People

WILLIE SEMBIRING: COFFEE LOCAL HERO

willie-sembiring


Petani kopi yang kemudian menjadi penyuluh pertanian dan kini sedang berkonsentrasi penuh dalam bidang itu.

PENAMPILANNYA seperti Bob Marley dan tidak terlihat meyakinkan untuk potongan seorang petani. Tapi ketika melakukan perjalanan single origin ke Tanah Karo beberapa waktu lalu, bang Willie termasuk sosok yang cukup disegani oleh barista yang berpartisipasi saat itu dan juga beberapa petani lokal di sana. Bukan karena penampilannya yang sangat reggae—ia juga sama sekali tidak mengisap cannabis tapi menyesap kopi yang dihasilkan dari kebun miliknya sendiri—tapi menurut saya karena apa yang ia telah kerjakan.

Ketika ia memberi semacam penyuluhan singkat tentang tanaman kopi kepada peserta single origin trip lalu, saya tahu bahwa saya perlu mewawancarainya suatu saat nanti. Segala kesan remeh yang barangkali menghinggapinya ketika pertama bertemu seketika runtuh begitu ia membuka suara. Di antara pepohonan kopi, ia menjelaskan dengan detail genus Coffea seperti seorang insinyur pertanian yang ahli. Mungkin sedikit wajar karena ayahnya toh seorang insinyur pensiunan PT. PP London Sumatera Indonesia. “Skripsi beliau (tentang budidaya kopi) menjadi acuanku,” jelasnya.

Ketika itu saya mengundangnya untuk ngopi di Otten. “Sekadar ngobrol-ngobrol sambil ngopi,” ajak saya karena wawancara akan terdengar terlalu formal untuknya. Ternyata ia ketagihan datang berkali-kali. Lol.

will-s

“Sejak kapan sih abang menekuni industri kopi?” pertanyaan pertama saya waktu itu. “Sebenarnya sejak 6 tahun lalu, dek,” jawabnya dengan aksen Karo yang kental. “Karena saran dari orangtua. Kopi itu bagi mereka ikat pinggang hidup. Istilahnya, kopi adalah komoditas yang bisa menjamin hidup. Kan itu komoditas ekspor dan bukan seperti tanaman hortikultura yang gampang busuk. Seberantakan apapun tanaman kopi itu, ia pasti berbuah.”

Di masa lalu, bang Willie pernah berternak sapi dan memiliki peternakan yang cukup besar. Kotoran ternak itu kemudian ia jual menjadi pupuk (kompos). Orangtuanya kemudian memberikannya gagasan, jika menjual pupuk hanya bisa memberikannya paling banyak Rp. 10.000 per karung, lebih baik pupuk itu diaplikasikan ke pohon kopi dan ia bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp. 100.000 per karung darinya. Sebetulnya itu adalah pernyataan lain untuk menyuruhnya berbudidaya kopi.

Namun sekitar 3 tahun lalu harga kopi sempat terjun ke level Rp. 14.000 per kg (untuk gabah). “Aku udah kayak pengin tebangin aja tuh pohon, nggak ada gunanya. Karena rugi kan kalau 14 ribu. Tapi orang tua saya bilang jangan ditebang. Kalau nggak mau dipetik, biarkan saja. Trus sempat vakum selama setahun, kok ya mulai ada interest untuk menanam kopi. Mulai antusias dan tertarik. Lalu aku main ke Jakarta. Kebetulan pengusaha-pengusaha (kedai) kopi di sana seperti Coffeewar, Tanamera Coffee, Kopikina, semuanya itu teman-teman waktu kuliah dulu (ketika di Akpar NHI Bandung). Sampai mereka akhirnya bilang, kalo lu punya kopi di Tanah Karo sini gue jualin. Gitu awalnya.”

dscf6230

Kunjungannya ke Jakarta itu ternyata menghasilkan dampak berkelanjutan yang tak sedikit. Ia mulai mengusahakan kopinya dengan semangat dan lebih bergairah. Dr. Jeff Neilson dari Sydney University, seorang ahli kopi asal Australia yang pernah menjadi pembicara di kegiatan Indonesian International Coffee Symposium tahun 2014 silam, pernah mengunjungi kediaman dan kebun kopinya secara personal.

Perkebunan kopi bang Willie berada di desa Ajijahe, kecamatan Tigapanah di Tanah Karo. Kopi-kopi yang ia jual dinamai dengan label ini, Kopi Ajijahe, yang konon menjadi salah satu favorit banyak kedai kopi di kota besar. Sedari awal Kopi Ajijahe ini tidak dijual untuk tujuan komersil atau dalam skala ekspor. Prosesnya dikerjakan dengan keinginan seperti menggarap karya seni, menjadikan produksi kopi ini terbatas dan tergolong micro-lot. (Belakangan permintaan akan kopi ini datang dari berbagai negara seperti Amerika, Inggris, Jerman dan Afrika Selatan).

