WAWANCARA SASA SESTIC BAGIAN 1 – TENTANG KEBERHASILANNYA DI WBC 2015 DAN CERITA DIBALIKNYA

Wawancara ini merupakan bagian pertama dari tiga bagian. Di bagian pertama ini Sasa menceritakan tentang World Barista Championship 2015, mengapa ia bisa memenangkan kompetisi prestisius tersebut, dan juga tentang film dokumenternya, The Coffee Man.

KEMENANGAN Sasa Sestic di kejuaraan barista paling bergengsi di dunia bisa saja telah berlalu dua tahun, namun gaungnya masih terdengar segar hingga saat ini. Sosoknya sendiri terbilang menarik: ia merupakan keturunan Serbia, bekas atlet handball Olimpiade dan sebetulnya tidak terlalu dijagokan pada turnamen WBC. Jordan Michelman dari Sprudge bahkan pernah terang-terangan mengakui bahwa ia bertaruh untuk Ben Put dari Kanada pada awalnya.

Keunggulan Sasa Sestic bukan hanya menjadikannya sebagai orang Australia kedua dalam sejarah yang memenangkan World Barista Champion, namun juga pemenang pertama dari benua itu setelah lebih dari satu dekade—setelah Paul Basset pada 2003. Simak wawancara khusus kami dengan Sasa Sestic, sang Juara kelahiran 24 Oktober 1978 berikut ini.

 

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih dulu karena telah bersedia meladeni permintaan wawancara saya di tengah jadwal Anda yang terlihat semakin sibuk. Bisa ceritakan bagaimana perkenalan pertama Anda dengan kopi, mengingat dulu Anda justru seorang atlet Olimpiade.

(Di surel terpisah Sasa mengungkapkan bahwa ia sangat menyukai wawancara karena ia senang menjawab pertanyaan).  Dulu ketika masih bermain handball, rencana awal saya adalah tetap melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hospitalitas ketika pensiun. Karena saya pikir, saya terlahir dengan (keinginan) itu dan akan selalu memiliki gairah dalam bidang itu—untuk berinteraksi dengan banyak orang dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan keramah-tamahan.

Ketika masih kecil saya bercita-cita untuk membuka sebuah restoran pizza. Tinggal di Pula (sebuah kota besar di wilayah Istria, Kroasia) yang sangat dekat dengan Italia membuat budaya ramah-tamah itu melekat kepada diri saya. Tapi pindah ke Australia dan menjadi atlet handball selama bertahun-tahun membuat saya jadi berpikir ulang, apakah saya harus tetap melanjutkan karir professional di Eropa, atau berhenti, pensiun dini, dan berkonsentrasi untuk mengerjakan hal yang lain.

Ketika berumur 24 tahun, setelah tamat kuliah dari jurusan perhotelan, saya memutuskan untuk akhirnya berhenti jadi atlet dan lebih memilih mengembangkan karir di bidang perhotelan. Saya sudah mencoba berbagai pekerjaan di industri hospitalitas, tapi ketika pertama kali bersentuhan dengan mesin espresso, saya langsung tahu bahwa di sanalah gairah saya sebenarnya berada.

Rasanya seperti mendapat energi baru yang menyenangkan, terutama pada saat membuat kopi pertama saya. Mengukir lukisan pada minuman yang di saat bersamaan bisa berinteraksi dengan banyak orang, menurut saya itu sangat menarik.

Saya adalah jenis orang yang mencintai proses kreatif: menciptakan sesuatu dan mendapat pengalaman dengan tangan saya sendiri. Membagi pengalaman tersebut kepada banyak orang lalu melihat reaksi mereka terhadap apa yang saya ciptakan—apakah senang atau tidak, itu benar-benar pekerjaan yang sempurna—pekerjaan sebagai barista benar-benar sangat sempurna untuk saya.

Saya juga selalu suka masak tapi saya tak bisa membayangkan harus berada di dapur dan tak bisa melihat wajah orang-orang dan melihat bagaimana mereka bereaksi terhadap masakan saya. Menjadi barista, membuat kopi, memutuskan apa yang harus kita lakukan terhadap kopi lalu melihat reaksi mereka ketika menikmatinya, itu adalah sebuah pengalaman tak ternilai bagi saya. Jadi, sejak saat itu saya tidak pernah lagi melihat ke belakang dan terus masuk lebih dalam pada dunia kopi sejak 2003.

 

Di sebuah artikel saya membaca bahwa total jumlah latihan Anda untuk WBC 2015 adalah sebanyak 500 jam, jumlah yang fantastis untuk sebuah kerja keras. Tapi secara khusus, apa yang Anda siapkan untuk menghadapi turnamen kelas dunia itu?

Ketika saya menjawab bahwa jumlah total latihan saya adalah 500 jam, mungkin sebagian orang menganggapnya kalkulasi yang sangat banyak. Tapi bagi saya, maksud sebenarnya bukan hanya sekadar 500 jam, tapi juga 7 tahun berkompetisi. Semua pengalaman itulah yang telah membantu saya mendapatkan apa yang telah saya dapatkan. Jadi jumlah sebetulnya adalah 7 tahun proses belajar, untuk mengetahui bagaimana menjadi barista yang baik dan bagaimana berinteraksi dengan para pelanggan di kedai kopi saya, sebaik yang saya mampu.

