COFFEE TRIP: TIPS PETIK KOPI DARI PETANI KOPI MANDAILING

Perjalanan paling membahagiakan adalah kesan yang tidak luput setelah pulang.

INI adalah hari pertama kami berkeliling di tanah Karo, setelah sebelumnya merencanakan akan pergi ke mana saja. Destinasi pertama adalah kebun kopi milik pak Adri Sitepu, kebun kopi yang sangat menarik karena tidak hanya ada tanaman kopi tapi ada tanaman jeruk di sini. Jaraknya dari kota Kabanjahe sekitar satu jam, jalanan menuju kebun kopi pun sangat asri pemandangan kebun sayur dan tanaman lainnya. Hampir terlewat jauh dari kebun kopi milik pak Adri, namun akhirnya kami pun sampai di desa Ajinembah, kecamatan Merek, kabupaten Karo.

Sambutan hangat nan ramah, obrolan kami pun semakin akrab, beliau bercerita tentang awal mula bertanam kopi. Berharap tanaman jeruk miliknya berjalan dengan baik, tapi tidak demikian malahan hasil panen kopi kini jadi biaya perawatan tanaman jeruk juga. Bukan hanya menghidupi keluarganya, kebun kopi milik pak Adri juga sebagai penghasilan tambahan para tetangga di desanya. Dari sini pak Adri bercerita memberikan tips cara petik ceri kopi dan bagaimana siasati para pemetik ceri kopi.

Mengupah seseorang untuk memetik ceri kopi tidak sembarang harus diberikan pemahaman agar mereka hanya memetik ceri merah saja. Memetik ceri kopi harus dilihat dengan benar tingkat kematangannya, cara petik ceri kopinya pun bukan ditarik dari pangkal ranting. Jika ceri kopi ditarik dari pangkal ranting dengan alasan lebih cepat dan lebih mudah. Bisa dipastikan pada ranting tersebut tidak akan ternutrisi dengan optimal. Maka pada panen berikutnya ceri kopi tidak akan tumbuh lagi, bahkan ranting baru pun tidak akan tumbuh optimal pada ranting yang dipetik paksa.

Sebaiknya memetik ceri kopi cukuplah buahnya saja yang dipetik, jangan terikut ranting mudah. Pemahaman ini sudah dijelaskan pada pak Adri ke para pemetik ceri, hanya saja masih banyak yang tidak melakukannya. Padahal dari hal dasar seperti pemetikan ceri kopi mempengaruhi kualitas biji kopi, bayangkan jika ceri kopi bercampur ada yang merah dan ada juga yang hijau. Tentu karakter rasa nantinya akan bercampur, menyebabkan kualitas dari biji kopi menurun.

Permasalahannya, karena para pemetik sering diupah berdasarkan ember, bukan diupah harian. Sehingga jika dalam satu hari pemetik ceri bisa memenuhi banyak ember mereka, logikanya mereka akan diupah lebih. Tentunya, pemetikan ceri kopi pun asal tidak berdasarkan cara petik yang sudah diajarkan. Pak Adri akhirnya memutuskan untuk mengupah para pemetiknya berdasarkan harian, walau pun hasil yang dipetik berkurang, tapi kualitas ceri tetap terjaga.

Obrolan serius saya dengan pak Adri teralihkan, kebetulan ketika kami ke sini ada satu keluarga pemetik ceri kopi. Yang paling membuat takjub, ada anak kecil yang bermain di kebun kopi menunggu orang tuanya selesai memetik ceri. Dari neneknya saya mengetahui bahwa namanya Ogen, masih dalam gendongan orang tuanya sudah membawa si kecil Ogen ke kebun kopi. Kebun kopi pak Adri sudah menjadi sumber penghasilan untuk masyarakat di desanya.

Tiap kebun kopi memiliki kisah tersendiri yang layak untuk diceritakan, saya jadi penasaran seperti apa kisah kebun kopi di Indonesia daerah lain. Sudahkah kamu seduh kopi hari ini?

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.