Kunjungan Dr. Jeff mendapat hype. Anak-anak—demikian bang Willie menamai anggota dalam managemennya—mendokumentasikan kunjungan Dr. Jeff ke media sosial. Postingan itu dilihat oleh beberapa pihak dari Dinas pemerintahan yang ujungnya, pada medio 2015 lalu, ia diberikan undangan khusus oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). Undangan itu resmi di bawah naungan Dinas Pertanian. Kegiatan dimana ia diundang adalah perkumpulan para petani kopi sekaligus deklarasi pembentukan Asosiasi Kopi Tanah Karo (AKTK).

Deklarasi AKTK yang bertepatan dengan Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 itu cukup penting karena dihadiri oleh banyak pejabat pemerintahan Kabupaten Tanah Karo dan diliput oleh beberapa media nasional. Pada kegiatan itu pula bang Willie dipilih menjadi Ketua Asosiasi dengan meraih suara terbanyak dari para petani kopi—meskipun menurutnya ia lebih suka menjadi praktisi daripada Ketua.

dscf8599

Terpilih menjadi Ketua tentu saja membuatnya merasa bertanggung jawab. Sejak awal, ia meminta agar apapun Badan yang menaungi Asosiasi Kopi itu segera memperkuat bagian penelitian dan perkembangannya. Dengan kata lain, alih-alih melakukan promosi berlebihan, lebih baik mereka memperbaiki kualitas kopi yang akan mereka promosikan nantinya.

Seiring waktu berjalan bang Willie merasa ada yang ganjil dari pembentukan AKTK tempo lalu, kegiatan itu menurutnya ternyata memiliki agenda terselubung. “Aku nggak ngerti politik, ya. Aku ikut Asosiasi ini mikirnya sebenernya lurus-lurus aja. Tapi rupanya (asosiasi) itu dibentuk saat menjelang Pilkada (Tanah Karo) 2015. Setelah pemilihan Ketua Asosiasi Kopi Tanah Karo kemarin, itu kayak udah disetir sama mereka. Setelah mereka deklarasikan (asosiasi itu), lalu mereka minta suara (dari para petani yang jumlahnya terhitung cukup banyak). Kan t**k kucing gitu!” Ia terlihat kesal. Ekspresi wajahnya dongkol.

Padahal ia mengikuti agenda itu dengan tulus. Selama menjabat Ketua, bang Willie selalu menolak komisi, uang jalan, atau uang apapun yang coba dititipkan kepadanya dengan dalih sumbangan. Ia lebih memilih jalur sosialiasi. Mengumpulkan para petani kopi di berbagai desa di daerah Tanah Karo untuk diberikan penyuluhan dan sebagainya. Dalam asosiasi itu, ia juga menjalin kerjasama dengan beberapa institusi seperti Bank, perkreditan rakyat dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka). Ia memberi edukasi kepada para petani desa tentang keuntungan menabung, menghimbau agar mereka berbisnis dengan menggunakan transaksi bank dan tidak tunai lagi.

Pada akhirnya asosiasi itu berkembang dan membesar. Jika dulu harga gabah jeblok, setidaknya sampai akhir tahun lalu harganya telah mencapai Rp. 28.000 per kg. Itu keberhasilan yang cukup jelas selama masa kepemimpinannya yang bahkan belum mencapai satu tahun karena sekitar awal tahun 2016 lalu, ia mengundurkan diri dari jabatannya. “Mungkin aku nggak bisa ada diantara mereka, jadi aku resign baik-baik. Aku resign karena melihat temen-temen dan adik-adik di Asosiasi itu sudah tidak seidealis seperti di awal. Jadi lebih baik resign saja daripada aku kayak dikudeta. Soalnya di sana duitnya banyak sekali lho, dek!

Saya penasaran, duit darimana? “Kementerian,” jawabnya. “Tanah Karo ini kan lagi dilanda bencana erupsi Sinabung (yang nggak selesai-selesai). Jadi ada dana relokasi untuk petani karena sebagian besar pengungsi di Tanah Karo itu kerjaannya petani. Mereka kan harus direlokasi agar bisa bertani kembali. Bibitnya—bibit-bibit kopi—kan harus disiapin. Kemarin proyeknya adalah 2 juta bibit kopi, ya, kalikan saja dengan Rp. 3.000. Sudah 6 milyar. Mereka mau bibitnya yang gimana, tapi aku bilang bibitnya harus ambil dari balai. Tersertifikasi. Jadi bukan sembarang bibit. Lalu yang mengelola bibit di bagian plant nursery harusnya para pengungsi petani tadi yang diberdayakan. Lha ini mau mereka sendiri yang mengerjakan. Ini job-nya buat gue ye, gue nanam sejuta. Gitu misalnya. Kan t**k kucing gitu manusia!” Ia menjawab menggebu-gebu. Nadanya meninggi menunjukkan amarah yang dipendam sekian lama.

