TIDAK SEMUA KEDAI KOPI COCOK UNTUK KITA

Setiap kedai kopi memiliki karakter yang sedikit banyak menyaring pengunjungnya menjadi sekumpulan manusia yang serupa. Demikianlah adanya.

AWALNYA saya pikir setiap kedai kopi adalah untuk semua orang. Ya. SEMUA ORANG. Padahal setelah saya pelajari dan amati, ternyata setiap kedai kopi mencerminkan rupa-rupa penikmatnya. Satu kedai kopi tidak bisa memuaskan keinginan semua orang. Tapi kedai kopi itu bisa memuaskan keinginan sekelompok orang. Yang mungkin bukan kita, tapi mereka, yang mungkin bukan dia, tapi kamu.

credit: fundesign

Begitulah, kawan. Kopi memang minuman semua orang. Tapi setelah ditilik dan diperhatikan lebih dalam, kedai kopi memang perkara serasi dan tidak serasi. Kamu sendiri pasti pernah berkunjung ke sebuah kedai kopi yang meski kopinya enak benar tapi kamu tak betah berlama-lama di sana. Bukan salah kedainya, baristanya, musiknya, harganya. Yang salah adalah kamu, saya, kita yang memang tidak cocok dengan segala kesatuan yang diberikan kedai kopi itu. Kita bukan pasarnya, dan itu sah-sah saja.

Saya sendiri pernah mengalami ini berkali-kali. Sebuah kedai kop yang saya kira cocok untuk saya yang agak banyak tingkah. Kedai kopi itu sempurna dengan cangkir indah, mesin ganteng, barista nan infomatif serta menolong. Tapi suasana di sana. Ceracau pengunjung lain dan apa-apa yang terjadi di kedai kopi itu membuat saya asing. Kecewa sebenarnya tapi saya tak bisa menyalahkan apapun selain diri saya sendiri yang tak cocok dengan kedai itu.

Saya percaya bahwa kedai kopi adalah semesta kecil. Sebuah ekosistem mini. Sebuah rumah sementara. Saat kita merasa cocok dan betah dengan kedai kopi itu, berarti memang di situlah semesta kita. Seperti ikan yang tak bisa dipaksa ngopi di darat atau kucing yang dipaksa nyeduh di air. Begitulah serasi-serasian perkara kedai kopi ini.

Oleh karena itu, banyak kedai kopi yang muncul dalam ragam pesona. Sebanyak keinginan dan ragam peminum kopi yang mencari-cari kedai kopi mana yang memang mewakili mereka. Perbedaan ini membuat pebisnis kedai makin kreatif dan kita sebagai penikmat semakin banyak pilihan. Seru sekali.

Sejauh ini saya sudah menemukan jodoh kedai kopi. Tapi tak menutup diri menjelajah kedai-kedai baru demi menemukan semesta kecil lain yang lebih seru.

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.