UDA ESPRESSO: SEBUAH KEJUTAN DI PAYAKUMBUH

Kedai kopi ini hadir sebagai ketakjuban di saat saya –sejujurnya – tidak berekspektasi apa-apa tentang kota yang berada di jalur perlintasan Sumatera ini.

NAMA Uda Espresso muncul beberapa kali dalam percakapan saat kami, Tim Otten Coffee, dan Wilma sedang dalam perjalanan menuju Payakumbuh. Yang menyebutkan adalah Wilma tentu saja. Sebagai seorang asli Minang yang sudah begitu fasih dengan hampir seluruh sudut di Sumatera Barat sepertinya rekomendasi Wilma layak dipercayai. Menurutnya, kota Payakumbuh yang notabene merupakan penghubung antara Padang dan Pekanbaru sekaligus bagian dari jalur lintas tengah Sumatera kini telah bertumbuh dengan menakjubkan. Salah satu tolok ukur pertumbuhan itu ditandai dengan semakin banyaknya kedai-kedai kopi (modern) yang bermunculan. “Saya sampai iri,” katanya. “Padahal Payakumbuh hanya kota lintas, bukan kota Kabupaten.” Ia menyebut Batusangkar, pusat pemerintahan Kabupaten Tanah Datar, domisilinya saat ini sebagai perbandingan. Tidak ada banyak kedai kopi di Batusangkar—dibandingkan dengan Payakumbuh.

Maka ketika tiba di kedai Uda Espresso saat menjelang sore, perkataan Wilma terbukti. Sebuah warung yang terbuka, berkonsep setengah outdoor, dan berdekorasi natural menyambut kedatangan kami. Saat itu warung ini baru terisi seperempatnya. (“Uda Espresso umumnya semakin ramai saat menjelang malam,” kata Wilma lagi. Kembali, perkataannya terbukti saat kami singgah lagi ke kedai ini sebentar saat malam hari. Kedai ini tampak penuh, dari depan dan mungkin hingga paling belakang).

Cukup ramai meski kedainya baru saja buka.
Semakin sore semakin ramai.

Uda Espresso memiliki 2 bar. Satu bar utama berukuran cukup besar, tempat memesan makanan (berat), camilan, dan minuman-minuman cantik berada di bagian depan. Satu lagi, bar khusus manual brew dan espresso yang lebih kecil di bagian belakang. Menarik ketika menemui kopi-kopi single origin lokal dijejerkan di sana sebagai pilihan menu manual brew. Nah. Akhirnya saya ketemu juga kedai kopi di daerah yang menyajikan ciri khas daerahnya sebagai daftar, bukan melulu kopi Ethiopia yang itu lagi-itu lagi. Lol.

Single origin Minang Solok tanpa diragukan lagi mendominasi barisan pilihan kopi di atas meja bar. Namun ada satu yang menarik perhatian saya, kopi Situjuah honey process. Ini kopi darimana? Maka saya memilih single origin ini untuk diseduh dengan Chemex. (Belakangan saya tahu bahwa kopi ini berasal dari areal perkebunan dekat Gunung Sago, Situjuah Lima Nagari, Payakumbuh). Sementara Tika memilih ca phe sua nong, alias kopi susu khas Vietnam yang diseduh dengan Vietnam drip.

Bar utama, di bagian depan.
Uda Mail di belakang bar khusus manual brew/espresso, di bagian belakang.
Pilihan kopi-kopi lokalnya cukup banyak.

 

Uda Mail, sang pemilik kedai tampaknya segera mengenali bahwa kami adalah Tim dari Otten Coffee—padahal kami hanya duduk santai dan berlaku biasa saja. Ia menghampiri dengan ramah, dan segera bergabung dengan meja kami. “Gambar di bajunya sering liat di Instagram Otten Coffee,” katanya sambil menunjuk siluet karakter Winter Soldier di kaos saya. Haha. Yah, karena pemiliknya sudah di sini maka sekalian saja kami mengobrol banyak.

Seperti kebanyakan kedai kopi yang kami datangi di Payakumbuh—pada saat itu—Uda Espresso pun tidak mengandalkan mesin canggih nan mewah untuk membuat kopi. Hanya Rok Presso tok, dan seperangkat alat manual brew. Tapi toh kedainya ramai-ramai saja. Menurut uda Mail, kedai ini umumnya menyajikan setidaknya 100 cangkir espresso setiap hari. Jumlah itu sudah meliputi berbagai kebutuhan untuk espresso maupun espresso-based seperti cappuccino, latte, dan lainnya. Dan – ini yang paling penting – semuanya dibuat hanya dengan mengandalkan Rok Presso tadi. Hebat.

Tapi Rok Presso tetaplah Rok Presso. Melayani kebutuhan minimal 100 cangkir sehari ibaratnya memaksakan mesin espresso otomatis kelas rumahan untuk kebutuhan retail. Alatnya gempor. Dan kedai ini pun sudah 6 kali ganti Rok Presso dalam dua tahun. Rok Presso, ya. Bukan spareparts-nya. “Kenapa tidak memakai mesin (espresso) saja?” tanya saya. Enam kali ganti Rok, tambah sedikit lagi, menurut saya sudah bisa membeli satu mesin. Besarnya biaya produksi yang akan dikeluarkan adalah pertimbangan utama uda Mail. “Kalau pakai mesin, biasanya listrik yang akan dipakai juga semakin besar. Tambahan biaya juga akan semakin banyak. Sementara menu-menu yang dijual di sini tidak mahal, 1 cup espresso saja cuma dijual 10 ribu,” jawab uda Mail yang akhirnya membuat saya mengerti. Payakumbuh, bagaimana pun adalah sebuah kota yang belum menjadi metropolitan. Taraf hidupnya tidak bisa disamakan dengan keadaan di kota-kota besar yang penduduknya mungkin akan maklum jika menemui espresso dibandrol 30 ribu Rupiah.

Pajangan berisi sebagian Rok Presso yang telah dipensiunkan.
Mencoba manual brew di kota perlintasan? Bisa!
Vietnam drip yang ternyata mereka beli dari Otten Coffee. Haha. Terimakasih!

Tapi meski demikian, kedai ini memiliki sebuah mesin roasting bersahaja berkapasitas maksimal 1 kg yang disimpan dalam ruang kaca khusus dalam kedai. Itu menambahi satu lagi ketakjuban saya akan kedai ini. Betapa ‘spesialtinya’.

Secara keseluruhan, kedai kopi ini adalah jawaban bagi kalian yang mungkin mencari kedai kopi yang layak dikunjungi di Payakumbuh. Menemui kopi-kopi lokal yang ajaibnya “berani” diseduh manual (dan bukan kopi instan!) di daerah jalur lintas benar-benar sebuah kejutan. Apalagi harganya pun tergolong murah dan tak membuat kantong bolong.

 

 Uda Espresso

Jl. Soekarno Hatta no. 120, Payakumbuh – Sumatera Barat

Jam buka: 13.00 – 24.00

 

 

 

5,688 total views, 7 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.