 

377 total views, 10 views today

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

4 Comments
  1. Sebenarnya St. Ali masih belum bisa dibilang merepresentasikan Melbourne Culture. Ada tiga point yang membuat coffee culture di Melbourne terkenal, yaitu:
    1. Coffee shop atau cafe letaknya di alley atau gang sempit dengan berbagai ciri khas masing-masing.
    https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/54/4c/24/544c240a9287238311c0d95f50ea04a1.jpg

    2. Budaya antri dan ngopi pagi di Melbourne sangat kental sehingga setiap orang disana rela antri pagi-pagi.
    http://cdn.newsapi.com.au/image/v1/b3a0c8003ee6428d8296444f7faac085?width=1024

    3. Sistem loyality card sangat solid dan dipegang teguh baik oleh pengelola cafe dan pelanggan di Melbourne sehingga setiap orang punya coffee shop atau cafe favorit.
    http://www.environmentalprinting.com.au/images/coffee-loyalty-card-recycled.jpg?crc=303156949

    Jika ingin mendeskripsikan budaya ngopi Melbourne seharusnya point-point ini yang diungkapkan. Sebenarnya budaya ngopi pagi di Aceh dan Medan agak mirip dengan budaya ngopi di Melbourne (Minus espresso machine atau peralatan modernnya). Masyarakat kita tinggal perlu mengembangkannya.

  2. Kopinya sih asyik, sayang menu makananannhya ada menu babi. Jadi, bagi yg muslim tidak disarankan makan di sini. Karena piringnya, sendoknya dll khawatir tercemar masakan babi

  3. I go to coffee shop for the coffee, I went to St. Ali Melbourne and the coffee there tasted much better.. the atmosphere perhaps?

Leave a Reply

Your email address will not be published.