willie-s

Karena merasa tidak tepat berada di lingkaran demikianlah ia merasa perlu melepaskan diri. Meski awalnya tidak lepas secara penuh, ia sempat menjadi Pembina Asosiasi untuk sekadar mengamati pergerakan asosiasi itu dan mengetahui informasi tentang perputaran kopi di Tanah Karo. Tapi hasilnya sama saja. “Akhirnya aku mengundurkan diri juga jadi Pembina dan mulai berusaha secara independen saja. Susah kita mengatakan hal yang benar di tengah kebohongan. Satu yang benar tapi dikelilingi sama yang tidak benar, susah. Jadi ya mending seperti ini. Gue nggak jadi bayang-bayang elu,” katanya.

Saat ini bang Willie telah membentuk “Asosiasi” independen bernama Karonian Coffee yang menaungi beberapa petani kopi lokal. Sejauh ini ada 5 petani lokal yang bergabung dengan asosiasi ini dan jumlahnya masih akan bertambah. Ketika wawancara ini dilakukan, mereka sedang mengerjakan sebuah website khusus (untuk Karonian Coffee) agar nantinya para petani lokal itu bisa menjual hasil komoditas mereka dalam satu portal. “Tapi aku juga sadar sekarang kekuatanku cuma segitu, jadi aku nyambi. Misalnya kayak kemaren aku ke Bali, kopinya sekalian aku bawa—untuk diperkenalkan,” bang Willie menambahi.

Membentuk “asosiasi independen” justru memberinya kesempatan lebih lebar untuk bisa bergerak lebih leluasa dan terbuka. Saat ini seorang investor dari luar Tanah Karo memintanya untuk memberikan penyuluhan pertanian kepada para petani kopi di daerah Tapanuli Utara. Belakangan ia semakin sibuk bolak-balik ke daerah ini dan masuk ke desa-desa yang tidak terlalu mendapat perhatian. Karena ia merasa itulah panggilan pribadinya: menyuluh petani-petani di daerah terpencil.

dscf8627

Kenapa harus petani? Saya masih penasaran. “Karena enaknya (keuntungan bisnis kopi) itu cuma di atas meja kita, dek. Tapi di atas meja petaninya belum tentu enak. Aku hanya mau membuka pola pikirnya para petani itu karena di Indonesia (menjadi) petani itu pride-nya udah nggak ada lagi. Elu kalau punya usaha dan bisnis kopi, kalo ada waktu luang, tinjaulah petaninya langsung. Kasih masukan. Karena mereka pada dasarnya nggak tau. Harapanku, hidup petani itu juga bisa bahagia. Petani bisa sekolahin anaknya, bisa bayar BPJS-nya sendiri. Dan mereka berdaulat. Karena sekarang jamannya bukan cuma kedaulatan perut aja yang dicari, dek. Tapi kedaulatan kepala.” Ia mengakhiri obrolan sambil menyeruput sisa kopi dari cangkirnya.

 

Wawancara dilakukan dalam dua sesi. Semua foto adalah courtesy dari Otten Coffee.

cari-kopi

12,808 total views, 2 views today

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply
    Barayacoffee
    December 28, 2016 at 6:11 pm

    Selalu sehat untuk abang,petani sehat,kuat dan cerdas

  • Reply
    Huda
    December 29, 2016 at 1:38 pm

    Menginspirasi sekali bang Willie ini. Saya jadi tertarik untuk menanam kopi di kampung halaman saya. Terimakasih untuk abang, karena orang tua saya juga petani, jadi sedikit banyak saya paham penderitaan petani kita. Semoga sehat selalu dan makin banyak penyuluhan yang bisa dilakukan ya bang Willie.

  • Reply
    arifan sapto
    December 30, 2016 at 10:29 am

    Setelah membaca artikel ini saya merasa malu, saya seorang sarjana muda pertanian yang kurang peduli terhadap pertanian di negeri ini, padahal orang tua saya sendiri adalah petani kopi, tapi kenapa saya malah memilih kerja di caffe, padahal sebelumnya ada peluang kerja di dinas b4k sebagai penyuluh petani. Terimakasih bang willie telah menginspirasi, saya niatkan untuk melanjutkan studi saya sampai sarjana pertanian, dan semoga nanti ada jalan untuk membantu para petani di negeri ini terutama petani kopi.

  • Reply
    Ega Suginta
    January 4, 2017 at 1:19 pm

    Miris memang ngeliat petani kopi yg mungkin selama ini hanya menjual ke pengepul dengan harga yang sangat murah dan gak sebanding dengan harga secangkir kopi yang udah tersaji di cafe cafe seperti sekarang ini.

  • Leave a Reply