Anda tahu, saya juga merupakan seorang roaster selama 5 tahun. Saya menghabiskan waktu 5 tahun itu untuk menyangrai kopi. Setelahnya saya menjadi green bean coffee buyer sejak 2011 – hal itu kemudian mendorong saya untuk terus bereksperimen pada perkebunan kopi, beserta hal-hal kecil seperti letak ketinggiannya. Saya bahkan memiliki kebun kopi sendiri supaya bisa semakin memahami kompleksitas dari biji kopi sebaik mungkin.

Jadi 500 jam itu hanya seperti lapisan terakhir dari semua hal yang telah saya kerjakan di masa lalu. Angka 500 jam itu juga merupakan waktu efisien yang kita pakai, bukan hanya jumlah waktu yang kita habiskan. Saya beruntung memiliki tim yang terdiri dari orang-orang hebat di sekeliling saya. Mereka menghabiskan banyak sekali waktu dan jam-jam yang tak terhitung untuk melatih saya. Katakanlah seperti Hide (Hidenori Izaki yang merupakan Juara WBC 2014) yang selalu memikirkan cara agar saya tampil lebih baik, ia jugalah yang senantiasa berusaha untuk mengeluarkan semua sisi terbaik dari diri saya.

sasa.jpg
Sasa dan mentornya, Hide, pasca kemenangannya di WBC 2015.

Lalu Kelly (Hugh Kelly), roaster saya Sam (Sam Corra) dan produser saya John Gordon. Orang-orang hebat inilah yang telah membantu menjadikan saya seperti yang terlihat di panggung (WBC). Kemenangan itu adalah hasil usaha bersama, dengan orang-orang yang berada di dalam tim. Saya tidak melakukan usaha ekstra keras ini hanya semata-mata karena ingin memang saja.

Selama perjalanan dalam dunia kopi, saya pun bertemu dengan banyak teman-teman luar biasa dan memiliki koneksi dimana saya belajar begitu banyak. Disiplin dalam latihan untuk mencapai tujuan adalah faktor yang membuat saya semakin kuat. Saya juga berharap bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, yang merupakan hal sangat penting dalam industri ini. Dengan menjadi orang yang baik, maka kita bisa menjadi contoh yang baik pula.

 

Bersedia membagikan rahasia dan persiapan khusus yang telah Anda lakukan (bersama tim) kepada kami?  Siapa tahu para barista di Indonesia yang ingin mengikuti kompetisi serupa bisa mendapatkan inspirasi dari Anda.

Menurut saya, siapa pun yang ingin berkompetisi atau mungkin telah berkompetisi selama 3 sampai 4 tahun tapi belum terlalu berhasil, yang bisa saya rekomendasikan adalah dengan mulai menanyakan hal ini kepada diri Anda sendiri: kenapa Anda suka kopi? Itu pertanyaan penting.

Masing-masing dari kita punya alasan sendiri mengapa kita suka kopi. Barangkali ada menyukainya karena (suka) melayani pelanggan, mungkin ada yang karena suka berkebun kopi, ada yang suka menyangrai kopi, dan sebagainya. Teruslah menanyakan itu kepada diri Anda, dan terus gali itu agar Anda bisa menemukan dimana sebenarnya gairah Anda berada, apa yang membuat Anda click dengan kopi dan yang membuat Anda bahagia. Jika sudah Anda temukan, eksplor itu.

Eksplor bagian itu secara mendalam, terutama sisi-sisi yang belum pernah dieksplor sebelumnya. Hubungkan diri Anda dengan orang-orang yang bisa menggali saripati dirimu sampai maksimal. Ini juga salah satu cara untuk mengembangkan tim inti yang bisa membuat Anda menikmati sebuah kompetisi.

Ketika Anda melakukan sesuatu yang Anda cintai, Anda akan tahu secara pasti kenapa Anda melakukannya. Yaitu untuk meningkatkan pengetahuan, gairah dan profesionalisme Anda sebagai barista lebih dalam lagi.

Ketika tahu apa yang menjadi inti gairah Anda, sebetulnya sudah tidak sulit lagi untuk menjalani serangkaian latihan demi latihan demi menghadapi kompetisi barista. Sebaliknya, proses latihan menjadi menyenangkan, karena kita seperti melakukan riset dan menemukan pengalaman baru. Penghargaan adalah bonusnya.

Sasa-2015-WBC-Presentation---in-front-of-coffee-machine
Sasa saat melakukan presentasi pada WBC 2015

Anda tahu, para juri ada di sana bukan karena mereka mencintai kopi, tapi karena mereka ingin terkoneksi (dengan para partisipan), mereka ingin melihat sesuatu yang baru, sesuatu yang sangat menarik, dan mereka ingin merasakan hal-hal luar biasa. Saya pikir, sangat menakjubkan untuk melihat kompetisi barista yang seperti itu.

