TAMASYA RASA LEWAT KOPI

Kopi bisa sama hitam, tapi rasanya menyeruak lewat rupa-rupa yang menyenangkan.

SAYA yakin bahwa setiap orang punya pendapat berbeda soal kopi apa yang paling nikmat. Namu saya juga percaya bahwa setiap orang memiliki pendapat yang sama bahwa kopi nikmat lahir dari perjalanan yang panjang prosesnya.

Kopi di era sekarang bukan hanya soal kebutuhan akan kafein atau pereda haus di siang hari. Kopi bukan lagi sekadar komoditas yang berharga namun sesuatu yang dirayakan dengan suka cita.

Oleh karena itu, kopi pada akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang lahir dalam seduh kemudian teguk. Kopi diperbincangkan, diperdebatkan, diperlombakan dan dijadikan ranah tamasya kecil-kecilan. Setidaknya itu untuk saya.

Lalu bagaimana tamasya rasa itu? Istilah ini ‘tamasya rasa’ ini tercipta dari perbincangan dengan beberapa orang teman. Kita tak perlu kemana-mana untuk piknik karena dalam kopi perjalanan lahir dalam tegukan.

Kopi yang enak datang dengan sepaket kisah. Misalnya Kopi Bu Nur dari Air Dingin, Solok, Sumatera Barat yang lahir dari perjuangan sepasang suami istri yang ingin hidupnya lebih baik. Yang dianggap ‘kurang waras’ karena memilih kopi sebagai penopang hidup. Kisah seperti ini datang kepada secangkir kopi yang kita seduh. Buat saya sendiri bertamasya menjadi sesuatu yang bermakna lain. Tak hanya soal perjalanan yang dilakukan, tetapi cerita yang datang dalam wujud kopi.

Cerita lain datang dari Kopi Ethiopia yang lahir dalam asuhan para petani. Dirawat sedari bibit hingga tiba pada seduhan kita dalam karakter nyaris sempurna. Sebuah kisah yang ajaib kerap membuat takjub. Itu kenapa kopi layak menjadi media yang agung perihal pengalaman seduh kita.

credit: dailycoffeenews.com

Lalu apakah kopi akan selalu mampu membawa kita ‘tamasya’ lebih jauh? Menurut saya tentu saja mampu selagi kita mau melihat lebih dekat. Selagi kita ingin mencari tahu apakah kenikmatan ini lahir dalam semalam atau benar diciptakan dari perjalanan panjang?

Saat menulis ini saya sedang menikmati kopi tubruk. Kesederhanaannya membawa saya ‘tamasya’ ke rumah nenek. Gelas belimbing, aroma tanah basah dan tawanya memberikan keharuan.

Adakah di antara kamu yang punya pengalaman perihal ‘tamasya’ bersama kopi?

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.