TITIK KOMA COFFEE SURABAYA

Surabaya tak hanya Kota Pahlawan. Kini kota besar nan bertumbuh ini merebak menjadi kota dengan kedai kopi di setiap sudutnya

SELESAI mengikuti perhalatan event kopi Pesta Kopi Mandiri Regional Timur kemarin, kami pun bergegas memulai petualangan untuk mencicip kopi di kedai kopi di Surabaya. Waktu yang sempit kami sempatkan dengan mengunjungi sebuah kedai kopi bernama Titik Koma Coffee. Kedai kopi ini ternyata tidak ada papan namanya. Sehingga membuat kami menyasar sedikit. Tak apalah demi pengalaman kopi nikmat tak terkira.

Nama Titik Koma terasa begitu menarik bagi saya yang memang berprofesi sebagai penulis. Dan saat ditanya kepada sang barista “kenapa kedai ini bernama Titik Koma?” jawabannya sederhana namun ada benarnya. “Titik Koma mungkin bisa dianggap di sini ngopi tanpa henti, setelah titik ada koma lagi titik lagi dan koma lagi. Ya, bisa juga berarti ngopi di sini dan ngobrol di sini tiada henti”. Esensi kopi memang begitu kali ya?

Kedai kopi ini tidak begitu luas dengan bagian out door yang cukup untuk 4 – 6 orang saja. Saat memasuki kedai kami disambut langsung oleh coffee bar di sebelah kanan. Oh iya, di depannya ada gelato yang menggoda untuk dicicip segera. Ha-ha-ha. Di Titik Koma diberlakukan self-service jadi setiap tamu harus pesan terlebih dahulu di kasir dan pesanan diantar kemudian ke meja masing-masing. Karena pasungan kami lumayan banyak, maka kami harus dibagi menjadi dua meja. Pisah sementara judulnya!

Saya yang sedari tadi sudah membolak-balik coffee bag single origin Honduras yang memenangkan Cup of Excellent (dan disangrai oleh Mother Pigeon yay!) tentulah memesan kopi ini. Kopi yang diseduh dengan Blue Bottle Dripper ini benar-benar tak salah pilih. Notes buah plum dan sekilas sugar cane-nya terasa sehingga membuat kami semua angguk-angguk kepala bahagia. Ha-ha-ha.

Oh iya, teman saya memesan salah satu signature drink mereka Wine Honey Latte. Awalnya saya pikir ini adalah latte yang dicampur kopi dari wine process biasa saja. Yah di dalam hati saya bergumam palingan rasanya kayak susu campur nangka. Eh eh saya salah sangka. Saya tidak pernah mencicip rasa kopi seperti ini sebelumnya. Ada manis yang cukup dan segar buah yang tidak nangka juga. Sebuah kompleksitas manis-manis menagih yang sudah pasti cuma ada di sini. Dan meski bentuk latte art-nya tidak indah, saya cukup berbahagia mencicip Wine Honey Latte dan mungkin mau pesan ini lagi kalau kembali ke sini!

Karena kami semua sudah makan berat (sekali!), jadi hanya mencicip butter croissant, gelato dan sejenis coffee tonic yang saya lupa apa namanya di menu. Semuanya cukup sedapnya. Tidak sia-sia kami jauh-jauh ke Titik Koma karena benar pengalaman ngopi di sini tidak bertitik tapi memang berkoma Sesuai filosofi namanya ya!

Selain rasa kopinya, Titik Koma adalah jenis kedai kopi kecil yang nyaman yang membuat siapapun yang gemar ngopi sendiri takkan merasa asing. Kursi-kursi dibuat nyaman dan dekorasi minimalis tak berlebihan. Soal estetika ruang? Cukuplah berhias dengan mesin kopi seksi La Marzocco Linea, grinder Mahlkonig dan printilan alat seduh lainnya. Karena apalah arti hiasan jika nikmat kopinya hanya kiasan, ya kan?

Untuk arek Suroboyo yang belum pernah mampir ke sini jangan ditunda lagi. Sila mampir!

Titik Coffee Coffee

Jalan Juwono No.25, Darmo, Wonokromo, Kota Surabaya,

Jawa Timur 60241

 

Mustika Treisna Yuliandri

A girl who lives among words, world and wow-ness. A coffee-shop traveler and social media entusiast.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.