Jangan lihat seolah-olah kompetisi itu adalah hal yang menakutkan, atau sesuatu yang memaksa Anda untuk bekerja keras sehingga membuat Anda berpikir “Saya harus latihan dengan sangat keras”. Seharusnya kompetisi itu adalah bagian yang paling menyenangkan dalam hidup Anda. Sekarang saat sudah tidak lagi berkompetisi, saya justru sangat merindukan hal-hal itu.

Kesimpulannya, saya sangat bersyukur karena bisa berkompetisi selama yang saya mampu, yaitu selama 7 tahun. Tidak banyak barista yang melakukannya selama bertahun-tahun dan itu pun sebetulnya tidak cukup. Menurut saya, kita seharusnya berkompetisi setidaknya minimal 5, 6, 7 tahun untuk terus melatih dan membantu kita semakin professional dan mengerti kopi lebih baik lagi.

 

Tentang film dokumenter Anda, The Coffee Man. Apa sebetulnya sasaran dan tujuan yang ingin dicapai melalui film ini?

Tujuannya, jadi ide awalnya—sebetulnya itu bukan ide saya sepenuhnya. Semuanya berawal ketika teman baik saya, Mick Rose, berpikir bahwa saya seharusnya bertemu dengan beberapa pembuat film yang merekam seluruh pekerjaan dan perjalanan saya dalam industri kopi. Ini pula merupakan salah satu cara untuk memberi tahu para pelanggan kami, juga para penggemar ONA dan Project Origin apa yang saya kerjakan di kebun kopi dan bagaimana sebuah rantai kopi spesialti bermula.

Kami mulai merekam dokumentasi itu di tahun 2014. Projek film itu mengharuskan skenarionya mengikuti perjalanan saya ke berbagai kebun kopi, termasuk ke negara-negara penghasil kopi berbeda, kebudayaannya, jenis-jenis kopi yang dihasilkannya, dan pendapat saya terhadap para pelaku pertanian kopi di daerah tersebut.

Beberapa bulan setelah perjalanan saya dari Ethiopia, saya tahu bahwa sejatinya saya bukan hanya seorang coffee buyer tapi juga seorang barista. Ada kompetisi barista yang sebentar lagi digelar di depan mata (yang para pembuat film itu belum tahu pada awalnya) sehingga mereka pun mengikuti perjalanan saya selama kompetisi itu. Bukan semata-mata hanya untuk merekam kompetisi yang saya ikuti, tapi karena mereka pikir mungkin mereka bisa menggunakan bagian itu dalam dokumenter yang sedang dikerjakan untuk ditunjukkan kepada para petani nanti.

Saya tidak ingin membuat film yang hanya bercerita tentang saya, tapi film ini (justru) menceritakan semua hal tentang saya—tentang hidup dan kehidupan kopi saya. Saya tidak menginginkan itu. Yang saya inginkan adalah sebuah film tentang para petani kopi, karena di mata saya, merekalah pahlawan yang sebenarnya.

Jadi setelah memenangkan Australian Barista Championship, mereka –para pembuat film– memutuskan untuk mengikuti saya ke Seattle dan merekam kegiatan itu. Pada akhirnya saya menang World Barista Champioship dan tidak ada satu pun dari bagian film ini yang direncanakan. Jadi ketika mereka mengilas balik, mereka melihat bahwa mereka telah membuat sebuah film gila ini, yaitu tentang seorang pria yang pada sebuah kesempatan ia berada bersama para petani, mengobrol dengan mereka, mengembangkan kopi, membangun hubungan baik dengan mereka. Pria yang sama ini pula berkompetisi lalu memenangkan World Barista Champioship.

Jadi mereka membuat film tentang saya, dan saya kira kami menganggapnya adalah cerita yang bagus. Cerita yang perlu dibagikan, cerita yang bukan hanya mengangkat tentang semua yang baik-baik saja, tapi juga segala pasang surut dalam hidup saya. Sebelum mendapatkan pencapaian seperti sekarang, sangat menarik melihat latar belakang bagaimana saya mencapai semua itu.

Jadi seperti itulah The Coffee Man bermula. Itu adalah sebuah film fitur dokumenter yang segala kontennya sama sekali tidak direncanakan. Kami tidak merencanakan skenario tertentu sebagai tujuan akhirnya, tapi saya kira semua orang (yang menontonnya) akan tahu apa tujuan film ini, dan bercerita tentang apa film ini.

 

Untuk kisah berikutnya, nantikan wawancara Otten Coffee dengan Sasa Sestic di Bagian Kedua.

Semua foto merupakan dokumentasi pribadi Sasa Sestic yang ia kirimkan khusus kepada Otten Coffee.

 

barista-tools

242 total views, 6 views today

Yulin Masdakaty

Tukang nulis yang menyukai animasi, film-film pahlawan super, dan jalan-jalan—sambil minum kopi.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.